Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

‎Hipertensi Jadi Penyakit Nomor 1 di Tana Tidung

Sopian Hadi • Minggu, 8 Maret 2026 | 17:23 WIB

LAYANAN KESEHATAN: Puskesmas Tideng Pale termasuk yang menyumbang hasil pemeriksaan pasien hipertensi ke dalam aplikasi data terintegrasi Dinas Kesehatan Tana Tidung.
LAYANAN KESEHATAN: Puskesmas Tideng Pale termasuk yang menyumbang hasil pemeriksaan pasien hipertensi ke dalam aplikasi data terintegrasi Dinas Kesehatan Tana Tidung.
TIDENG PALE – Kasus penyakit tidak menular masih menjadi perhatian di Kabupaten Tana Tidung. ‎Berdasarkan data rekapitulasi puskesmas periode Januari hingga Februari 2026, tercatat sebanyak 900 kasus penyakit yang ditangani fasilitas kesehatan di wilayah tersebut.

‎Dari jumlah itu, hipertensi atau tekanan darah tinggi menempati posisi pertama sebagai penyakit terbanyak dengan 258 kasus.

‎ Di posisi kedua terdapat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan 245 kasus.

‎Selanjutnya, penyakit dispepsia atau gangguan pencernaan berada di urutan ketiga dengan 108 kasus.

‎Disusul faringitis akut atau radang tenggorokan sebanyak 86 kasus, serta common cold atau flu biasa dengan 72 kasus.

‎Kasus lain yang juga cukup banyak ditemukan adalah pulpitis atau radang saraf gigi dengan 64 kasus.

‎Kemudian diabetes melitus sebanyak 48 kasus, myalgia atau nyeri otot 38 kasus, dan hiperkolesterolemia atau kadar kolesterol tinggi sebanyak 24 kasus.

‎Sementara itu, gastritis dan duodenitis berada di peringkat kesepuluh dengan 9 kasus.

‎Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Tidung, H. M. Sarif, mengatakan data tersebut merupakan hasil rekap pelayanan kesehatan yang terintegrasi dari puskesmas hingga rumah sakit di daerah ini.

‎Menurutnya, tingginya kasus hipertensi tidak terlepas dari berbagai faktor yang berkaitan dengan pola hidup masyarakat.

“Hipertensi ini banyak dipengaruhi pola hidup. Kurang tidur, stres, pola makan yang tidak sehat, hingga faktor genetik bisa memicu tekanan darah tinggi,” ujarnya, Jumat (6/3).

‎Ia menjelaskan bahwa tekanan darah merupakan kondisi yang cukup sensitif.

‎Dalam waktu singkat saja, tekanan darah seseorang bisa berubah akibat faktor fisik maupun psikologis.

‎Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan pola hidup sehat, seperti menjaga pola makan, mengurangi konsumsi garam dan makanan berlemak, rutin berolahraga, serta cukup beristirahat.

‎Selain hipertensi, penyakit diabetes melitus juga menjadi perhatian karena termasuk penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik.

‎Menurutnya, upaya pencegahan dapat dilakukan melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar penyakit dapat dideteksi lebih dini.

‎Tingginya kasus penyakit tidak menular ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto melalui pembangunan rumah sakit dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di RSUD Achmad Berahim.

‎“Semua kasus penyakit tersebut, termasuk penyakit jantung, dapat ditangani di RSUD Achmad Berahim,” ungkapnya.

‎Bahkan, kata Sarif, Tana Tidung kembali mendapatkan empat dokter spesialis yang akan bertugas di RSUD yang baru rampung tersebut.

‎“Insya Allah dalam waktu dekat kita akan mendapatkan tambahan dokter spesialis, seperti dokter jantung, urologi, neurologi, dan rehabilitasi medik,” katanya.

‎Penambahan tenaga medis tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penanganan berbagai penyakit di daerah, sehingga masyarakat tidak perlu lagi banyak dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

‎“Jika dokter spesialis sudah tersedia dan peralatannya lengkap, maka sebagian besar penyakit yang dominan di Tana Tidung dapat ditangani di sini,” kata Sarif.

‎Dinas Kesehatan juga terus mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengikuti kegiatan skrining kesehatan yang dilakukan di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya.

‎ Dengan deteksi dini, berbagai penyakit dapat ditangani lebih cepat sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.

‎Upaya edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar kesadaran menjaga kesehatan semakin meningkat, terutama dalam menghadapi tren penyakit tidak menular yang cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. (ana/lim)

Editor : Azward Halim