Misi Dagang Kaltara-Jatim Buka Potensi Bisnis Beras Rp15 Miliar Pengusaha Tana Tidung

Sophian Hadi • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 17:56 WIB
Kabid Perdagangan Firman Rudding
Kabid Perdagangan Firman Rudding
 

 

TIDENG PALE – Forum Temu Bisnis Misi Dagang dan Investasi antara Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dan Jawa Timur yang digelar di Tarakan, pada Selasa (8/9), membuka peluang kerja sama bisnis bagi pelaku usaha di Kabupaten Tana Tidung.

Salah satu kerja sama yang mencuri perhatian yakni sektor perdagangan beras dengan potensi bisnis mencapai sekitar Rp15 miliar.

Kepala Bidang Perdagangan pada Disperindagkop Kabupaten Tana Tidung, Firman Rudding, mengatakan misi dagang tersebut merupakan kegiatan bersama Pemerintah Provinsi Kaltara dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kabupaten Tana Tidung menjadi salah satu daerah yang mendapat kesempatan mengikutsertakan pelaku usahanya.

“Ini sebenarnya kegiatan bersama Provinsi Jawa Timur dengan Provinsi Kalimantan Utara. Yang mengoordinasikan provinsi, kita salah satu kabupaten yang diundang untuk ikut misi dagang,” ujar Firman, Rabu (9/9).

Sebelum mengirimkan nama pelaku usaha, pihaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tana Tidung untuk memetakan komoditas yang berpotensi dipasarkan ke Jawa Timur maupun kebutuhan yang dapat didatangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha di daerah.

Dari hasil pendataan, terdapat sembilan pelaku usaha yang diusulkan.

Namun setelah melalui proses verifikasi, hanya tiga pengusaha yang menyatakan bersedia hadir dalam kegiatan misi dagang di Tarakan.

Menurut Firman, biaya keberangkatan dan keikutsertaan ditanggung masing-masing pengusaha.

Pemerintah daerah berperan memfasilitasi informasi serta proses pendaftaran agar pelaku usaha dapat memperoleh undangan resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Dari tiga pelaku usaha yang hadir, salah satunya yakni CV FF Modai yang bergerak dalam kerja sama penyediaan beras.

Dalam kegiatan tersebut, terjalin kesepakatan awal berupa komitmen kerja sama dengan nilai potensi bisnis sekitar Rp15 miliar.

“Beliau termasuk 10 besar yang memiliki nilai potensi bisnis terbesar dalam acara misi dagang kemarin,” ungkap Firman.

Kerja sama tersebut berkaitan dengan penyediaan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Tana Tidung.

Selama ini, kebutuhan beras di daerah tersebut masih banyak didatangkan dari luar daerah, terutama dari Jawa Timur dan Sulawesi.

Firman berharap kerja sama tersebut dapat membuka persaingan harga yang lebih sehat sekaligus membantu menjaga stabilitas harga beras di Tana Tidung.

“Mudah-mudahan dengan adanya kerja sama ini bisa menjadi persaingan harga. Dengan persaingan harga, kita berharap harga beras, khususnya kelas premium, bisa lebih terjangkau dan ikut menstabilkan harga beras di Kabupaten Tana Tidung,” katanya.

Selain sektor beras, dua pelaku usaha lainnya juga membawa potensi kerja sama di bidang peternakan serta hasil produksi pertanian dan perikanan.

Salah satu pelaku usaha peternakan menawarkan peluang kerja sama terkait penyediaan pakan untuk menekan biaya produksi.

Namun, hingga kegiatan berakhir, kerja sama di sektor pakan tersebut belum mencapai kesepakatan.

Meski demikian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tana Tidung tetap membuka komunikasi dengan pelaku usaha untuk menjajaki peluang kerja sama lanjutan di luar agenda misi dagang.

“Tidak hanya pada saat misi dagang. Mungkin di luar itu kita bisa komunikasikan terkait pakan itu sendiri,” ujarnya.

Sementara potensi lainnya berasal dari hasil produksi daerah, termasuk komoditas sungai dan laut seperti udang dan ikan.

Namun, salah satu pelaku usaha yang bergerak di sektor tersebut tidak dapat mengikuti kegiatan karena menghadiri kegiatan yang tidK bisa ditinggalkan.

Firman menilai misi dagang antarprovinsi memberikan manfaat besar bagi pelaku usaha daerah, terutama dalam membuka akses pasar.

Menurutnya, persoalan yang masih menjadi tantangan bagi pengusaha di Tana Tidung bukan hanya produksi, tetapi juga memastikan tersedianya pasar.

“Kalau mereka mau produksi massal, tapi tidak ada pemasaran, tentu susah. Ini juga menjadi motivasi bagi petani dan pengusaha karena pasarnya sudah mulai terbuka,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan. Dengan adanya akses pasar yang lebih luas, pelaku usaha di Tana Tidung diharapkan semakin berani meningkatkan produksi karena memiliki tujuan pemasaran yang lebih jelas.

“Ini merupakan motivasi pengusaha-pengusaha kita di daerah untuk bisa tumbuh dan berkembang. Salah satu persoalan mendasar di Kabupaten Tana Tidung adalah bagaimana memasarkan hasil produk dan memenuhi kebutuhan untuk kegiatan usaha itu sendiri,” katanya.

Firman juga berharap Pemerintah Provinsi Kaltara dapat terus membuka kerja sama perdagangan dengan provinsi lain sehingga semakin banyak pelaku usaha Tana Tidung yang memperoleh akses pasar.

Di sisi lain, khusus untuk kebutuhan beras, produksi lokal Tana Tidung saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Karena itu, pasokan dari luar daerah masih diperlukan sembari pemerintah terus mendorong kemandirian pangan.

“Untuk sementara pemerintah masih berupaya supaya kita bisa mandiri terkait pangan. Namun selama proses itu, tentu masih ada beras dari luar provinsi yang menopang kebutuhan kita,” pungkas Firman.(*)

Editor : Sophian Hadi
Misi Dagang Disperindagkop KTT Disperindagkop