Waspada Uang Palsu di Tana Tidung, Bankaltimtara Ingatkan 3D! Begini Cara Mengenalinya

Sophian Hadi • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 12:24 WIB

 

ILUSTRASI AI
ILUSTRASI AI

 

 

TIDENG PALE – Peredaran uang palsu kembali menjadi perhatian di Kabupaten Tana Tidung.

Masyarakat diminta lebih teliti saat menerima transaksi tunai, terutama di kawasan pasar yang menjadi salah satu titik tingginya aktivitas peredaran uang.

Pimpinan Cabang Bankaltimtara Tideng Pale, Ilham Akbar, mengatakan pihak perbankan terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengenali uang rupiah asli.

“Kalau dari Bankaltimtara rutin menyampaikan kepada masyarakat tentang uang palsu, terutama di wilayah pasar. Setiap kegiatan literasi dan edukasi kita juga sampaikan,” ujar Ilham, Sabtu (19/9).

Menurutnya, masyarakat sebenarnya dapat melakukan langkah awal untuk mengenali keaslian uang secara fisik dengan metode 3D, yakni dilihat, diraba dan diterawang.

Pada tahap dilihat, masyarakat dapat memperhatikan unsur pengaman pada uang rupiah, termasuk benang pengaman yang tertanam atau tampak pada bagian tertentu uang.

Kemudian diraba, uang rupiah asli memiliki karakteristik kertas yang terasa lebih kasar ketika disentuh.

Sementara uang palsu, kata Ilham, cenderung memiliki permukaan yang lebih licin.

“Ketiga, diterawang. Biasanya ada logo Bank Indonesia yang tampak utuh,” jelasnya.

Selain pemeriksaan secara fisik, penggunaan alat pendeteksi dengan sensor ultraviolet (UV) juga dapat menjadi langkah tambahan untuk membantu mengenali unsur pengaman uang rupiah.

Meski demikian, Ilham menegaskan pemeriksaan secara kasat mata maupun menggunakan alat pendeteksi tersebut merupakan langkah antisipasi awal.

Untuk memastikan suatu uang benar-benar asli atau palsu, kewenangan penentuan berada pada Bank Indonesia.

“Iya betul, Bank Indonesia yang bisa menentukan. Ini untuk antisipasinya saja,” tegasnya.

Di sisi lain, Ilham juga mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan uang tunai dalam transaksi dan memanfaatkan pembayaran non-tunai, salah satunya melalui QRIS maupun layanan electronic banking.

“Lebih akurat dan lebih aman transaksi non-tunai, QRIS maupun e-banking seperti kami dengan DG Bankaltimtara,” katanya.

Ia menilai kehati-hatian penerima uang menjadi salah satu kunci untuk mencegah uang palsu kembali beredar di tengah masyarakat. K

arena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru saat menerima uang dalam transaksi dan membiasakan diri memeriksa keaslian uang, khususnya pecahan yang diterima dalam jumlah banyak.

Sebelumnya salah seorang dagang menemukan uang Rp 100 ribu diduga palsu di Sesayap.(*)

Editor : Sophian Hadi
Ilham Akbar Banklatimtara uang palsu Tana Tidung