TANA TIDUNG - Warga di Desa Tideng Pale,Kecamatan Sesayap, selalu mengeluhkan susahnya mencari tabung gas elpiji 3 kilogram. Pasalnya baru dua hari kedatangan langsung ludes sehingga warga lainnya tak kebagian.
Pantauan awak media ini di lapangan kedatangan tabung gas elpiji 3 kilogram dari Berau Kaltim yang perbulannya Tana Tidung mendapatkan jatah 3 ribu dengan 3 kali kedatangan, dianggap warga tidak merata dalam proses penyalurannya.
"Ini kalau saya anggap tidak merata mas, masa baru saja dua hari tabung sudah habis, pas mau beli semua pangkalan kosong bagaimana ini," kata salah satu warga Yayan (33) yang saat itu keliling mencari elpiji.
Jepri (30) warga lainnya pun mengeluhkan pendistribusian elpiji 3 kilogram ini sangat tidak efektif, pendistribusian elpiji 3 kilogram tersebut sudah diatur oleh pemerintah menggunakan kartu kendali dimana warga harus membawa kartu untuk membeli elpiji ke pangakalan.
"Saya meski memakai kartu kendali ini juga tidak efektif karena terkadang pas mau beli juga tiba-tiba kosong, jadi kalau mau dapat begitu mobilnya datang kita harus ada di situ kalau tidak langsung habis tidak sempat bermalam. Nah kasian yang tidak sempat beli saat itu," keluhnya.
Ia menilai jatah untuk KTT tidak sesuai dengan ketika truk pengangkut elpiji sampai ke Kabupaten Tana Tidung.
"Bisa saja kan truk itu singgah di jalan dan menjualnya kepada yang lain, karena sering warga melihat dan mendapatkan informasi bahwa truk tersebut sering mampir ke lain untuk menjual elpiji itu ke yang lain. Ketika sampai di Tana Tidung itu sudah berkurang jumlahnya," ungkapnya.
Menurutnya,pemerintah dalam hal ini dinas terkait harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap oknum yang memanfaatkan kesempatan ini.
"Kalau bisa ketika truk itu tiba di Tana Tidung saya menyarankan mohon pihaknya memeriksa satu persatu di atas truk, apakah isi dari tabung tersebut penuh atau malah kosong. Jika kosong berarti itu sudah ditukar selama dalam perjalanan ke Tana Tidung jika seperti ini kasian warga tidak kebagian terus," katanya seraya kesal elpiji yang dicari tak kunjug dapat.
Terpisah Kepala Dnas Disperindagkop dan UMKM, H Hadi mengatakan Disperindagkop sering melakukan pengawasan terhadap agen maupun pangkalan yang ada di Kabupaten Tana Tidung. Ini bertujuan agar kelangkaan tidak lagi terjadi dan elpiji menjadi tepat sasaran, HET pun sudah diatur oleh pemerintah yaitu Rp 27 ribu pertabung.
“Selalu kami melakukan pengawasan kepada agen dan juga toko-toko yang ada di Tana Tidung ini kita juga bekerja sama dengan Bumdes, ini kita lakukan untuk mengantisipasi oknum yang bermain," ujanya.
Pihaknya akan terus melakukan pengawasan lebih ketat terhadap laporan-laporan warga yang selama ini dikeluhkan.
"Kami akan terus melakukan pengawasan karena memang ini adalah tugas kami," ungkapnya. (rko/har)
Editor : Azwar Halim