Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Stok Daging Ayam Jelang Ramadan di Tana Tidung Aman, Pemda Dorong Kemandirian Peternakan Lokal

Sopian Hadi • Sabtu, 31 Januari 2026 | 02:37 WIB

DIPASTIKAN AMAN: Selain lokal, daging ayam di Tana Tidung juga disuplai dari Berau.
DIPASTIKAN AMAN: Selain lokal, daging ayam di Tana Tidung juga disuplai dari Berau.
TIDENG PALE – Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan memastikan ketersediaan dan keamanan stok daging ayam di Tana Tidung dalam kondisi aman. Hal tersebut disampaikan oleh Dwi Budi Setiawan, S.Pt, selaku penelaah teknis kebijakan, saat ditemui di sela kegiatan pemantauan sektor peternakan.

‎Pria yang akrab disapa Wawan menjelaskan bahwa stok ayam potong di Tana Tidung saat ini tidak perlu dikhawatirkan. Pasokan ayam berasal dari peternakan lokal yang tersebar mulai dari wilayah Badan Bikis hingga perbatasan Tana Tidung-Malinau, dengan konsentrasi peternakan berada di sekitar jalur jalan provinsi dan beberapa desa seperti Betayau.

‎“Kalau stok daging ayam, insyaallah aman. Peternakan ayam di Tana Tidung itu ada, dan hampir semua desa terlayani,” ujarnya.

‎Selain pasokan lokal, kebutuhan daging ayam juga disuplai dari Kabupaten Berau, yang dikenal memiliki produksi ayam berlebih sehingga rutin melakukan distribusi ke daerah lain, termasuk Tana Tidung.

‎Meski demikian, Pemerintah Daerah tetap mendorong penguatan peternakan mandiri berbasis lokal.

‎Menurut Dwi Budi, persaingan bisnis tidak bisa dihindari, namun perlu adanya perlindungan agar peternak lokal tidak tertekan oleh masuknya produk dari luar daerah dengan harga lebih murah.

‎Sebagai bentuk intervensi, peternak lokal mulai difasilitasi untuk berjualan langsung di pasar. Salah satunya adalah Pak Aco, peternak ayam lokal, yang menjual ayam dengan harga Rp 48.000 per kilogram, sehingga harga pasar yang sebelumnya Rp 55.000 kini turun menjadi sekitar Rp 50.000 per kg

‎“Walaupun selisih Rp 5.000 kelihatannya kecil, tapi itu cukup berarti bagi masyarakat,” jelasnya.

‎Ia menjelaskan harga ayam ini tergantung dari pakan. Jika bisa didatangkan blangsung dari pabrik bisa lebih murah.

‎Dalam upaya menekan biaya produksi, khususnya pakan ayam, pemerintah juga telah menyiapkan mesin mixing pakan yang terdiri dari mesin penggiling jagung, mesin pipil, dan mesin pencampur. Untuk sementara, mesin tersebut ditempatkan di poskeswan karena keterbatasan bangunan dan belum tersedianya UPT khusus.

‎Ke depan, dinas juga merencanakan pelatihan pembuatan pakan mandiri bagi peternak ayam petelur. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku, seperti jagung, dedak, dan konsentrat.

‎“Jagung harus dijaga kualitasnya, terutama kadar airnya di angka 12-14 persen. Konsentrat tetap dari pabrikan, tapi jagung bisa kita intervensi lewat sektor pertanian,” terangnya.

‎Oleh karena itu, sinergi dengan bidang pertanian menjadi kunci utama, khususnya dalam pengembangan tanaman jagung, padi dan dedak. (ana/lim)

Editor : Azward Halim