TANA TIDUNG - Di sebuah sore yang teduh di Tana Tidung, suara telepon di markas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) kembali berdering nyaring.
Bagi para petugas, suara itu bukan sekadar panggilan biasa—tetapi sinyal bahwa ada seseorang di luar sana yang sedang membutuhkan pertolongan.
Sehari-hari, banyak orang mengenal Damkar hanya sebagai pemadam api. Mereka identik dengan kobaran api yang menjulang, selang air bertekanan tinggi, dan sirene yang meraung-raung di jalanan.
Setelah beberapa menit penuh ketegangan, akhirnya kunci itu berhasil ditemukan. Wajah pelajar tersebut berubah lega, dan ia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
“Ujung-ujungnya Damkar lagi yang jadi harapan. Kami senang bisa membantu, meski kadang hanya untuk hal kecil seperti ini,” kata Ali sambil tersenyum bangga.
Bagi tim Damkar Tana Tidung, setiap panggilan adalah janji yang harus dipenuhi. Entah itu kebakaran besar, penyelamatan hewan, atau sekadar kunci yang jatuh di parit, mereka selalu siap siaga.
Baca Juga: Marak Aksi Demo, Bupati Tana Tidung Ingatkan Warga: Jangan Termakan Hoaks!
Di balik seragam yang sering basah oleh keringat dan lumpur, tersimpan hati yang penuh kepedulian.
Mereka bukan hanya pemadam api, tetapi juga pahlawan sunyi yang hadir dalam setiap detik darurat, memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian menghadapi masalahnya.
“Damkar bukan hanya soal api,” tutur Ali pelan.
Baca Juga: Lestarikan Budaya Lokal, Ratusan Peserta Ramaikan Pekan Kebudayaan Daerah Tana Tidung 2025
“Ini tentang hadir untuk masyarakat, kapan pun, dalam keadaan apa pun," tutupnya.(ana)