Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Merasuki Sampai ke Tubuh Biota Laut, Ancaman Mikroplastik Menimpa Perairan di Kaltim

Radar Tarakan • Selasa, 11 Februari 2025 | 09:00 WIB

 

Photo
Photo
Photo
Photo

SAMARINDA - Kalimantan Timur dengan pesisirnya yang luas dan perairan kaya akan biota laut, terancam kelestariannya akibat akumulasi mikroplastik. Meskipun isu ini telah menjadi perhatian global sejak beberapa tahun lalu, dampaknya baru mulai dirasakan secara nyata di Kaltim.

Mikroplastik, merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yakni 1-5 makrometer. Mikro plastik berasal dari perusakan sampah plastik yang lebih besar, mikroplastik ditemukan di hampir seluruh perairan Kaltim, memengaruhi ekosistem laut, biota perairan, dan bahkan berisiko bagi kesehatan manusia.

Untuk memahami lebih dalam mengenai ancaman mikroplastik bagi perairan Bumi Etam, Kaltim Post berkesempatan mewawancarai Githarina, Dosen dan Kepala Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman yang telah melakukan berbagai penelitian terkait mikroplastik di perairan Kaltim.

"Mikroplastik sebenarnya sudah lama menjadi isu, tetapi baru beberapa tahun belakangan ini mulai diteliti di perairan Kaltim. Kami telah melakukan penelitian mengenai mikroplastik baik di air, sedimen, maupun biota laut dan sungai," ungkap Githarina.

Sejauh program terkait mikroplastik baru mereka lakukan dengan serius di pesisir pantai Manggar, Balikpapan pada medio 2023 lalu, bersama KLHK. Mikroplastik tidak hanya ditemukan di laut, namun juga di sungai, sedimen, dan bahkan dalam tubuh ikan.

Melalui Githarina dikatehui beberapa mahasiswanya melakukan penelitian di beberapa tempat, seperti di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Selili dan Muara Badak, menunjukkan bahwa mikroplastik banyak ditemukan dalam saluran pencernaan ikan yang tertangkap di sana.

“Tingkat paparan mikroplastik pada ikan sangat bergantung pada posisi ikan dalam rantai makanan. Ikan yang berada di level trofik yang lebih tinggi biasanya lebih banyak terpapar mikroplastik,” jelasnya.

“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam saluran peredaran darah ikan. Mikroplastik itu ternyata tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan. Penelitian menunjukkan bahwa partikel-partikel ini juga dapat masuk ke dalam peredaran darah ikan, yang tentu saja akan berdampak pada kesehatan biota laut,” katanya.

Dampak terhadap kesehatan manusia juga sangat mengkhawatirkan. Mengingat banyaknya konsumsi ikan dan kerang yang terpapar mikroplastik, potensi risiko bagi manusia menjadi lebih besar.

Khususnya bagi kerang, yang dimakan secara utuh termasuk isi perutnya, mikroplastik bisa terkonsumsi langsung.

“Mikroplastik ini mengandung berbagai polimer berbahaya, seperti polyethylene (PE) dan polyvinyl chloride (PVC), yang bisa mengganggu keseimbangan hormon tubuh manusia, termasuk hormon reproduksi pada perempuan,” kata Githarina.

Selain itu, paparan mikroplastik dalam tubuh juga dapat menyebabkan stres oksidatif, yang mengganggu keseimbangan antara antioksidan dan prooksidan. Ini berisiko pada penurunan daya tahan tubuh dan gangguan kesehatan lainnya.

Mikroplastik juga bisa menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi ikan, yang akan berdampak pada populasi mereka di alam liar. Kata dia, dampak mikroplastik juga sangat terasa di ekosistem pesisir, khususnya di habitat mangrove.

"Mangrove adalah tempat hidup banyak biota laut. Plastik yang terperangkap di sana, baik itu sampah plastik besar atau mikroplastik, mengganggu pernapasan akar mangrove dan habitat lainnya," katanya.

Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa sebagian besar sampah plastik di Kaltim berasal dari perairan laut dan pantai, dengan plastik menjadi sampah terbanyak yang terdeteksi.

Plastik-plastik besar ini akan tergerus oleh ombak dan terurai menjadi mikroplastik yang berpotensi mencemari seluruh rantai makanan.

"Mikroplastik ini tidak hanya bertahan lama sampai puluhan tahun, tetapi juga berpindah tempat, misalnya dari sungai ke pantai, kemudian ke laut, dan akhirnya mengendap di tubuh biota laut. Dalam penelitian kami, sudah ditemukan mikroplastik di saluran darah ikan, bahkan hingga mencapai ukuran yang lebih kecil, yaitu nanoplastik, yang berbahaya karena dapat mengakses sel-sel tubuh lebih mudah,” ujar Githarina.

Dia merekomendasikan Pemerintah Kaltim harus terus melakukan pemantauan kualitas air dan sampah plastik, kesadaran akan pentingnya pengelolaan plastik masih menjadi tantangan besar. Untuk mengatasi masalah ini, Githarina menganjurkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, atau menghindari penggunaan kemasan plastik.

Masyarakat perlu ditingkatkan kesadaran tentang pentingnya pengelolaan sampah dengan benar.

“Meskipun kita hidup berdampingan dengan mikroplastik, kita tidak bisa mengabaikannya. Upaya pengurangan plastik harus dimulai dari diri kita sendiri,” katanya.

Penelitian mengenai mikroplastik di Kaltim masih berlangsung, namun hasilnya sudah menunjukkan bahwa ancaman terhadap perairan dan kesehatan masyarakat cukup serius. (kpg/jnr)

Editor : Azwar Halim
#samarinda #biota laut #mikroplastik #kaltim