TANA TIDUNG – Di sebuah rumah Jalan Padat Karya, Desa Tideng Pale Timur, Kabupaten Tana Tidung, suara sorak kecil terdengar dari ruang keluarga.
Nabil El zarh, remaja berusia 15 tahun, menatap layar YouTube dengan mata membelalak.
Ia baru saja mendengar namanya disebut sebagai salah satu dari dua wakil Kalimantan Utara yang lolos seleksi nasional Paskibraka 2025 pada Rabu (2/7).
“Saya sampai kaget waktu dengar. Nonton live bareng adik, mama waktu itu lagi pergi. Mama bilang, kalau ada kabar baik baru kabari mama,” kenangnya sambil tersenyum, Kamis (3/7).
Remaja yang kini duduk di kelas XI SMA Negeri Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung itu dikenal periang penuh semangat dan tekun.
Lahir pada 16 Agustus 2009, Nabil tumbuh sebagai anak kedua dari tiga bersaudara di bawah asuhan Idris Hendro Wibowo (Sekretaris DPUPR) dan Nunung Susilawati (ibu rumah tangga).
Ayahnya seorang ASN di Tana Tidung berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, sementara ibunya merupakan penduduk asli Tana Tidung, suku Tidung.
Perjalanan Nabil tidak mudah. Dari seleksi di tingkat kabupaten, ia bersaing dengan banyak siswa dari berbagai sekolah. Tes kesehatan, parade baris-berbaris, hingga wawasan kebangsaan dilaluinya dengan sungguh-sungguh.
Saat mewakili Kalimantan Utara ke tingkat nasional, Nabil bersama enam peserta lainnya langsung digiring ke rumah sakit sesampainya di Jakarta untuk menjalani serangkaian tes kesehatan intensif.
“Di hari pertama langsung tes kesehatan. Besoknya dilanjutkan pemeriksaan lebih lengkap. Semua harus prima. Karena kalau sakit, bisa langsung digantikan,” jelasnya.
Tinggi badannya mencapai 175 cm, berat 61 kg, menjadikan postur tubuhnya ideal untuk menjadi pengibar bendera di Istana Negara Jakarta atau di Ibu kota Negara (IKN) Nusantara.
"Saya belum dapat informasi upacara di mana, cuma kalau Karantina di Jakarta. Kalau tahun lalu di IKN upacaranya," ucapnya.
Namun, bukan itu saja yang membuatnya terpilih—ketekunan, sikap disiplin, dan mental yang kuat menjadi penentu utama. Tak banyak yang tahu, di balik tampangnya yang kalem, Nabil punya banyak sisi menarik.
Ia gemar menyanyi saat senggang, bermain futsal, berenang, bahkan latihan angkat beban. Catur pun menjadi salah satu hobi sunyinya yang melatih strategi dan fokus.
Ketika ditanya soal cita-cita, jawabannya lugas: TNI (masuk Akmil). Bagi Nabil, dunia militer adalah simbol kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengabdian—nilai-nilai yang sudah ia mulai tanamkan sejak bergabung di ekstrakurikuler paskibra sejak duduk di bangku kelas X.
“Dulu nggak kepikiran bisa sejauh ini. Tapi setelah ikut seleksi, saya mulai yakin ini jalannya. Saya berharap lolos nasional ini jadi modal saya untuk masuk militer,” kata remaja yang juga pernah juara Syahril Quran MTQ tingkat Kabupaten Tana Tidung.
Di akhir perbincangan, Nabil menyampaikan pesan hangat untuk adik-adik dan rekan-rekan seusianya yang ingin mengikuti jejaknya.
“Yang penting itu niat. Jangan takut mencoba, terus jaga kesehatan, disiplin, dan jangan malas. Kalau saya yang dari daerah kecil bisa, kamu juga pasti bisa,” tutupnya dengan senyum yang menyiratkan keyakinan dan semangat.(ana)
Editor : Azwar Halim