Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

“Ayah Janji Mau Jagain Kita... Kenapa Ayah Pergi...”

Azwar Halim • Selasa, 2 Januari 2018 | 12:20 WIB
ayah-janji-mau-jagain-kita-kenapa-ayah-pergi
ayah-janji-mau-jagain-kita-kenapa-ayah-pergi

Kabar kecelakaan yang menimpa sang anak, membuat Sumirno salah seorang korban meninggal pada insiden terbaliknya speedboat Anugrah Ekspress, mempercepat kepulangannya ke Tarakan kemarin (1/1). Namun takdir berkata lain, Sumirno dan sang cucu Arjuna lebih dulu dipanggil Allah SWT, sebelum menunaikan niatnya untuk bertemu dengan sang anak yang dirawat di RSUD Tarakan. 


Mega Retno Wulandari


Pembukaan awal 2018 menjadi hari yang memilukan bagi keluarga almarhum Sumirno. Di hari yang bersamaan musibah mendera keluarga ini. Di mana sang kepala keluarga dan sang cucu, harus menghadap sang Maha Pencipta. Sumirno (50) dan Arjuna yang berumur 20 bulan meninggal pada tragedi terbaliknya speedboat  Anugrah Ekspress tujuan Tanjung Selor-Tarakan pukul 08.15 wita di sungai Kayan.Usai dievakuasi dan dinyatakan meninggal, keduanya langsung dibawa menuju Tarakan untuk dimakamkan.


Rumah duka yang berada di Jalan Kenanga, RT 35, Karang Anyar, terlihat ramai didatangi sanak keluarga dan kerabat dekat. Suasana rumah duka dipenuhi isak tangis, yang tidak menyangka akan kejadian yang begitu cepat memanggil Sumirno dan Arjuna.


Di sela-sela menunggu kedatangan jenazah, salah seorang kakak kandung Sumirno, Harti menceritakan sebelumnya Suwirno memang berada di Tanjung Selor untuk liburan di rumah mertuanya di Jalan Jelarai, Tanjung Selor.


Suwirno tak berangkat sendirian. Dia bersama istri, anak dan cucunya. Awalnya memang tidak ada rencana pulang di awal tahun. Namun Suwirno mendapatkan kabar anak keduanya, mengalami kecelakaan kemarin subuh. Mendengar kabar itu, sontak Suwirno dan keluarganya bergegas pulang ke Tarakan dengan menumpangi speedboat pertama di hari itu. “Awalnya adik saya itu tidak mau pulang hari ini (kemarin). Tetapi tadi subuh anaknya ditabrak angkutan kota (angkot) saat akan pergi bekerja di Bandara Juwata Tarakan. Jadi mereka langsung pulang ke Tarakan. Karena kondisi keponakan saya juga cukup parah,” tutur Harti kepada Radar Tarakan.


Awalnya dia tidak menyangka, anggota keluarganya menjadi korban dari speedboat nahas itu. Harti mengetahui kabar kecelakaan ini berawal dari media sosial (medsos), mendadak saat itu hatinya mulai gelisah. Dia berusaha menenangkan pikirannya.


Bak disambar petir, Harti kemudian melihat daftar manifes yang tersebar, ada tertera nama sang adik Suwirno, Siti Rahayu, Fitriani dan Arjuna yang merupakan anggota keluarganya. Perasaannya semakin kacau, air matanya mengalir tak terbendung. Dia hanya bisa menunggu kabar dari keluarga yang berada di Tanjung Selor.


“Kami hanya bisa berdoa semoga semua selamat. Tapi Allah SWT berkehendak lain. Allah SWT lebih saya adik dan cucu saya,” ungkap Harti dengan mata berkaca-kaca.


Lebih lanjut Harti menceritakan, sebelum berangkat ke Tanjung Selor. Adik iparnya Siti Rahayu yang menjadi korban selamat memang sudah, berpamitan kepadanya. Saat itu dia pun tidak mengetahui jika adik, keponakan dan cucunya ternyata juga ikut. “Semua ini begitu mendadak dan kami tidak menyangka,” tambahnya.


Satu persatu pelayat mulai berdatangan memenuhi ruang tengah tempat jenazah Sumirno, dan Arjuna akan disemayamkan. Berbagai persiapan pemakaman juga tengah dipersiapkan, sebab jenazah keduanya segera dikubut pada hari itu juga di pemakaman muslim Karang Anyar.


Hingga sang ayah dikuburkan, kata Harti, keluarga belum bisa menyampaikan kabar duka tersebut ke anak almarhum yang mengalami kecelakaan. Sebab mengingat kondisi keponakannya yang belum stabil.  “Ini pukulan terberat untuk keluarga kami. Musibah datang secara bersamaan,” lanjutnya.


Almarhum Sumirno, kesehariannya bekerja sebagai wiraswata ini merupakan sosok ayah dari tiga puteri yang sangat bertanggung jawab. Sifatnya yang ramah, dan bijaksana membuat almarhum sangat dicintai keluarganya. Termasuk di mata Harti, Sumirno merupakan adik yang baik dan santun kepada orang tua.


Sementara itu, anak bungsu almarhum Sumirno, Helda yang tidak ikut liburan ke Tanjung Selor mengakui tidak mendapatkan firasat apapun. Helda terakhir berkomunikasi dengan sang ayah saat keluarganya akan berangkat ke Tanjung Selor, dan menitip pesan agar selalu berhati-hati saat akan bepergian.


Siswa SMAN 2 Tarakan itu, sebelumnya tampak tegar. Masih terlihat senyum dari wajah remaja itu. Namun setelah mendapat kiriman foto sang ayah saat menuju Tarakan, tangisnya langsung pecah tak terbendung.


“Itu baju yang sering bapak pakai, Juna juga suka sekali pakai baju merah itu,” ucapnya sembari mengeluarkan air mata.


“Sebelumnya saya memang sempat mau mengobrol sama Juna, tapi kata mama dia lagi rewel. Jadi nggak sempat ngomong sama bapak juga, komunikasi kita hanya saat mau berangkat aja. Bapak pesan hati-hati jangan ke Pantai Amal saat malam Tahun Baru. Jangan keluyuran ,” cerita Helda sembari terisak.


Jarum jam menunjukkan pukul 14.32 wita, keluarga mendapatkan kabar jenazah Sumirno dan Arjuna sudah tiba di pelabuhan SDF Tarakan, dengan menggunakan speedboat Kaltara 3 milik Pemprov Kaltara. Beberapa orang keluarga juga turut hadir di pelabuhan menunggu kedatangan jenazah.  Tangis pun pecah saat jenazah mulai dikeluarkan dari speedboat.


Saat jenazah tiba di rumah duka, suasana dipenuhi tangisan sanak keluarga. Beberapa anggota keluarga pingsan, tidak kuat menerima kenyataan akan kepergian kerabat tercinta. Anak korban Fitri (ibu dari Arjuna) yang menjadi korban selamat saat tiba juga tidak henti-hentinya menangis.


“Ayah... Ayah... janji mau jagain kita kenapa ayah pergi...,” ucap Fitri sembari menangis di depan tubuh kaku sang ayah.


Almarhum Sumirno, meninggalkan tiga anak perempuan, satu istri, dan satu menantu. Semoga keluarga yang ditinggalkan dapat lebih sabar akan musibah yang dihadapi. (***/nri)

Editor : Azwar Halim