Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Potensi Udang Galah Tana Tidung Besar, Pemasaran Tarakan hingga Berau

Sopian Hadi • Rabu, 15 April 2026 | 20:23 WIB
Kabid Perikanan DPPP Tana Tidung Herni
Kabid Perikanan DPPP Tana Tidung Herni
 
TIDENG PALE – Potensi udang galah di Kabupaten Tana Tidung dinilai masih sangat menjanjikan.
 
Bahkan, hasil tangkapan dari sejumlah wilayah seperti Desa Buong Baru, Kecamatan Betayau mampu menembus ratusan kilogram dalam sekali pengiriman.
 
Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DKPPP) Tana Tidung, Herni, mengungkapkan bahwa sejauh ini pemasaran udang galah hasil tangkapan masyarakat masih didominasi pasar lokal dan pengiriman ke Tarakan.
 
“Untuk pemasaran, saat ini masih di sekitar lokal dan ke Tarakan, kadang ke Berau. Dari Buong Baru itu rutin mengirim, kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali. Sekali kirim bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram,” ujarnya, Rabu (15/4).
 
Ia menjelaskan, udang galah yang dipasarkan tersebut bukan berasal dari budidaya, melainkan hasil tangkapan alami masyarakat.
 
Para nelayan setempat menggunakan alat tangkap tradisional seperti bubu dan jala, sehingga kelestarian sumber daya tetap terjaga.
 
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah daerah melalui DKPPP juga telah menyalurkan bantuan alat tangkap berupa ratusan unit bubu kepada masyarakat pada tahun 2023.
 
“Kami pernah memberikan bantuan sekitar 250 sampai 300 unit bubu untuk mendukung aktivitas penangkapan di sana,” jelasnya.
 
Permintaan bantuan bubu juga datang dari Kapuak, Kecamatan Muruk Rian namun belum direspon karena DKPPP belum punya anggaran.
 
"Potensi di sana itu banyak ikan lele rawa, udang juga ada. Potensi di Sungai Butuan itu banyak.Orang luar ngak boleh meracun di sana, bisa kena denda itu," ujarnya.
 
Hal itu juga sama dengan di Buong Baru.
 
Menurut Herni, melimpahnya udang galah di wilayah tersebut tidak lepas dari kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem perairan. 
 
Mereka menerapkan aturan adat yang melarang praktik penangkapan merusak seperti penggunaan racun, terutama oleh pihak luar.
 
“Di sana itu dijaga. Orang luar tidak boleh sembarangan masuk apalagi merusak. Masyarakat hanya menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, makanya sumber daya udang galah tetap banyak,” katanya.
 
Ia menambahkan, dalam satu kali penangkapan selama dua malam, nelayan bahkan bisa memperoleh hasil hingga belasan kilogram udang galah.
 
Selain itu, kondisi ekosistem yang masih alami, termasuk keberadaan predator seperti buaya, turut menjaga keseimbangan lingkungan perairan.
 
“Justru karena masih ada buaya, itu tanda ekosistemnya masih terjaga. Secara tidak langsung itu menjaga keseimbangan alam," tambahnya.
 
Meski potensi udang galah cukup besar, Herni mengakui sebarannya tidak merata dan hanya terdapat di titik-titik tertentu, terutama di anak-anak sungai dengan kondisi perairan yang masih alami.
 
“Potensinya masih banyak, tapi memang tidak merata. Biasanya ada di wilayah tertentu seperti anak sungai yang masih alami, di bawah pohon nifah,” pungkasnya.(ana)
Editor : Sopian Hadi
#udang galah #buong baru #Pemkab Tana Tidung #DPPP Tana Tidung