JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI fraksi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas mendorong kehadiran negara untuk menciptakan kebijakan dan regulasi yang berpihak pada kesejahteraan dan kemajuan penulis Indonesia.
Sebab, membaca dan menulis adalah bagian dari memajukan bangsa.
Pernyataan itu disampaikan Ibas dalam Audiensi dengan penulis perempuan muda Indonesia bertajuk 'Ibu Punya Mimpi, Perempuan Berkisah: Penulis Indonesia Mendunia Tak Terbatas' di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/3).
Baca Juga: DPR Apresiasi Pemberian THR ke Pengemudi Ojol
"Kita harus tau dalam kehidupan sekarang ini, tidak mudah menjadi penulis. Ada tantangan dan kendala yang dihadapi. Apalagi di era digital saat ini," kata Ibas.
Putra bungsu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga menyoroti maraknya plagiarisme atau pembajakan buku yang merugikan penulis. Hak cipta kerap diabaikan dan mengancam kesejahteraan para penulis.
"Akibatnya penulis pemula akan kesulitan mengembangkan keahliannya dalam menulis," cetus Ibas.
Ibas menekankan, yidak hanya dunia musik yang perlu menjadi perhatian, tetapi juga literasi dan keluhan para penulis perlu menjadi peehatian.
“Kami di MPR RI, Fraksi Partai Demokrat mendengar, bekerja dan mengawal agar peran negara hadir melalui regulasi, kebijakan, dan insentif yang tepat untuk para penulis,” tegasnya.
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta memberikan kepastian hukum. Termasuk insetif pajak final 0,5 persen untuk penghasilan di bawah 500 juta pertahun.
Baca Juga: Ada Gambar Paslon Saat Bagi-bagi Seragam Sekolah di Lokasi PSU
“Kalau pajaknya terlalu tinggi, terlalu mahal, membuat motivasi dari para penulis itu terdegradasi (menurun),” urai Ibas.
Disisi lain, Ibas juga menyoroti pendanaan dan hibah literasi agar dapat terus meningkat. Sehingga pemerintah diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kami juga berharap negara bisa memperhatikan agar pendanaan dan hibah literasi bisa terus tumbuh dan meningkat, lebih besar. Pendanaan terkait dengan dana Indonesia, terakhir di masa lalu itu sekitar 2 triliun, itu bisa terus kita lanjutkan atau tingkatkan,” pungkasnya. (jpg/har)
Editor : Azwar Halim