Desa Gunung Intan, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), menyimpan sebuah tradisi Ramadan yang kini mulai meredup.
DI Masjid Nuruttarbiyah, sebuah ritual khas menyambut malam-malam Ramadan pernah begitu semarak, yaitu, menabuh beduk dan kentongan usai salat tarawih.
Sesaat setelah imam mengakhiri salat tarawih, sekelompok pemuda dengan sigap mendekati beduk dan kentongan yang terletak di area masjid.
Dengan penuh semangat, mereka memukul kedua alat musik tradisional itu, menciptakan irama khas Ramadan yang menggetarkan hati.
Suara beduk yang berpadu dengan dentuman kentongan, seirama dengan lantunan salawat dari para jamaah, menciptakan suasana syahdu yang sulit dilupakan.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun di desa bekas permukiman transmigrasi era 1979-an itu, menjadi bagian tak terpisahkan dari semarak Ramadan di Desa Gunung Intan.
Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi indah ini mulai ditinggalkan. Generasi muda yang dulu meramaikan masjid dengan tabuhan beduk dan kentongan kini banyak yang merantau, mencari peruntungan di luar desa.
“Para penabuh beduk dan kentongan untuk mengiringi salawat pada setiap kali usai salat tarawih sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kami merasa kehilangan karena beriringan dengan lenyapnya tradisi ini,” kata Gunawan, seorang tokoh masyarakat Desa Gunung Intan, dengan nada penuh kerinduan saat dihubungi pada hari kedua puasa Ramadan, Minggu (2/3).
Kehilangan ini, lanjut dia, bukan sekadar hilangnya sebuah tradisi, tetapi juga hilangnya sebuah identitas.
Tetabuhan beduk dan kentongan bukan hanya sekadar bunyi, tetapi juga simbol kebersamaan, semangat, dan kegembiraan menyambut bulan suci.
Tradisi ini adalah perekat sosial, yang menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai luhur Ramadan.
“Kami berupaya untuk menghidupkan lagi nostalgia menabuh beduk ini. Tetapi, saat ini, sudah jarang anak muda yang memiliki talenta khusus menabuh beduk,” kata Gunawan.
Dulu, kenang dia, ada anak muda yang memiliki kemampuan luar biasa, mampu menabuh beduk berjam-jam, dengan irama bunyi yang membuat hati menjadi gembira.
“Sekarang, orangnya sudah tinggal di kota, jauh dari Gunung Intan,” tuturnya.
Meskipun tradisi ini mulai meredup, kenangan akan kemeriahan malam-malam Ramadan di Masjid Nuruttarbiyah tetap hidup dalam ingatan warga Desa Gunung Intan, termasuk melekat pada ingatan Gunawan, dan kawan-kawan.
Mereka berharap, suatu hari nanti, tradisi ini dapat dihidupkan kembali, agar generasi mendatang dapat merasakan keindahan dan kesyahduan Ramadan, seperti yang pernah mereka rasakan.
Sugiyat, tetua Masjid Nuruttarbiyah mempersilakan apabila tradisi menabuh beduk usai salat tarawih dihidupkan kembali.
Dia juga mengatakan, tidak hanya semangat menabuh beduk usai salat tarawih yang kian menghilang pada masjid-masjid lainnya, bahkan, upaya menabuh beduk untuk membangunkan orang sahur juga perlahan hilang ditelan zaman.
“Orang sudah beralih pada alarm yang tersedia di handphone,” kata Sugiyat. (far/jnr)
Editor : Azwar Halim