Dari Kakek Pejuang hingga Perbatasan Lebanon: Jejak Mayor Michael Danyonif TP 922/Upun Taka

Sophian Hadi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:34 WIB
Danyonif 922/Upun Taka Mayor Inf Michael Connis Tanaem, S.S.T.Han., S.I.P., M.I.R.
Danyonif 922/Upun Taka Mayor Inf Michael Connis Tanaem, S.S.T.Han., S.I.P., M.I.R.

 

TIDENG PALE – Jalan hidup seseorang terkadang dimulai dari sebuah cerita yang tak pernah dialaminya secara langsung.

Begitulah perjalanan Mayor Inf Michael Connis Tanaem, S.S.T.Han., S.I.P., M.I.R., seorang prajurit Angkatan Darat yang kini mengemban tugas sebagai Komandan Batalyon Infanteri  Teritorial Pembangunan (Danyonif TP) 922/Upun Taka di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Inspirasi untuk mengenakan seragam hijau sebenarnya datang dari sosok sang kakek yang wafat dengan pangkat Kapten pada tahun 1967.

Meski tak pernah bertemu langsung, Michael tumbuh dengan mengetahui bahwa kakeknya dari pihak ibu merupakan seorang prajurit Angkatan Darat dan pernah menjadi pejuang dalam Operasi Trikora.

Sang kakek telah meninggal dunia jauh sebelum Michael lahir. Karena itu, ketika memutuskan menjadi prajurit, Michael mengaku benar-benar memulai perjalanan dari lingkungan sipil.

“Saya sendiri memang ingin jadi tentara, dari keluarga juga mendukung, jadi semuanya klop. Saya terinspirasi dari kakek. Tapi saya tidak pernah bertemu dengan beliau karena beliau sudah meninggal lama. Jadi saat masuk tentara, saya benar-benar masuk dari sipil dan tidak ada yang mengarahkan bagaimana kehidupan seorang tentara,” tuturnya.

Menjadi prajurit pertama di generasinya, baik dari garis keluarga ibu maupun ayah, tentu bukan perjalanan tanpa tantangan.

Pada awal memasuki kehidupan militer, prajurit berdarah Nusa Tengga Timur (NTT) dan Banyuwangi ini mengaku sempat mengalami masa adaptasi yang cukup berat.

Perubahan dari kehidupan sipil menuju lingkungan militer membuatnya harus belajar banyak hal.

Namun niat yang telah tertanam kuat, ditambah dukungan keluarga, membuatnya memilih untuk terus melangkah.

“Awalnya memang kaget. Tapi lama-kelamaan karena sudah diniatkan dan keluarga semuanya mendukung, akhirnya semangat. Kalau sudah terlanjur basah, ya basah sekalian, jangan tanggung-tanggung,” ujarnya sambil tersenyum pekan lalu.

Memilih Angkatan Darat karena Sesuai Jiwa

Bagi Michael, menjadi seorang prajurit bukan sekadar mengikuti jejak keluarga.

Ada alasan pribadi yang membuatnya memilih Angkatan Darat dibandingkan jalan hidup lainnya.

Ia merasa karakter dirinya lebih cocok berada di lingkungan Angkatan Darat, khususnya sebagai prajurit infanteri.

Michael dikenal sebagai pribadi yang gemar berbicara, berdiskusi dan berinteraksi dengan banyak orang.

Baginya, kehidupan di Angkatan Darat memberikan ruang yang lebih luas untuk memimpin dan bekerja langsung bersama manusia serta masyarakat.

“Saya melihat Angkatan Darat paling cocok dengan karakter saya. Saya orangnya suka ngobrol, suka cerita. Kalau di Angkatan Darat, terutama infanteri, kita banyak bekerja dan memimpin manusia. Itu lebih masuk dengan jiwa saya,” katanya.

Pilihan itu ternyata menjadi jalan panjang yang membawanya meniti berbagai pengalaman, mulai dari pendidikan militer, penugasan di dalam negeri hingga membawa nama Indonesia ke luar negeri.

Dari Papua hingga Lebanon

Dalam perjalanan kariernya, Michael pernah merasakan penugasan operasi di perbatasan Papua 2016-2017  dan Lebanon 2014-2015).

Dua tempat dengan latar belakang, budaya dan situasi yang sangat berbeda.

Namun bagi Michael, keduanya sama-sama meninggalkan kesan mendalam.

Di Papua, ia lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Sementara di Lebanon, ia menjalankan tugas sebagai bagian dari Pasukan Garuda di kawasan perbatasan.

Meski berada di lokasi berbeda, keduanya memiliki tantangan yang hampir sama.

Tingkat kerawanan menjadi bagian dari tugas, Lebanon berbatasan dengan Israel, Papua dengan Papua Nugini.

Tetapi ada satu tantangan lain yang menurut Michael tidak kalah berat: kejenuhan.

Penugasan operasi yang berlangsung 12 bulan membuat prajurit harus tinggal cukup lama di satu lokasi.

“Kejenuhan itu justru salah satu musuh terbesar. Kalau kita tidak kreatif membuat kegiatan sendiri, kita akan jenuh. Jadi bagaimana kita bisa mengalahkan kejenuhan itu menjadi tantangan yang penting, baik penugasan di dalam negeri maupun luar negeri,” ungkapnya.

Bagi Michael, seorang prajurit harus mampu beradaptasi dengan keadaan apa pun.

Jauh dari keluarga, berada di daerah terpencil hingga menghadapi kondisi yang penuh risiko menjadi bagian dari pilihan hidup yang telah diambilnya.

Sabuk Hitam dan Hobi yang Tak Pernah Jauh dari Prajurit

Di balik kesibukannya sebagai seorang komandan, Michael tetap memiliki sejumlah kegiatan yang menjadi hobinya.

Membaca, menembak dan berolahraga menjadi aktivitas yang sering ia lakukan. Ia juga menaruh perhatian besar terhadap bela diri.

Sejak pendidikan militer, kemampuan bela diri menjadi bagian dari pembentukan seorang prajurit. Michael pernah mempelajari Tarung Derajat, Yongmudo hingga pencak silat militer.

Dari sejumlah bela diri tersebut, Yongmudo menjadi yang paling lama ditekuni hingga berhasil meraih sabuk hitam.

“Kalau Yongmudo, saya belajar cukup lama sampai sabuk hitam. Bela diri ini berasal dari Korea dan memadukan teknik bantingan serta pukulan,” jelasnya.

Bagi seorang komandan infanteri, kemampuan fisik dan disiplin bukan hanya tuntutan pekerjaan, melainkan juga bagian dari kehidupan sehari-hari.

Berawal dari Seorang “Cewek Cantik” di Gereja

Di tengah perjalanan panjangnya sebagai prajurit, kehidupan pribadi Michael juga memiliki cerita yang tak kalah menarik.

Kisah cintanya dengan sang istri berdarah Jogjakarta, Yudis Sekar Prasasti, bermula pada tahun 2018.

Saat itu, Michael sedang mengikuti kegiatan kursus di Jakarta. Melalui seorang kerabat dari pihak ayah yang kebetulan satu gereja dengan Yudis, ia mendapat cerita tentang seorang perempuan cantik yang pandai bermain musik.

“Dibilang, di gereja ada cewek cantik, bisa main musik juga, main keyboard, piano,” kenangnya.

Nomor telepon Yudis pun diberikan. Michael mulai menghubunginya.

Tak lama kemudian, ketika memiliki kegiatan di Jakarta dan Bandung, ia menyempatkan diri untuk bertemu. Pertemuan itu menjadi awal hubungan keduanya.

“Dikasih nomor teleponnya, kemudian saya hubungi. Waktu saya ada kegiatan kursus di Jakarta dan Bandung, saya samperin. Dari situ kami mulai pacaran,” katanya.

Hubungan keduanya berlangsung sekitar dua tahun sebelum akhirnya resmi menikah pada Desember 2020.

Yudis yang berasal dari Yogyakarta kini menjadi bagian penting dari perjalanan hidup seorang prajurit yang harus siap ditempatkan di mana saja.

Pada September 2021, kebahagiaan pasangan tersebut semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak.

Tidak Menyangka Tanah Tidung Sesepi Ini”

Penugasan di Kabupaten Tana Tidung juga menghadirkan pengalaman tersendiri bagi Michael.

Bukan karena ia belum pernah bertugas di daerah terpencil. Sebelumnya, ia telah beberapa kali menjalani penugasan di berbagai wilayah.

Namun, ada satu hal yang membuatnya terkejut ketika pertama kali tiba di Tana Tidung.

Ia tidak menyangka sebuah wilayah dengan status kabupaten memiliki suasana yang begitu tenang dan sepi.

Dalam bayangannya, Tana Tidung akan menyerupai Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), daerah asal sang ayah di NTT.

“Saya tidak menyangka Tana Tidung sesepi ini. Dalam bayangan saya, karena sama-sama kabupaten, mungkin seperti Soe di TTS. Begitu datang ke sini, ternyata Soe masih lebih ramai,” ujarnya sambil tertawa.

Meski demikian, Michael mengaku tidak mempermasalahkan kondisi tersebut.

Baginya, seorang prajurit harus mampu menikmati dan menyesuaikan diri dengan tempat penugasan.

“Mau dari tempat ramai ke tempat sepi, atau sebaliknya, tidak ada masalah. Kita harus tetap enjoy. Namanya tugas, kita harus bisa menyesuaikan diri,” katanya.

Mimpi yang Tidak Berhenti di Satu Tempat

Menjadi prajurit sejak awal memang merupakan cita-citanya.

Namun Michael tidak ingin berhenti hanya pada satu pencapaian.

Ia mengaku, sebelum akhirnya masuk Akademi Militer, dirinya sempat memiliki sejumlah cita-cita lain.

Menjadi pilot hingga pembalap pernah terlintas dalam mimpinya.

Namun akhirnya, seragam hijau Angkatan Darat menjadi jalan yang dipilihnya.

Kini, setelah bertahun-tahun mengabdi, cita-citanya pun tetap tinggi.

Dalam waktu dekat, perjalanan kariernya akan memasuki babak baru.

Michael dijadwalkan menerima kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel Infanteri (Letkol Inf) pada 1 Oktober 2026.

Kenaikan pangkat tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan panjangnya sebagai prajurit, sekaligus menambah semangatnya untuk terus mengabdi dan mengejar cita-cita hingga puncak karier militer.

“Kalau keinginan, harus tinggi. Ya harus jadi jenderal. Kalau kita sudah memilih jalan ini, sudah terlanjur basah, ya harus basah sekalian. Cita-cita harus setinggi mungkin, sampai puncak karier di militer,” tegasnya.

Dari seorang anak yang tumbuh besar di Surabaya, terinspirasi oleh kisah kakek yang tak pernah ditemuinya, hingga menjalani penugasan di Papua dan Lebanon, perjalanan Mayor Inf Michael Connis Tanaem, S.S.T.Han., S.I.P., M.I.R. adalah cerita tentang keberanian memilih jalan.

Kini, di tengah sunyinya Kabupaten Tana Tidung, ia kembali melanjutkan perjalanan.

Bagi Michael, mungkin sebuah daerah bisa terasa sepi. Namun bagi seorang prajurit, di mana pun kaki berpijak, tugas tetap harus dijalankan.(*)

 

Profil Singkat

Nama: Mayor Inf Michael Connis Tanaem, S.S.T.Han., S.I.P., M.I.R.

Tempat, tanggal lahir: Surabaya, 27 Agustus 1988

Jabatan: Komandan Batalyon Infanter Teritorial Pembangunan  (Danyonif TP) 922/Upun Taka.

.

Istri: Yudis Sekar Prasasti

Pendidikan Umum: SD hingga SMA di Surabaya, kemudian menyelesaikan pendidikan S1 Hubungan Internasional di Universitas Ahmad Yani tahun 2013.

Ia melanjutkan pendidikan S2 Hubungan Internasional di University of Melbourne, Australia tahun 2020-2022.

Pendidikan Militer: Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2008-2012.

Penugasan Dalam Negeri:  Danton Batalyon Infantri Infanteri Mekanis Raider 413/Bremoro, Kostrad, Solo, tahun 2013-2017:  Pasi Bataylon 2017-2020; Dankin Batalyon  2023.

Pabanda Ops Luar Negeri Staf Operasi Angkatan Darat Mabes TNI 2024-2026.

Dalam perjalanan kariernya, ia juga mengikuti pendidikan lanjutan di dalam dan luar negeri, termasuk pendidikan militer di Amerika Serikat serta Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung tahun 2026.

Riwayat Penugasan: Pernah bertugas di Papua pada 2016–2017 serta menjalankan misi perdamaian sebagai bagian dari Pasukan Garuda di Lebanon pada 2014–2015.

Hobi: Membaca, menembak, dan berolahraga. Ia juga menekuni sejumlah bela diri, termasuk Yongmudo hingga meraih sabuk hitam.

Editor : Sophian Hadi
Danyonif TP 922 Akmil 2012 Tana Tidung