TIDENG PALE – Seorang orang tua siswa mendatangi SMAN Terpadu Unggulan I Tana Tidung, Kamis (25/6), untuk menyampaikan protes terkait hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Protes tersebut dilakukan karena anaknya yang didaftarkan di satu-satunya sekolah menengah atas negeri di Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, tidak terakomodasi dalam penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027.
Rully mempertanyakan kebijakan pihak sekolah yang tidak menerima anaknya di SMAN Terpadu Unggulan I Tana Tidung, padahal lokasi tempat tinggal mereka hanya berjarak sekitar 200 meter dari sekolah.
“Kenapa anak saya tidak diterima di sini, di SMAN TU I Tana Tidung?” tanya Rully kepada panitia SPMB.
Menurutnya, apabila anaknya tidak diterima di SMAN TU I Tana Tidung, maka pilihan sekolah lain berada cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
“Kalau harus ke SMK atau SMA yang ada di Sesayap Hilir, saya tidak mau. Karena jarak sekolah dengan tempat tinggal kami jauh,” ungkapnya.
Rully juga mengaku khawatir terhadap keselamatan anaknya apabila harus bersekolah di luar Desa Tideng Pale.
Pasalnya, jarak dari tempat tinggal mereka menuju sekolah di Sesayap Hilir mencapai sekitar 30 kilometer.
“Sulit juga kami mengawasi karena jauh, belum lagi kecelakaan kalau menggunakan sepeda motor, karena jauh,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta pihak sekolah memberikan toleransi agar anaknya tetap dapat diterima dan bersekolah di SMAN Terpadu Unggulan I Tana Tidung.
Namun hingga akhir pertemuan dengan pihak sekolah, Rully mengaku belum mendapatkan kepastian terkait nasib anaknya.
“Kami tinggal dekat sini. Kenapa banyak orang yang rumahnya jauh, bahkan dari desa lain, bisa masuk di sini?” tanyanya lagi.
Ia menilai regulasi penerimaan siswa yang diterapkan saat ini justru menyulitkan masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah.
“Saya heran dengan aturan yang dibuat pemerintah ini. Rumah dekat sekolah tidak diterima, sementara yang diterima justru yang jauh-jauh,” ujarnya.
Rully pun berharap ada kebijakan yang dapat mempertimbangkan kondisi domisili calon siswa agar anaknya tetap bisa menempuh pendidikan di SMAN Terpadu Unggulan I Tana Tidung.
Ia menegaskan akan terus memperjuangkan hak anaknya untuk bersekolah di sekolah yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Sementara itu, Plt Kepala SMAN Terpadu Unggulan I Tana Tidung, Rudi Umardani, didampingi Ketua Panitia SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, Arman, mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait keluhan yang disampaikan orang tua siswa.
Menurutnya, pihak sekolah hanya bertindak sebagai pelaksana proses penerimaan murid baru, sedangkan penentuan masuk zona aman dilakukan oleh sistem yang bekerja secara otomatis berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Kami tidak memiliki campur tangan dalam menentukan diterima atau tidaknya calon siswa, karena sistem yang bekerja secara otomatis. Daftar peringkat juga bergerak secara otomatis mengikuti hasil perangkingan, yang berdasarkan kuota tahun ini sebanyak 216 siswa, disisipkan untuk dua siswa yang tak naik kelas," jelasnya.
Rudi menerangkan, dalam pelaksanaan SPMB tahun ini terdapat beberapa jalur penerimaan, yakni jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi yang masing-masing memiliki kuota tersendiri.
“Sedangkan sisa kuota dialokasikan melalui skema domisili,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada skema domisili, penentuan kelulusan tidak semata-mata berdasarkan jarak tempat tinggal dengan sekolah.
Sistem juga mempertimbangkan nilai akademik calon siswa yang kemudian diolah dalam mekanisme perangkingan.
“Meski tempat tinggal dekat dengan sekolah, jika nilainya berada di bawah calon siswa lainnya, maka posisinya dalam perangkingan bisa turun secara otomatis, atau bahkan masuk zona kuning atau terdistribusi ke sekolah lain,” terangnya.
Menurut Rudi, pihak sekolah sebenarnya berupaya membantu calon siswa yang belum terakomodasi.
Namun, kewenangan sekolah terbatas karena seluruh proses harus mengikuti regulasi yang berlaku.
“Kami juga ingin membantu siswa yang belum diterima, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa karena harus mengikuti aturan yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, keluhan serupa tidak hanya disampaikan oleh Rully. Sejumlah orang tua calon siswa lainnya juga datang ke sekolah untuk mempertanyakan hasil seleksi yang diumumkan.
“Ada juga orang tua lainnya yang mengeluhkan hal yang sama dan datang langsung kepada kami,” tuturnya. (*)
Editor : Sophian Hadi