Kebijakan ini diambil karena keterbatasan lahan efektif, dengan lebih dari separuh wilayah masuk kawasan hutan.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Tana Tidung, Rudi A. Pi, menjelaskan sekitar 53 persen wilayah daerah ini merupakan kawasan hutan.
Sisa wilayah lainnya juga telah terpotong ruang air seperti sungai, laut, serta area perizinan perusahaan, sehingga ruang tersedia untuk pembukaan sawah baru sangat terbatas.
“Kami tidak mengusul cetak sawah baru karena lahannya memang tidak tersedia. Fokus kami optimalisasi lahan yang sudah ada, terutama program oplah 300 hektare yang sudah berjalan dengan berkolaborasi dengan TNI,” ujarnya, Jumat (20/2) pagi.
Target luas tanam sawah tahun 2025 lalu dari kegiatan oplah sawah dan kegiatan sawah reguler mencapai 600 ha.
Melalui program oplah, lahan sawah yang sebelumnya hanya satu kali tanam didorong menjadi dua kali tanam dalam setahun.
Intervensi dilakukan lewat bantuan pupuk dan penggunaan benih bersertifikat untuk meningkatkan produktivitas. “Permasalahan utama dalam optimalisasi sawah adalah SDM petani, sebagian besar petani usia tua, teknologi tradisional dan skala usahanya kecil,” bebernya.
Lokasi oplah tersebar di sejumlah titik seperti Tideng Pale Seberang, Gunawan, Safari, Tanah Merah, Sambungan dan Tengku Dacing.
Produktivitas sawah tercatat rata-rata di atas 2,5 ton per ha, sementara padi ladang sekitar 0,7-1 ton per ha sekali panen. Dengan angka tersebut produksi beras lokal masih belum mampu memenuhi kebutuhan daerah.
Dari estimasi kebutuhan dengan jumlah penduduk 30 ribu sekitar 3.000 ton per tahun. Namun yang dapat dipenuhi petani lokal tahun lalu hanya sekitar 400 ton atau sekitar 13 persen. Sisanya dipasok dari luar.
Secara hitungan agribisnis, usaha sawah skala kecil dinilai kurang menguntungkan.
“Kalau luasnya di bawah dua hektare, HPP-nya lebih murah beli di warung, tidak nutup dia, kecuali di atas dua hektar baru untung. Jadi bagi sebagian masyarakat ini lebih ke budaya tanam, bukan hitungan bisnis,” katanya.
Karena itu, penguatan ekonomi desa juga diarahkan ke sektor lain seperti perkebunan sawit pola plasma, perikanan, dan budi daya walet.
Dinas memanfaatkan balai benih ikan untuk menebar bibit ke sungai dan danau agar berkembang alami dan meningkatkan hasil tangkapan masyarakat.
Menurutnya, kombinasi pengembangan plasma sawit, walet, dan perikanan akan membentuk ekosistem ekonomi desa yang saling menopang dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah optimistis perputaran ekonomi masyarakat akan semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada belanja pegawai. (ana/lim)
Editor : Azward Halim