Namun, penataan lanjutan berupa taman dan penghijauan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan anggaran.
Kepala Dinas PUPR Perkim Tana Tidung, H. Hadi Aryanto, menjelaskan bahwa pada tahap awal pembangunan tahun lalu difokuskan pada pekerjaan struktural berupa retaining wall sebagai penahan tanah.
Sementara itu, penambahan elemen estetika seperti taman dan penghijauan belum dianggarkan.
“Memang tahun kemarin kita hanya mengerjakan retaining wall saja sebagai penahan tanah. Untuk pembentukan taman, penghijauan, dan elemen pendukung lainnya akan dilaksanakan pada tahap berikutnya,” jelasnya.
Ia menegaskan, secara teknis pekerjaan utama sudah selesai. Namun secara visual, kawasan tersebut belum tampak maksimal karena penataan tamannya belum terealisasi.
Hal ini disebabkan pembangunan dilakukan secara bertahap setiap tahun, bergantung pada alokasi anggaran yang tersedia.
“Tahun ini belum ada anggarannya karena terdampak efisiensi anggaran,” ujarnya.
Ke depan, kawasan tersebut dirancang memiliki konsep yang lebih menarik.
Salah satu rencana penataan adalah penambahan aksesori berupa kolam di bagian tebing yang dibuat mengalir ke bawah, menyerupai air terjun.
Konsep ini juga akan terintegrasi dengan taman dan landmark RTH H. Joesoef Abdullah.
“Konsepnya nanti ada kolam di tebing yang airnya mengalir ke bawah, jadi seperti air terjun. Ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri,” tambahnya.
Pembangunan kawasan ini ditujukan untuk menambah ikon Tana Tidung sehingga dapat meningkatkan daya tarik daerah, khususnya pada malam hari, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dengan adanya penataan kawasan yang representatif, pemerintah berharap dapat menghidupkan aktivitas UMKM di sekitarnya dan menjadikannya sebagai pusat wisata serta pusat ekonomi baru.
“Tujuan akhirnya adalah perputaran ekonomi. Kita ingin kawasan ini menjadi pusat aktivitas masyarakat, pusat wisata, dan mendukung UMKM agar semakin berkembang,” pungkasnya. (ana/lim)