Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Populasi Sapi di KTT 700 Ekor, Fokus untuk Pengembangan

Sopian Hadi • Minggu, 19 April 2026 | 21:51 WIB
PETERNAK LOKAL: DPP Tana Tidung melakukan vaksinasi kepada seekor sapi. (FOTO: DOK DPPP Tana Tidung)
PETERNAK LOKAL: DPP Tana Tidung melakukan vaksinasi kepada seekor sapi. (FOTO: DOK DPPP Tana Tidung)

 TIDENG PALE – Populasi sapi di Kabupaten Tana Tidung (KTT) saat ini diperkirakan hanya berkisar 700 ekor.

Jumlah tersebut membuat pemerintah daerah memilih fokus pada upaya pengembangan ternak, dibandingkan pemenuhan kebutuhan kurban dari stok lokal.

Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Tana Tidung, Dwi Budi Setiawan, mengungkapkan bahwa total populasi tersebut mencakup seluruh kategori, mulai dari anakan, betina produktif hingga pejantan.

“Populasi sapi kita sekitar 700 ekor. Itu sudah termasuk anakan, pejantan dan betina produktif,” ujarnya, Minggu (19/4).

Dari jumlah tersebut, sapi yang benar-benar siap potong diperkirakan hanya berkisar 200 hingga 300 ekor.

Namun demikian, pemerintah tidak serta-merta mendorong seluruh sapi siap potong untuk dikurbankan. Hal ini dilakukan demi menjaga keberlangsungan populasi ternak di daerah.

“Kalau yang masih produktif atau berpotensi untuk pengembangbiakan, sayang kalau dipotong. Itu kita pertahankan untuk peningkatan populasi,” jelasnya.

Ia menegaskan, jika pemotongan tidak dikendalikan, populasi sapi lokal berpotensi mengalami penurunan signifikan setiap tahunnya.

“Kalau setiap tahun berkurang, misalnya 50 ekor saja, tentu lama-lama bisa merosot jauh,” katanya.

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban, masyarakat disarankan mengambil sapi dari luar daerah agar populasi lokal tetap terjaga.

“Untuk kurban, kita sarankan bisa mengambil dari luar daerah, supaya sapi lokal tetap bisa kita kembangkan,” ungkapnya.

Pria.yang akrab disapa Wawan juga menyebutkan bahwa umur sapi umumnya dapat mencapai hingga 12 tahun.

Namun, produktivitasnya akan menurun seiring bertambahnya usia.

“Sapi bisa hidup sampai 12 tahun, tapi kalau sudah tua tentu tidak lagi optimal untuk produksi,” tambahnya.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah berharap keseimbangan antara kebutuhan kurban dan upaya pengembangan ternak tetap terjaga, sehingga populasi sapi di Tana Tidung tidak terus menurun. (ana)

Editor : Sopian Hadi
#Pemkab Tana Tidung #hewan kurban #DPPP Tana Tidung