Pasalnya, sebagian besar kebutuhan sayur dan ikan masih bergantung dari daerah luar.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Tana Tidung, Rudi A. Pi, mengungkapkan bahwa saat ini produksi pangan lokal di KTT masih bersifat sangat terbatas.
“Kalau untuk kebutuhan lokal, saya yakin masih bisa. Tapi untuk menopang MBG, terutama sayur dan ikan, memang masih banyak bergantung dari luar daerah,” ujarnya.
Menurut Rudi, strategi yang harus disiapkan pemerintah daerah adalah dengan memperkuat kemitraan, baik dengan pelaku usaha pangan di luar daerah maupun lembaga seperti Bulog, khususnya untuk komoditas beras apabila produksi lokal tidak mencukupi.
“Untuk ayam petelur sudah bisa, ayam potong juga sudah bisa. Ikan juga ada. Tapi tetap harus diperkuat dengan kemitraan, terutama dengan kelompok nelayan dan petambak, karena kebutuhan MBG itu sifatnya harian,” jelasnya.
Ia menambahkan, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program tersebut, sehingga skema kemitraan menjadi solusi yang paling realistis saat ini.
Sementara itu, luas lahan pertanian sayur di KTT masih sangat terbatas. Rudi memperkirakan, luas hortikultura yang ada saat ini belum mencapai sepuluh hektare dan sebagian besar masih bersifat pendukung.
Ke depan, pemerintah daerah mendorong pengembangan pertanian hidroponik sebagai solusi jangka menengah dan panjang.
“Hidroponik ini bisa memaksimalkan lahan pekarangan, produksinya bisa diatur sesuai kebutuhan, dan perawatannya relatif lebih mudah. Saya arahkan kelompok wanita tani ke sana,” katanya. (ana/lim) Editor : Azward Halim