TIDENG PALE - Warga Tideng Pale, Kabupaten Tana Tidung, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan kabut asap.
Data IQAir yang terpantau pada 31 Agustus pukul 14.00 WITA menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 156, masuk kategori “Tidak sehat”.
Dalam data tersebut, polutan utama tercatat PM2.5 dengan konsentrasi 63,2 µg/m³.
IQAir juga memprakirakan kualitas udara masih berada pada level tidak sehat dalam beberapa jam berikutnya, dengan AQI sekitar 156 pada pukul 15.00, kemudian 155 pada pukul 16.00 dan secara bertahap turun menjadi 151 pada pukul 19.00.
Data IQAir tersebut disebut berasal dari satellite-derived model, sehingga menjadi gambaran kondisi kualitas udara dan perlu dibaca sebagai data pemantauan/model, bukan sebagai pengukuran langsung dari alat pemantau kualitas udara di lapangan.
Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tana Tidung.
Kepala Dinkes Tana Tidung, H. M. Sarif, mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap mengambil langkah perlindungan diri, khususnya ketika harus beraktivitas di luar rumah.
“Kalau memang tidak ada keperluan penting untuk keluar rumah, lebih baik di dalam rumah. Kalau harus keluar, sebaiknya menggunakan masker," ujar Sarif, Senin (31/8).
Menurutnya, masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika kondisi udara mulai dipenuhi asap.
Penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi paparan partikel udara, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Dinkes Tana Tidung juga terus melakukan promosi kesehatan dengan turun ke lapangan dan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan.
“Kami tetap melakukan promosi kesehatan. Edaran dari kementerian juga sudah kami sebarkan ke seluruh faskes, terutama terkait bagaimana menghindari dampak karhutla terhadap kesehatan,” ungkapnya.
Sarif mengatakan, kondisi kabut asap di Tana Tidung sebenarnya masih relatif terkendali.
Hujan yang beberapa kali turun dalam sepekan terakhir turut membantu mengurangi konsentrasi asap.
Namun, asap yang terasa di Tideng Pale diduga juga merupakan kiriman dari wilayah lain dan terbawa arah angin.
“Kalau di sini Alhamdulillah hujan beberapa kali. Itu cukup membantu, sehingga asapnya berkurang. Kemungkinan ada juga asap kiriman karena mengikuti arah angin,” tuturnya.
Di sisi lain, Dinkes terus memantau perkembangan penyakit yang berpotensi muncul atau meningkat akibat kondisi lingkungan. ISPA dan diare menjadi dua penyakit yang saat ini mendapat perhatian.
Sarif menyebut kasus ISPA memang mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.
Namun, peningkatan tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan seluruhnya dengan kabut asap karena ISPA juga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk daya tahan tubuh.
“Memang dalam beberapa minggu ini ISPA meningkat. Tetapi tidak mesti karena asap. Banyak faktor lain, salah satunya daya tahan tubuh. Kalau imunitas turun, orang lebih mudah terserang flu atau ISPA,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak menunggu sampai gangguan kesehatan menjadi berat. Keluhan seperti batuk, pilek, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kalau ada keluhan, silakan datang ke faskes. Faskes kita cukup terjangkau dan pelayanan juga tetap berjalan,” pungkas Sarif.
Dengan kualitas udara yang dalam pantauan IQAir berada pada kategori tidak sehat, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap terasa pekat, menggunakan masker bila harus keluar rumah, menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta tetap memantau perkembangan kualitas udara.
Editor : Sophian Hadi