0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Efisiensi Anggaran, Kesbangpol Tana Tidung Genjot Pendidikan Politik lewat Podcast

Sopian Hadi • Kamis, 5 Februari 2026 | 04:46 WIB

LEBIH EFEKTIF: Kesbangpol manfaatkan digitalisasi lewat aplikasi Baloy Kesbangpol untuk pendidikan politik bagi pelajar.
LEBIH EFEKTIF: Kesbangpol manfaatkan digitalisasi lewat aplikasi Baloy Kesbangpol untuk pendidikan politik bagi pelajar.
TIDENG PALE – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tana Tidung menerapkan strategi digital dalam pelaksanaan pendidikan politik tahun 2026 sebagai respons atas kebijakan efisiensi anggaran.

‎Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Tana Tidung, Firman Rudding, mengatakan pendidikan politik kini lebih difokuskan melalui podcast, video pendek, dan platform digital, tanpa harus mengeluarkan anggaran besar.

‎“Dengan video pendek dan podcast, kita bisa melakukan pendidikan politik tanpa biaya besar. Tinggal diproduksi, lalu dibagikan lewat media sosial maupun langsung ke partai politik,” kata Firman.

‎Podcast pendidikan politik tersebut diproduksi secara offline (tidak live) dan telah dipersiapkan sejak tahun lalu, mulai dari pelatihan host, pengenalan alat sederhana, hingga uji coba konten.

‎Sasarannya tidak hanya gen z tapi juga pada masyarakat umum dan partai politik.

‎Salah satu narasumber yang pernah dihadirkan yakni Kepala Dinas Capil, membahas kesiapan pemutakhiran data pemilih tahun 2029.

‎"Ini tahap awal, ke depan bisa live, cuma masih terkendala anggaran," ujarnya.

‎Selain podcast, Kesbangpol juga mengembangkan aplikasi pendidikan politik digital berbasis web bernama Baloy Kesbangpol, yang menyasar pelajar SMA.

‎“Di aplikasi ini, peserta bisa belajar lewat video, materi PDF, lalu mengikuti ujian untuk mengukur pemahaman mereka tentang demokrasi dan kepemiluan,” jelasnya.

‎Aplikasi tersebut juga digunakan dalam kegiatan Olimpiade Demokrasi, di mana hasil ujian peserta dapat langsung diketahui pada hari yang sama.

‎Pemberian penghargaan dilakukan setahun sekali untuk juara 1 hingga 4 berhak mendapat uang tunai.

‎ Dengan masa belajar yang fleksibel sebelum peserta mengikuti ujian.

‎Firman menambahkan, pendekatan digital ini juga menjadi solusi karena kegiatan pendidikan politik ke lapangan yang sebelumnya menjangkau lima kecamatan kini difokuskan hanya satu kecamatan, dengan dukungan metode daring.

‎“Harapannya, sejak dini pelajar sudah melek politik, mampu menyaring informasi, memahami demokrasi, dan berani menyampaikan aspirasi secara sehat,” pungkasnya. (ana/lim)

Editor : Azward Halim