TIDENG PALE– Tradisi Tolak (Tulak--bahasa Tidung) Bala bukan sekadar ritual budaya bagi masyarakat Tana Tidung.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi momentum untuk merawat identitas budaya, mempererat persaudaraan, sekaligus memanjatkan doa bagi keselamatan masyarakat dan daerah.
Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Tana Tidung Sabri saat menyampaikan sambutan dalam pelaksanaan Tulak Bala bulan Safar, di Pelabuhan Keramat Tideng Pale, Rabu (12/8).
“Kita tidak sekadar menjalankan sebuah tradisi, tetapi kita sedang menjaga warisan, mempererat persaudaraan dan memanjatkan doa untuk keselamatan masyarakat dan daerah yang kita cintai,” ujar Sabri.
Menurut Sabri, Tulak Bala merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tidung yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di dalamnya terkandung nilai doa, silaturahmi, gotong royong, kepedulian dan kebersamaan.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat diajak memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh masyarakat Tana Tidung diberikan kesehatan, keselamatan, ketenteraman dan keberkahan.
Doa juga dipanjatkan agar daerah dijauhkan dari bencana, penyakit, konflik dan segala marabahaya.
Tidak hanya itu, doa turut ditujukan bagi para petani, nelayan, pelaku usaha, guru, tenaga kesehatan, aparatur pemerintah serta seluruh masyarakat agar diberikan kelancaran dalam menjalankan tugas dan kehidupan sehari-hari.
Sabri juga menekankan bahwa bulan Safar tidak boleh dimaknai sebagai bulan yang membawa kesialan.
Tidak ada hari maupun bulan yang membawa kesialan bagi manusia karena segala sesuatu berada dalam kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
“Karena itu, Tulak Bala kita maknai sebagai ikhtiar, doa, sedekah, silaturahmi dan pelestarian budaya, dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama,” lanjut Sabri.
Di tengah perkembangan zaman, Sabri mengingatkan pentingnya menjaga jati diri generasi muda Tana Tidung.
Kemajuan teknologi dan keterbukaan terhadap budaya dari luar, menurutnya, harus diimbangi dengan pengenalan terhadap adat, sejarah dan budaya daerah.
Anak-anak Tana Tidung, katanya, boleh tumbuh menjadi generasi yang modern dan maju.
Namun, mereka tetap harus mengenal akar budaya dan identitas daerahnya.
“Sebab warisan terbesar yang kita berikan kepada anak cucu bukan hanya pembangunan, tetapi juga identitas,” tegasnya.
Karena itu, tradisi Tulak Bala diharapkan tidak berhenti pada satu generasi.
Nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya perlu dikenalkan kepada anak-anak dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Budaya yang hidup adalah budaya yang diwariskan,” ujarnya.
Perkuat Persatuan Bumi Upun Taka
Dalam kesempatan tersebut, Ibrahim juga mengajak masyarakat menjadikan Tulak Bala 2026 sebagai momentum memperkuat persatuan.
Perbedaan pendapat maupun pilihan, menurutnya, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan rasa persaudaraan sebagai keluarga besar Bumi Upun Taka.
“Mari kita saling menghormati, saling membantu dan saling menguatkan. Sebab pembangunan daerah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Pembangunan membutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat,” pesan Sabri.
Ia meyakini, dengan persatuan dan kebersamaan, berbagai tantangan pembangunan dapat dihadapi bersama.
Di akhir sambutannya, mengajak seluruh masyarakat memanjatkan doa agar Bumi Upun Taka senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Ia berharap masyarakat Tana Tidung diberikan kesehatan, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan.
Anak-anak Tana Tidung juga diharapkan tumbuh menjadi generasi cerdas, berakhlak dan mencintai daerahnya.
“Semoga Kabupaten Tana Tidung terus tumbuh menjadi daerah yang maju, berdaya saing, adil, sejahtera dan berbudaya,” pungkasnya.(*)
Editor : Sophian Hadi