Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

192 Mahasiswa KKN UBT Disebar di 16 Desa Tana Tidung, Dinsos-PMD: Momentum Perkuat Pembangunan dan Ekonomi Lokal

Sopian Hadi • Kamis, 18 Juni 2026 | 16:43 WIB
Kepala Dinsos-PMD Tana Tidung M. Arief Prasetiawan
Kepala Dinsos-PMD Tana Tidung M. Arief Prasetiawan

 

TIDENG PALE – Sebanyak 192 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XXII Universitas Borneo Tarakan (UBT) diterjunkan ke 16 desa di Kabupaten Tana Tidung (KTT) mulai 15 Juni hingga 24 Juli 2026.

Kehadiran para mahasiswa tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat desa, tetapi juga membantu pemerintah desa dalam berbagai program pembangunan dan administrasi.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos-PMD) Kabupaten Tana Tidung, M. Arief Prasetiawan, mengatakan pelaksanaan KKN merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang menjadi salah satu tugas perguruan tinggi.

Program tersebut dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Borneo Tarakan.

"Jumlah mahasiswa yang mengikuti KKN tahun ini sebanyak 192 orang dan akan ditempatkan di 16 desa yang telah menyatakan kesiapan menerima peserta KKN," ujarnya, Kamis (18/6).

Desa yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa antara lain Desa Belayan Ari, Bandan Bikis, Bebatu, Buong Baru, Kujau, Limbu Sedulun, Maning, Menjelutung, Mendupo, Priuk, Rian Rayo, Sebawang, Sengkong, Seputuk, Tengku Dacing, Sepala Dalung, dan Tideng Pale.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Tana Tidung juga berencana memberikan sambutan kepada para mahasiswa sebagai bentuk apresiasi atas pelaksanaan program tersebut.

Namun, bentuk penyambutan masih akan disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan anggaran.

"Kami ingin tetap memberikan apresiasi kepada adik-adik mahasiswa yang datang untuk mengabdi di KTT. Bentuknya mungkin sederhana, tetapi tetap memiliki makna bagi mereka," katanya.

Lebih lanjut, Arief menilai keberadaan mahasiswa KKN dapat membantu pemerintah desa dalam berbagai kegiatan, khususnya yang berkaitan dengan administrasi dan program pembangunan desa.

Saat ini sejumlah desa di KTT tengah mengikuti berbagai program dan penilaian, seperti Desa Cinta Statistik, Desa Antikorupsi, hingga lomba desa berprestasi.

"Mahasiswa bisa membantu pemenuhan administrasi, penyusunan dokumen, hingga kebutuhan teknis lainnya. Jadi peran mereka tidak hanya pada kegiatan sosial kemasyarakatan, tetapi juga mendukung tata kelola pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat," jelasnya.

Selain manfaat di bidang pemerintahan, Arief juga melihat pelaksanaan KKN memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa.

Selama menjalani KKN, para mahasiswa tentu membutuhkan tempat tinggal, konsumsi, dan berbagai kebutuhan lainnya yang dapat mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat.

"Ini juga menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat desa. Kehadiran mahasiswa akan meningkatkan aktivitas ekonomi selama mereka berada di lokasi KKN," ungkapnya.

Tak hanya itu, program KKN juga menjadi sarana promosi daerah. Menurut Arief, sebagian besar mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Utara dan luar KTT sehingga dapat mengenal lebih dekat potensi daerah yang selama ini belum banyak mereka ketahui.

"Banyak mahasiswa yang mungkin baru pertama kali datang ke Tana Tidung. Harapan kami, mereka bisa mengenal daerah ini lebih dekat dan membawa cerita-cerita positif tentang KTT ke daerah asal mereka masing-masing," katanya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut membina dan mendampingi mahasiswa selama menjalankan program KKN.

Menurutnya, keberhasilan KKN bukan hanya tanggung jawab pemerintah desa atau kampus, melainkan membutuhkan dukungan bersama dari masyarakat.

Arief menambahkan, pada awalnya seluruh desa di KTT diusulkan menjadi lokasi KKN.

Namun dari 32 desa yang ada, hanya 16 desa yang bisa dipenuhi.

"Mungkin ada pertimbangan dari UBT sehingga belum bisa dipenuhi tahun ini," ujarnya.

Meski demikian, ia berharap pada pelaksanaan KKN tahun-tahun berikutnya semakin banyak desa yang terlibat karena program tersebut dinilai mampu membantu pelaksanaan tugas pemerintahan desa sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa.

"Harapan kami ke depan semakin banyak desa yang menerima mahasiswa KKN. Program ini sangat positif karena memberikan manfaat bagi desa sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa di tengah masyarakat, termasuk dari perguruan tinggi lainnya," pungkasnya.(*)

Editor : Sopian Hadi
#kkn #ubt #Dinsos PMD #pemkab #Tana Tidung