Karhutla Tana Tidung Masih Terkendali, Warga Buka Lahan dengan Membakar Diminta Wajib Lapor

Sophian Hadi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:41 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Tana Tidung Didik Darmadi
Kepala Pelaksana BPBD Tana Tidung Didik Darmadi

 

TIDENG PALE – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tana Tidung meminta masyarakat yang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar agar tidak bekerja sendiri.

Warga diminta melapor dan berkoordinasi dengan BPBD sehingga proses pembakaran dapat diawasi dan tidak berkembang menjadi kebakaran lahan yang lebih luas.

Kepala Pelaksana BPBD Tana Tidung Didik Darmadi mengatakan, aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar masih ditemukan di sejumlah wilayah.

Namun, sejauh ini kejadian yang ditangani masih dalam skala relatif kecil dan dapat dikendalikan.

“Kalau sudah menginformasikan kepada kami, kami bisa turun untuk patroli, menjaga dan membantu. Yang penting jangan sampai apinya merembet,” kata Didik, Kamis (13/8).

Menurutnya, masyarakat yang membuka lahan perlu memahami kondisi cuaca dan arah angin sebelum melakukan pembakaran.

Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merembet apabila tidak diawasi, terlebih saat memasuki musim kemarau.

Ia mengatakan, dalam regulasi masyarakat boleh membakar lahan maksimal 2 hektare. Meski begitu harus tetap dijaga.

"Jadi kalau mereka mau membakar lahan dilaporkan lah ke kami. Dalam minggu ini ada tiga lokasi yang dilaporkan pembakaran lahanya, Sebidai, Seputuk dan Safari," bebernya.

Didik menyebut, dalam beberapa kejadian, keterlambatan laporan membuat api lebih dulu merembet sehingga penanganan menjadi lebih sulit.

"Padahal kami sudah kasi edaran, kalau mau bakar, informasikan lah. Tapi bukan berarti kami mengizinkan," tegasnya.

Rerata lahan yang dibakar untuk ketahanan pangan warga.

"Meski maksimal 2 hektare, tapi rata-rata lahan yang dibakar kecil saja jarang sampai 2 hektare. Masyarakat juga sudah paham dengan menyekat lahan yang dibakar, jadi sedikit aman," ungkapnya.

Sepanjang tahun ini, BPBD Tana Tidung mencatat 13 kejadian kebakaran lahan dengan luasan rata-rata 0,5 hektare. Sementara tahun lalu sekitar 15 hektare.

Meski demikian, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. 

Pemantauan titik panas juga terus dilakukan sebagai langkah deteksi dini.

"Sejauh ini di KTT belum ditemukan titik api. Biasanya Dinas Kehutanan KPH sampaikan ke kami kalau ada. Sejauh ini belum ada, dikasi," bebernya.

Untuk penanganan kebakaran berskala kecil, BPBD dapat melakukan pendampingan secara langsung.

Namun, jika api membesar dan sulit dikendalikan, penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan unsur terkait.

BPBD Tana Tidung juga telah melakukan simulasi penanganan karhutla bersama sejumlah instansi untuk memperkuat koordinasi di lapangan.

Dalam penanganan kebakaran berskala besar, BPBD dapat berkoordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pihak perusahaan, TNI dan unsur terkait lainnya.

Menurut Didik, simulasi dilakukan untuk menghindari ego sektoral saat menghadapi kondisi darurat.

Masing-masing unsur telah diberikan tugas, mulai dari pengambilan air, pengoperasian pompa, penanganan titik api hingga pemantauan arah angin.

“Sudah kami atur supaya tidak panik. Siapa yang mengambil air, siapa yang menghidupkan pompa, siapa yang menangani selang, semuanya sudah ada mekanismenya,” katanya.

Pembagian tugas tersebut dinilai penting karena penanganan karhutla membutuhkan kecepatan.

Apalagi, kondisi api dan arah angin dapat berubah sewaktu-waktu.

Didik menegaskan, kunci utama dalam penanganan karhutla adalah deteksi dan laporan cepat dari masyarakat.

Dengan informasi sejak awal, petugas dapat segera turun sebelum api meluas.

“Kami memang terbatas. Kalau sudah besar, tentu harus kerja sama. Tapi kalau dari awal masyarakat melapor, kami bisa lebih cepat melakukan pendampingan dan pemadaman. Masyarakat bisa melaporkan ke 0812411184,” pungkasnya.(*)

Editor : Sophian Hadi
Didik Darmadi karhutla bpbd Tana Tidung