Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Di Tengah Pencemaran, Hari Air Se-Dunia Penuh Keprihatinan, Mahakam yang Dulu Bersih, Kini Tidak Aman Lagi

Radar Tarakan • Jumat, 28 Maret 2025 | 09:00 WIB

 

ISTIMEWA BERI PERINGATAN. Komunitas XR Bunga Terung memeringati Hari Air Se-Dunia tahun 2025.
ISTIMEWA BERI PERINGATAN. Komunitas XR Bunga Terung memeringati Hari Air Se-Dunia tahun 2025.

SAMARINDA - Untuk menyambut peringatan Hari Air Se-Dunia tahun 2025, XR Bunga Terung kembali mengkritisi kondisi Sungai Mahakam yang kian terancam, karena eksploitasi alam yang luar biasa di kawasan Hutan Kaltim.

Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Kaltim ini dinilai sudah berada di ambang krisis ekologis akibat aktivitas industri ekstraktif dan alih fungsi lahan yang tak terkendali.

Juru bicara XR Bunga Terung, Winda menyebut bahwa Sungai Mahakam bukan sekadar aliran air, tetapi juga “urat nadi kehidupan” yang menopang budaya, ekonomi, dan keseharian warga di Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, hingga Samarinda.

“Air Sungai Mahakam yang dulunya bersih, kini sudah tidak aman lagi dikonsumsi. Bahkan setelah diolah pun, banyak warga mengaku tak nyaman menggunakannya. Ini kondisi darurat, air kita sedang sekarat,” ucapnya.

XR Bunga Terung pun menilai bahwa pencemaran Sungai Mahakam terjadi akibat limbah dari penebangan hutan, tambang batubara, serta pupuk dan pestisida dari perkebunan sawit. Selain itu, limbah domestik dari permukiman warga turut memperparah kondisi air.

“Dulu Mahakam disebut air kehidupan atau Tirta Amerta. Sekarang malah menjadi tempat pembuangan limbah industri. Ini pengkhianatan terhadap sejarah sungai yang sudah menghidupi kita berabad-abad,” tegasnya.

Pihaknya pun mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mengambil langkah konkret. “Pertama, hentikan deforestasi di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. Kita butuh moratorium pembukaan lahan baru yang tidak sesuai dengan daya dukung air,” bebernya.

Ia juga menekankan pentingnya menghentikan privatisasi sungai demi kepentingan segelintir pihak. Di mana Sungai Mahakam bukan milik korporasi. Namun merupakan ruang hidup bersama. Dan air bersih adalah hak setiap warga dan harus dipenuhi negara.

Langkah lainnya, adalah konservasi dan rehabilitasi ekosistem sungai. Agar Sungai Mahakam bisa kembali menjadi habitat bagi Pesut, bagi 147 spesies ikan dan ratusan jenis burung.

“Jangan biarkan spesies endemik kita punah karena airnya kita biarkan mati,” ungkapnya.

Ia mengingatkan, air bersih adalah prasyarat utama membangun peradaban dan kualitas manusia.

“Mau kasih beasiswa sampai doktor pun tidak akan berarti kalau air minum mereka tercemar,” pungkasnya. (mrf/nha/jnr)

Editor : Azwar Halim
#samarinda #pencemaran #kaltim #Mahakam