TIDENG PALE – Produksi telur ayam lokal di Kabupaten Tana Tidung menunjukkan tren peningkatan.
Namun, di balik kenaikan produksi tersebut, jumlah peternak ayam petelur justru berkurang dan kini tersisa sekitar 12 peternak.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung, Idris Hendro Wibowo, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, terutama usia ayam yang sudah tua serta ketidakstabilan harga telur di pasaran secara nasional.
“Sekarang peternak tinggal 12. Mengalami penurunan. Alasannya ayamnya sudah tua dan menunggu harga telur stabil, sementara harga pakan selalu naik,” ujar Hendro, Kamis (17/9).
Meski jumlah peternak berkurang, produksi telur lokal sepanjang tahun ini tercatat mengalami peningkatan.
Pada Agustus 2026, produksi telur mencapai sekitar 12,41 ton. Sementara total produksi sejak Januari hingga Agustus mencapai 131,57 ton.
“Produksi kita mengalami peningkatan dibanding tahun lalu,” katanya.
Namun, peningkatan produksi tersebut belum membuat Tana Tidung mampu memenuhi seluruh kebutuhan telur masyarakat.
Produksi lokal saat ini baru mampu menyuplai sekitar 30 persen kebutuhan daerah. Sisanya masih dipenuhi dari pasokan luar daerah, Sulawesi dan Surabaya.
Di tingkat pasar, harga telur lokal saat ini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per piring.
Harga tersebut masih lebih tinggi dibandingkan telur dari luar daerah yang masuk ke pasar Tana Tidung dengan harga lebih rendah.
Menurut Hendro, perbedaan harga tersebut tidak terlepas dari tingginya biaya produksi peternak lokal, terutama untuk pakan.
“Kalau kita bersaing dengan telur dari luar, tidak sesuai dengan harga pakan yang kita beli,” ujarnya.
Kondisi ini membuat sebagian peternak memilih menahan diri untuk menambah populasi ayam.
Apalagi, harga pakan cenderung meningkat, sementara harga telur di pasaran mengalami penurunan.
"Harga di Jawa Rp 177 ribh per karung, kalau di sini Rp495 ribu sampai Rp 500 ribu. Itu pun kalau kontinyu, karena kita.masih mengandalkan tol laut," bebernya.
Hendro mengatakan persoalan tersebut tidak hanya dihadapi peternak Tana Tidung, tetapi juga menjadi tantangan di sejumlah daerah lain di Kalimantan Utara.
Pasokan telur dari luar, termasuk Sulawesi dan Surabaya, turut memberikan tekanan terhadap harga telur lokal.
“Fenomena ini tidak hanya terjadi di Tana Tidung, tetapi juga di daerah Kalimantan Utara lainnya, terutama telur dari Sulawesi dan Surabaya,” katanya.
Pemkab Tana Tidung kini berupaya mencari solusi agar biaya produksi peternak dapat ditekan.
Salah satunya melalui pengembangan pakan berbahan baku lokal sehingga peternak tidak terlalu bergantung pada pakan pabrikan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kembali usaha peternak ayam petelur sekaligus mendorong peningkatan populasi dan produksi telur lokal di Tana Tidung.(*)
Editor : Sophian Hadi