TIDENG PALE – Tradisi Tolak (Tulak--bahasa Tidung) Bala bulan Rabu terkahir Safar kembali digelar masyarakat Kabupaten Tana Tidung.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini berlangsung di Pelabuhan Keramat Tideng Pale, Rabu sekitar pukul 06.00 WITA, dengan melibatkan masyarakat dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Tana Tidung.
Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong membawa berbagai sajian untuk pelaksanaan tradisi tersebut.
Di antaranya ketupat atau imbi yuku dalam bahasa Tidung, telur ayam masak dan berbagai jenis kue lainnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tana Tidung, Arman Jauhari, mengatakan, tradisi Tulak Bala merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dipertahankan masyarakat Tana Tidung.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus memanjatkan doa kepada Allah SWT agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari musibah.
“Tujuan dilaksanakannya Tulak Bala ini agar kita bersama-sama berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar kita semua diberikan keselamatan dan dijauhkan dari bala maupun musibah,” ujar Arman.
Menurut Arman, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan suatu musibah akan terjadi.
Karena itu, tradisi Tulak Bala tidak dimaknai sebagai kemampuan manusia untuk menolak atau memastikan terhindarnya suatu musibah, melainkan sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama kepada Allah SWT.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan doa selamat.
Melalui doa tersebut, masyarakat memohon kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan, kesehatan, serta dijauhkan dari berbagai musibah di lingkungan maupun daerah.
Setelah pembacaan doa, masyarakat kemudian bersama-sama menikmati berbagai sajian yang telah dibawa. Momen tersebut sekaligus menjadi ruang berkumpul, bersilaturahmi, dan memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat.
Arman menjelaskan, sejumlah perlengkapan dalam tradisi Tulak Bala juga memiliki makna dan filosofi tersendiri.
Salah satunya ketupat dengan berbagai bentuk yang menjadi simbol nilai-nilai kehidupan dan keagamaan.
Ketupat berbentuk lima sudut, misalnya, dimaknai sebagai simbol rukun Islam.
Sementara ketupat berbentuk enam sudut melambangkan rukun iman.
Berbagai simbol tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Setiap bentuk memiliki makna dan filosofi yang tersimpan di dalamnya. Ini merupakan bagian dari simbol yang ingin kita pertahankan sebagai warisan budaya,” jelasnya.
Arman menegaskan, pelestarian adat dan budaya harus tetap berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama.
Menurutnya, adat dan agama tidak perlu dipertentangkan, tetapi dapat berjalan bersama dengan tetap memperhatikan norma dan ajaran Islam.
Tradisi Tulak Bala sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan salah satu identitas budaya daerah.
Pelaksanaannya dapat dilakukan di tempat-tempat tertentu, seperti di pinggir sungai, laut, maupun lokasi yang telah ditentukan masyarakat.
Selain menjaga warisan budaya, kegiatan tersebut juga memiliki nilai sosial karena mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dan etnis yang ada di Kabupaten Tana Tidung.
“Ini salah satu identitas budaya yang perlu kita jaga dan lestarikan dalam rangka membangun rasa persatuan dan kebersamaan,” katanya.
Disdikbud Tana Tidung berharap tradisi Tulak Bala dapat terus dilestarikan dan menjadi agenda rutin daerah.
Pelibatan berbagai unsur masyarakat diharapkan membuat tradisi tersebut tetap hidup sekaligus menjadi potensi budaya yang dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.
“Semoga penyelenggaraan ini menjadi agenda rutin dan dapat terus kita lestarikan sebagai potensi budaya yang ada di Kabupaten Tana Tidung,” pungkas Arman.
Usai doa tulak bala, dilanjutkan dengan tradisi Menjiu (mandi) salamun dan bertimbang bayi yang lahir di bulan Safar.
Kegiatan ini dihadiri Wabup Sabri, Sekda Hersonsyah dan beberapa kepala OPD dan intansi vertikal.(*)
Editor : Sophian Hadi