Bukan Persoalan Sosial, Dinsos Tarakan Tetap Tampung 15 Pekerja Terlantar

Zakaria RT • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 20:26 WIB
Kepala Dinas Sosial Kota Tarakan Arbain. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kepala Dinas Sosial Kota Tarakan Arbain. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan yang lebih baik masih menjadi pilihan banyak masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Kalimantan Utara (Kaltara) pun menjadi salah satu tujuan karena dinilai memiliki peluang kerja yang menjanjikan, terutama di sektor perkebunan dan pertambangan. Namun, tidak semua harapan berakhir sesuai rencana.

Harapan itu pula yang dibawa 15 warga asal Jawa Barat ketika memutuskan berangkat ke Kabupaten Bulungan untuk bekerja sebagai penyadap karet. Alih-alih memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tetap seperti yang mereka bayangkan, mereka justru meninggalkan lokasi kerja dan menuju Kota Tarakan setelah mengaku mendapati kondisi pekerjaan yang berbeda dengan informasi saat perekrutan.

Setibanya di Tarakan, para pekerja tersebut kemudian berada dalam kondisi terlantar. Mereka tidak memiliki tempat tinggal dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah Kota Tarakan pun melakukan penanganan sementara dengan menempatkan mereka di shelter Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan.

Kepala Dinsos Kota Tarakan, Arbain mengatakan, penanganan tersebut dilakukan karena para pekerja membutuhkan tempat tinggal sementara. Namun, persoalan yang mereka hadapi pada dasarnya berkaitan dengan hubungan ketenagakerjaan.

“Sebenarnya kemarin kita berkolaborasi menangani. Kita melihat dulu persoalannya apa sebenarnya, karena ini menyangkut ketenagakerjaan,” ungkap Arbain.

Menurutnya, Dinsos tetap mengambil langkah penanganan meskipun persoalan tersebut tidak sepenuhnya masuk dalam ranah sosial. Shelter dimanfaatkan sebagai tempat sementara karena para pekerja membutuhkan tempat tinggal, sementara Dinas Tenaga Kerja tidak memiliki fasilitas penampungan.

“Bukan berarti kita tidak menangani. Kita tetap tangani juga. Kita tampung di shelter karena mereka membutuhkan tempat sementara. Dinas Tenaga Kerja tidak memiliki tempat penampungan, sehingga kita bantu dulu,” katanya.

Arbain menegaskan, penempatan para pekerja di shelter bukan merupakan bentuk penanganan permanen. Mereka hanya dititipkan sementara sembari menunggu penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan pihak-pihak berwenang.

“Kami sifatnya penitipan sementara. Yang penting mereka ada tempat tinggal dulu, ada makan dulu, sambil menunggu bagaimana penyelesaian dari pihak yang berwenang,” urainya.

Sebelumnya, keberadaan 15 pekerja tersebut diketahui setelah masyarakat melaporkannya kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan di wilayah Sebengkok pada Kamis (5/8) sekitar pukul 11.00 Wita.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tarakan, Yonsep mengatakan, setelah menerima laporan tersebut, pihaknya langsung meminta personel melakukan pengecekan ke lokasi. “Jam 11 itu ada laporan masyarakat dari Sebengkok, bahwa ada orang terlantar. Saya minta dicek langsung, kemudian anggota kami turun ke lokasi. Setelah dicek ternyata benar ada 15 orang itu,” kata Yonsep.

BPBD kemudian berkoordinasi dengan kepolisian, Pemerintah Provinsi Kaltara dan sejumlah pihak lainnya untuk memastikan kebutuhan dasar para pekerja terpenuhi. Saat ditemukan, para pekerja disebut membutuhkan makanan.

“Kita koordinasi juga dengan provinsi, karena mereka ini sudah lapar. Ada paguyuban yang membantu, kita juga bantu sesuai kemampuan yang ada,” ujarnya.

Setelah memperoleh bantuan makanan, para pekerja diarahkan menuju Dinsos untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Mereka sebelumnya berencana pulang pada 9 Agustus menggunakan kapal, tetapi tidak memiliki biaya untuk perjalanan.

“Mereka ini rencananya mau pulang tanggal 9 nanti naik kapal, tapi mereka tidak punya biaya. Untuk sementara arahan pimpinan, ditampung dulu di shelter. Makannya menggunakan makanan siap saji,” jelasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan tenaga kerja dinsos pekerja