TIDENG PALE – Keberlangsungan trayek DAMRI Malinau–Desa Salang, Kecamatan Tulin Onsoi, Kecamatan Nunukan masih menjadi tanda tanya.
Perum DAMRI Cabang Tanjung Selor menyebut layanan tersebut berpotensi dihentikan apabila subsidi angkutan perintis dari Kementerian Perhubungan tidak lagi diberikan pada 2027.
General Manager Perum DAMRI Cabang Tanjung Selor, Junaid, mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) mengenai keberlanjutan subsidi untuk tahun depan.
“Kalau Malinau itu sampai akhir Desember 2026 subsidinya. Untuk tahun depan saya belum tahu. Kami masih menunggu dikonfirmasi Balai,” kata Sabtu (12/9)
Menurutnya, DAMRI masih berupaya mempertahankan trayek yang dibutuhkan masyarakat.
Namun, operasional tidak bisa dipaksakan apabila jumlah penumpang terlalu rendah dan justru membuat perusahaan mengalami kerugian.
“Kalau penumpang masih 20–30, saya tidak mau masuk komersial. Kalau saya jalankan, saya rugi dan pasti saya ditegur (atasan). Saya mending stop daripada saya jalan hancur,” tegasnya.
Junaid mengatakan kondisi berbeda jika pemerintah melalui Kementerian Perhubungan tetap memberikan subsidi.
Dengan dukungan tersebut, DAMRI masih dapat menjalankan trayek meski secara komersial belum menguntungkan.
“Kecuali pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, masih masuk. Tidak apa-apa saya tetap jalan. Tapi kalau subsidinya dicabut, mungkin kita stop,” ujarnya.
Ia mengakui masih terdapat masyarakat yang mengandalkan layanan DAMRI untuk bepergian menuju Salang. Karena itu, keputusan penghentian trayek tidak serta-merta diambil.
Namun, Junaid menegaskan kebutuhan masyarakat harus tetap diselaraskan dengan kemampuan operasional perusahaan.
“Meskipun masyarakat masih membutuhkan, kalau tidak bisa, saya tidak akan memaksakan. Kalau kita rugi, jangan dipaksakan jalan,” katanya.
Menurut Junaid, tingkat keterisian penumpang menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan kelayakan sebuah trayek.
Jika okupansi mampu mencapai sekitar 60–70 persen, operasional masih dinilai cukup layak.
“Kalau keterisiannya 60–70 persen, itu bagus, berarti jalan. Apalagi kalau memungkinkan ada surplus. Tapi kalau 30 persen ke bawah, pasti minus,” jelasnya.
Dengan demikian, kepastian subsidi 2027 akan menjadi faktor penting bagi kelanjutan trayek Malinau–Salang.
DAMRI masih menunggu keputusan pemerintah sebelum menentukan apakah layanan tersebut tetap dipertahankan atau harus dihentikan.
Sebagai informasi, subsidi rute Malinau-Salang sudah memasuki sekitar tahun ke - 13.(")
Editor : Sophian Hadi