TIDENG PALE — Udang galah menjadi salah satu potensi pangan lokal Kabupaten Tana Tidung yang dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Komoditas tersebut selama ini lebih banyak dipasarkan sebagai bahan mentah, padahal peluang pengolahannya terbuka cukup luas.
Ketua TP PKK Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, mendorong agar potensi udang tersebut mulai dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi, salah satunya dalam bentuk makanan beku atau frozen food yang dapat dipasarkan hingga ke luar daerah.
Dorongan itu disampaikan Vamelia saat menghadiri Lomba Masak Menu Sehat Sekeluarga di Aula Bankaltimtara Cabang Tideng Pale, Rabu (16/9).
Menurut anggota DPRD Kaltara, lomba masak tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ajang adu kreativitas di dapur.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menggali potensi bahan pangan lokal dan mengembangkannya menjadi produk ekonomi kreatif.
Sebanyak 13 peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan membawa kreasi makanan berbahan pangan lokal.
“Kalau berbicara tentang kerajinan dan sesuatu yang diolah, saya perlu orang yang bisa mengombinasikan dan bertukar pikiran untuk bagaimana mengembangkan UMKM yang ada di Kabupaten Tana Tidung,” ujar Vamelia.
Vamelia menilai udang merupakan salah satu komoditas yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Ia bahkan mengaku sempat membicarakan potensi tersebut dengan Gubernur Kalimantan Utara.
Menurutnya, Tana Tidung memiliki potensi udang yang cukup besar, tetapi pengolahannya masih perlu mendapat perhatian agar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Kenapa kita tidak mengangkat itu? Ini sebenarnya menjadi PR untuk Dinas Pertanian dan dinas terkait, bagaimana udang itu bisa dikelola dengan baik sehingga bisa menjadi produk,” katanya.
Salah satu bentuk yang dinilai potensial adalah mengolah udang menjadi produk frozen.
Dengan pengolahan, kemasan dan pemasaran yang tepat, produk tersebut tidak hanya menyasar konsumen lokal.
“Ketika bisa dibuat produk frozen, sudah bisa didistribusikan dan kita bisa jual sampai keluar daerah,” ujarnya.
Menurut Vamelia, pengembangan produk olahan udang juga dapat membuka peluang baru bagi UMKM sekaligus memperkenalkan potensi pangan Tana Tidung ke pasar yang lebih luas.
Ia juga menyoroti pentingnya kesinambungan dalam pembinaan UMKM.
Menurutnya, program pemerintah tidak cukup hanya memberikan pelatihan atau bantuan kepada masyarakat.
Setelah pelatihan, kata dia, harus ada pendampingan hingga produk benar-benar siap dipasarkan.
Mulai dari kualitas produk, kemasan, pemasaran hingga distribusi perlu mendapat perhatian.
“Jangan sampai mereka sudah semangat menjual, tetapi tidak bisa mendistribusikan atau tidak tahu menjual ke mana. Itu sebenarnya menjadi pekerjaan rumah kita,” katanya.
Ia mencontohkan produk amplang. Pelatihan pembuatan amplang, menurutnya, harus dilanjutkan dengan pembinaan mengenai kemasan yang menarik, pemasaran dan jaringan distribusi.
Dengan pola tersebut, hasil pelatihan tidak berhenti sebagai keterampilan semata, tetapi dapat berkembang menjadi usaha yang menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.
Selain mendorong pengembangan UMKM, Vamelia mengajak masyarakat memperkuat ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah.
Ia menyebutnya sebagai konsep “kulkas hidup”.
Artinya, keluarga menanam sendiri kebutuhan pangan di pekarangan sehingga dapat dipanen ketika diperlukan.
“Biasanya kita beli sendiri, nanam sendiri itu lebih murah daripada sudah masuk ke pasar,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemanfaatan limbah dapur sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung keberlanjutan tanaman di pekarangan.
“Jadi kita tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga bisa menghasilkan dan menjual,” katanya.
Vamelia berharap kader PKK di kecamatan hingga desa dapat ikut menggerakkan pemanfaatan pangan lokal.
Menurutnya, kreativitas mengolah bahan pangan, penguatan ketahanan pangan keluarga dan pengembangan UMKM perlu berjalan beriringan.
“Lomba masak ini menjadi momentum untuk terus berkreasi dan menumbuhkembangkan ekonomi kreatif berbasis kuliner,” pungkasnya.(*)
Editor : Sophian Hadi