SOPIAN HADi, Tana Tidung
MULAI pukul 06.00 WITA, masyarakat Tana Tidung satu per satu mulai berdatangan di Pelabuhan Keramat yang berada di Desa Limbu Sedulun, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung.
Meski cuaca mendung dan sedikit dingin, masyarakat tetap antusias menuju pelabuhan speedboat reguler tersebut dengan membawa beragam jenis kue utamanya ketupat, untuk mengikuti tradisi doa tulak bala yang dikemas dalam acara gelar budaya dan tradisi tulak bala Kabupaten Tana Tidung 2023.
Selain anak anak hingga orang dewasa, acara ini juga dihadiri Asisten I Setkab Tana Tidung Idham Noor mewakili Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali yang tak bisa hadir karena harus mengikuti kegiatan di Jakarta. Hadir juga tokoh masyarakat, tokoh agama, anggota DPRD dan Kementerian Agama Tana Tidung.
Selain doa bersama, tradisi ini juga diisi dengan kegiatan mandi safar atau menjiu salamun dan bertimbang safar. Kegiatan ini dipimpin oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Momen ini pun tidak dilepaskan masyarakat untuk ikut ambil bagian.
Karena menurut kepercayaan masyarakat suku Tidung, doa tulak bala, mandi hingga bertimbang Safar bisa menjaga atau menghindarkan kita dari hal hal negatif seperti bencana.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tana Tidung Irdianyah mengatakan, Tana Tidung memiliki ragam tradisi dan budaya yang masih melekat dalam kehidupan di masyarakat salah satunya tradisi tulak bala di bulan Safar.
Tradisi tulak bala sudah menjadi tradisi turun temurun yang tidak bisa ditinggalkan. Karena menurut kepercayaan masyarakat Tidung, bulan Safar dipercaya dengan bulan yang penuh dengan bala, maka pada bulan tersebut masyarakat Tidung wajib melakukan tulak bala.
“Acara tulak bala adalah doa bersama dilakukan di Rabu awal Safar dan akhir bulan Safar,” jelas Irdiansyah.
Pada acara doa bersama ini, masyarakat Tidung biasanya membawa beraneka ragam kue dan makanan. Ciri khasnya imbiyuku dalam bahasa Tidung, atau ketupat bahas Indonesianya.
Imbiyuku terbuat dari kayu nipah yang diisi dengan beras ketan dan dicampur dengan santan kelapa, setelah itu baru dimasak.
Setelah doa bersama, dilanjutkan dengan menjiu salamun. Menurut kepercayaan masyarakat Tidung bahwa mandi dengan air mengalir diharapkan seluruh penyakit yang ada di dalam tubuh dibawa oleh air termasuk sifat sifat negatif.
Selanjutnya kegiatan menimbang bayi yang lahir di bulan Safar dengan berbagai sayuran dan makanan. Tujuannya agar si anak kelak mempunya sifat dan perilaku yang baik dan terhindar dari segala bahaya ata hal hal negatif.
“Tulak bala artinya menolak bala, memohon kepada sang pencipta supaya kita terhindar atau dijauhkan dari bala, dengan mengharapkan tidak terjadi musibah di tempat kita atau di daerah kita,” kata Irdiansyah.
Irdiansyah menjelaskan, sesuatu yang terjadi semua kehendak Allah. Sebagai manusia, kita tidak tahu dan dapat menolak bala.
“Karena itu dilaksanakan tulak bala, agar kita bersama bersama berdoa memohon kepada Allah SWT, agar kita semua terhindar dari bala dan dijauhi bencana,” ujar Iridiansyah.
Pada acara tulak bala, ketupat yang dibawa memiliki berbagai macam bentuk. Setiap bentuk memiliki filosopi.
Nasi ketan yang dibungkus dalam daun nipah menjadi satu kesatuan, melambangkan bahwa kita percaya adanya Allah SWT.
Imbiyuku sudut lima melambangkan rukun Islam ada 5, imbiyuku sudut enam melambangkan rukun iman ada 6.
Maka dari itu, kita tidak bisa memisahkan adat dengan agama. Adat harus berdampingan dengan agama. Bila agama ditinggalkan dikhawatirkan salah jalan, jadi tradisi harus berdampingan dengan agama.
Tolak bala, mandi, bertimbang tidak bisa dipisahkan yang selama ini dipercaya sebegai tolak bala yang dilaksanakan di bulan kedua atau bulan safar.
Acara ini biasanya dilaksanakan di pinggir sungai, laut laut atau di tempat tempat yang ditentukan.Kegiatan juga dilaksanakan tidak hanya di Tana Tidung tapi juga di daerah lainnya.
“Kegiatan ini sangat kental dengan agama Islam meski tidak masuk dalam rukun Islam, akan tetapi sangat identik dengan nuansa Islam,” ujar Irdiansyah.
Tolak bala menjadi salah satu identitas budaya suku Tidung, sarat dengan adat istiadat, sarat budaya. Tradisi tulak bala ini juga membangun rasa persatuan dan kesatuan, rasa kebersamaan dan persaudaraan. Tradisi ini tidak membedakan di setiap masyarakat.
“Semua masyarakat bisa mengikuti tolak bala ini, di luar suku Tidung pun boleh mengikuti, dengan tujuan melestarikan budaya suku Tidung dan membangun silaturhami etnis di Tana Tidung,” tutup Irdiansyah.
Sementara Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Setkab Tana Tidung Idham Noor mengatakan, pada dasarnya semua bulan dalam tahun hijrah adalah baik, tidak ada bulan buruk, begitu juga dengan hari semua baik, tidak ada hari buruk.
“Namun sebagai masyarakat berbudaya, tentu kita memiliki budaya tradisi yang harus dilestarikan dari generasi ke genaresi, salah satunya budaya yang masih kita lestarikan adalah tardisi tulak balak bulan Safar, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam,” ujar Idham Noor.
Lanjut dijelaskan, dalam kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin, disebutkan pada bulan Safar diturunkan 320 ribu cobaan kepada manusia. Cobaan ini bisa karena dosa kita sehingga turun azab, dan mara bahaya. Untuk terhindar dari bencana, maka sudah sepantasnya bermunajat kepada Allah SWT.
“Esensi dan subtansi digelarnya adat budaya tolak bala ini, tidak lain memohon pelindungan kepada maha yang merajai alam semesta ini, tanpa pertolongan dan lindungan-Nya, aka tidak ada daya upaya untuk selama dari maha bahaya, maka dari itu marilah kita bersama sama memohon ampunan atas godaan dan dosa yang kiuta lakukan baik di sadari maupun tidak sadari,yang disengaja maupun tidak,” ucap Idham Noor.
Bupati mengharapkan, doa tolak bala yang yang dibacakan untuk diri keuarga dan masyarakat Tana Tidung mendapat perlindungan dari segala bencana dan bala.
Usai doa bersama, masyarakat bertukar kue atau makanan yang dibawa dari rumah. Dengan harapan membawa keberkahan dan terhindar dari musibah. (*/har) Editor : Azwar Halim