Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Revitalisasi Habiskan Rp 2 Miliar Potensi Besar Kembangkan Ekowisata Mangrove

Radar Tarakan • Jumat, 31 Januari 2025 | 11:00 WIB
ISTIMEWA BELAJAR: Nicko Herlambang (pakai rompi) bersama rombongan melihat dari dekat tahura mangrove Ngurah Rai, Bali.
ISTIMEWA BELAJAR: Nicko Herlambang (pakai rompi) bersama rombongan melihat dari dekat tahura mangrove Ngurah Rai, Bali.

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU)  mengembangkan potensi ekowisata dan pariwisata mangrove berkelanjutan.

Sebagai langkah awal, tim studi banding yang dipimpin Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setkab PPU, Nicko Herlambang, mengunjungi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bali pada Jumat (24/1/2025).

Dalam kunjungan tersebut, Nicko Herlambang tidak sendiri. Dia bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU, Andi Israwati Latief; Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMPerindakop) PPU, Margono Hadi Sutanto; dan rombongan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) PPU.

Kedatangan rombongan ini disambut hangat oleh pejabat DLHK Bali. Mereka berbagi pengetahuan mengenai keberhasilan pengembangan ekowisata mangrove di Pulau Dewata.

Salah satu poin penting yang dibahas adalah penerapan konsep Tri Hita Karana dan Sad Kherti dalam pengelolaan ekowisata. Konsep-konsep ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan di PPU guna menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setkab PPU, Nicko Herlambang, Rabu (29/1/2025) mengungkapkan, rombongannya telah mendapatkan penjelasan dari DLHK, dan Dinas Pariwisata Bali mengenai mekanisme pengembangan wisata mangrove di Bali secara umum.

“Kami telah banyak belajar dari mereka bagaimana caranya mengembangkan pariwisata di Bali, ekowisatanya dengan tetap mengedepankan konsep konservasinya,” kata Nicko Herlambang.

Hal ini, lanjut dia, bisa dijadikan percontohan buat pengembangan pariwisata yang sama, mengingat potensi mangrove di wilayah PPU sangat luar biasa. Potensi mangrove kita jauh lebih bagus, dan harusnya kita bisa kemas lebih baik,” kata Nicko Herlambang.

“Tetapi intinya kami tetap berupaya menjaga untuk kelestarian lingkungan, karena, fungsi dari pada mangrove untuk menjaga kelestarian lingkungan ini cukup besar. Kadis Pariwisata PPU (Andi Israwati Latief) juga telah melihat sendiri beberapa festival mangrove, kemudian ada juga pelatihan ecoprint dengan menggunakan daun mangrove, dan hal ini nanti coba kami pastikan untuk dilaksanakan di PPU,” tambah Nicko Herlambang.

Ia melanjutkan, bahwa hasil studi banding di Bali ini segera dilaporkan kepada Penjabat (Pj) Bupati PPU, Muhammad Zainal Arifin, dan Bupati PPU terpilih, Mudyat Noor, termasuk upaya melestarikan ekowisata mangrove.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU, Andi Israwati Latief, menambahkan, potensi mangrove di PPU tidak kalah menariknya dengan yang ada di Bali.

Ia mengaku tertarik untuk mengembangkan objek wisata mangrove ini terutama pada kegiatan rutin festival di kawasan ekowisata mangrove yang sudah ada, yaitu di Kampung Baru, Kecamatan Penajam, PPU.

Selama mereka di Bali juga menerima penjelasan dari Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Bali, Ida Ayu Nyoman Candra Wati, yang menjelaskan secara detail bagaimana Bali berhasil mengelola ekowisata mangrove secara berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan, serta pengembangan produk-produk wisata yang unik dan bernilai tambah. (far/jnr)

Editor : Azwar Halim
#penajam #pemkab #DLHK #ppu #Kembangkan Ekowisata Mangrove #revitalisasi #potensi besar