TIDENG PALE – Modus penipuan dengan mengatasnamakan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Tana Tidung (KTT) memakan korban.
Pelaku berpura-pura sebagai petugas Dukcapil dan menawarkan layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Kepala Dinas Dukcapil KTT, Rahmawani, mengungkapkan bahwa korban dihubungi oleh pelaku yang mengaku sebagai petugas resmi.
Pelaku kemudian meminta korban untuk melakukan perekaman data dengan alasan keterlambatan aktivasi IKD.
“Korban diarahkan untuk menginstal aplikasi IKD bodong, bukan aplikasi resmi dari Dukcapil. Dari situ, pelaku diduga mulai mengambil alih akses ponsel korban,” jelasnya, Jumat (24/4).
Tak hanya itu, korban juga diminta mentransfer sejumlah uang dengan dalih biaya materai.
Awalnya hanya sebesar Rp10 ribu, namun setelah itu korban tidak menyadari adanya transaksi lain hingga total kerugian mencapai sekitar Rp900 ribu.Sebelumnya hp korban sempat tiba tiba mati.
“Korban merasa hanya mentransfer Rp10 ribu untuk beli materai sesuai permintaan pelaku. Namun setelah itu, diduga ponselnya sudah dikloning atau diretas.Hp-nya tiba-tiba mati," tambahnya.
Bahkan, pelaku disebut sempat melakukan video call menggunakan atribut menyerupai pakaian dinas Dukcapil Tana Tidung untuk meyakinkan korban.
Dalam panggilan tersebut, korban diminta merekam wajah, yang diduga menjadi celah untuk mengambil data pribadi.
Rahmawani menegaskan, seluruh layanan Dukcapil, termasuk aktivasi IKD, tidak dipungut biaya dan tidak pernah dilakukan di luar mekanisme resmi.
“Pelayanan aktivasi IKD hanya dilakukan di kantor Dukcapil, saat kegiatan jemput bola resmi, atau oleh petugas yang dikenal. Tidak ada layanan melalui telepon, apalagi meminta transfer uang, dan di luar jam kerja. Saat kejadian malam hari," tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan Dukcapil, terutama yang dilakukan di luar jam kerja atau oleh pihak yang tidak dikenal.
“Kalau ada yang mengaku dari Dukcapil dan meminta data atau uang, sebaiknya diabaikan atau segera dikonfirmasi langsung ke kantor kami,” ujarnya.
Sebenarnya, kata Rahmawani, tidak hanya satu kasus, sebelumnya juga sempat terjadi kepada ASN lainnya.
"Tapi mereka menghubungi kami untuk memastikan kebenarannya.Jadi ngak sempat jadi korban," terangnya.
Ia juga menambahkan modus penipuan mengatasnamakan Dukcapil kerap terjadi tidak hanya di Tana Tidung.
"Ada yang mengatasnamakan Dukcapil provinsi, Tarakan, juga pernah,'' bebernya.
Saat ini, korban telah melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Dukcapil KTT juga berencana meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat guna mencegah kejadian serupa terulang.
“Modus penipuan sekarang semakin canggih, jadi masyarakat harus benar-benar hati-hati,” pungkasnya.(ana)
Editor : Sopian Hadi