TIDENG PALE – Keberadaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Kabupaten Tana Tidung dinilai memiliki peluang untuk menjaring mahasiswa dari berbagai daerah di Kalimantan Utara.
Potensi itu didukung jumlah lulusan SMA sederajat di Kaltara yang mencapai sekitar 3.000 siswa setiap tahun.
Namun, jumlah tersebut tidak serta-merta seluruhnya menjadi calon mahasiswa IAIN.
Setiap perguruan tinggi memiliki segmen dan pilihan program pendidikan masing-masing.
“Memang tidak semua masuk ke IAIN. Berapa persen yang bisa masuk ke IAIN sudah, karena masing-masing punya segmen sendiri. UBT, Unikal dan perguruan tinggi lainnya punya segmen sendiri. IAIN juga punya segmen sendiri,” ujar Kepala Kantor Kemenag Tana Tidung, H. Hamzah, Selasa (29/9).
Menurutnya, keberadaan IAIN tetap memiliki peluang untuk menjaring mahasiswa dari berbagai daerah, khususnya mereka yang memilih pendidikan berbasis keagamaan.
Letak Tana Tidung yang berada di posisi tengah Kaltara juga menjadi salah satu potensi dalam menarik calon mahasiswa.
Selain dari sisi pendidikan, bertambahnya aktivitas mahasiswa nantinya diperkirakan memberikan efek domino terhadap perekonomian masyarakat.
Sejumlah usaha pendukung seperti rumah kos, laundry, kuliner dan jasa lainnya berpotensi tumbuh seiring meningkatnya jumlah mahasiswa.
Meski demikian, dampak keberadaan perguruan tinggi tidak dapat diukur hanya dalam satu atau dua tahun.
Perkembangan tersebut membutuhkan waktu seiring bertambahnya mahasiswa, munculnya lulusan dan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
“Perguruan tinggi tidak bisa diharapkan satu sampai dua tahun. Kita lihat tiga sampai lima tahun ke depan baru orang merasakan perkembangannya,” katanya.
Menurutnya, ketika mahasiswa mulai melaksanakan KKN, keberadaan perguruan tinggi juga akan semakin dirasakan masyarakat.
Mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus membawa pengetahuan dan kegiatan akademik ke desa-desa.
Di sisi lain, pengembangan pendidikan keagamaan di Tana Tidung juga masih terbuka.
Saat ini belum terdapat Madrasah Aliyah (MA) di KTT.
Pemerintah masih menjajaki kemungkinan pengembangan jenjang tersebut, sementara sudah terdapat madrasah tsanawiyah (MTs) filial di Sebidai.
Dari sisi akses, Tana Tidung juga dinilai memiliki peluang menjaring mahasiswa dari luar daerah.
Calon mahasiswa dari Malinau, Nunukan hingga wilayah Berau dapat mempertimbangkan Tana Tidung sebagai salah satu pilihan pendidikan tinggi karena aksesnya dinilai lebih terjangkau dibandingkan harus menuju Samarinda.
“Kalau ke Tarakan memang bagus, tetapi lewat laut biayanya besar. Dari Malinau ke Tana Tidung relatif lebih dekat. Termasuk dari Berau, bisa lebih murah ke Tana Tidung dibandingkan ke Samarinda dengan pesawat,” ujarnya.
Dengan potensi lulusan SMA dan sederajat termasuk pondok pesantren yang cukup besar setiap tahun, IAIN Tana Tidung memiliki ruang untuk mengembangkan segmen mahasiswa sendiri tanpa harus berbenturan langsung dengan perguruan tinggi lain yang telah memiliki pasar dan karakteristik program pendidikan masing-masing.(*)
Editor : Sophian Hadi