SAMARINDA – Pembangunan Tugu Pesut di Samarinda bukan sekadar proyek pendirian landmark baru, melainkan sebuah pernyataan sikap terhadap isu lingkungan yang semakin mendesak.
Dengan menggunakan bahan baku utama HDPE daur ulang dari sampah tutup botol, tugu itu menjadi simbol komitmen Samarinda dalam mengelola sampah dan menjaga kelestarian lingkungan, khususnya Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus.
Perancang tugu dari CV Evolution Vergian Septiandy mengungkapkan, pemilihan bahan daur ulang memiliki makna yang mendalam. Pihaknya ingin memicu diskusi publik tentang masalah lingkungan, terutama terkait pengelolaan sampah plastik.
“Selama ini belum banyak karya seni publik di Samarinda yang mengangkat isu lingkungan secara eksplisit,” ucapnya.
Proses pembuatan tugu melibatkan tahapan yang cukup kompleks. Plastik-plastik daur ulang dikumpulkan, diolah, dan dicetak ulang menjadi bentuk yang diinginkan.
Ada proses pewarnaan untuk membuat warna yang homogen, sehingga warnanya seperti itu, fuschia.
"Meski kontribusi landmark mungkin kecil, itu langkah awal yang baik untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan," tegasnya.
Dia berharap masyarakat bisa melihat bahwa bangunan tersebut bukan sekadar landmark, kepedulian tentang sampah bisa dibangkitkan dan menjadi gerakan baru untuk mengurangi sampah.
“Itu tentang permasalahan persampahan kota. Bagaimana meneglola sampah yang tidak bisa hanya dari pemerintah tapi perlu dukungan masyarakat untuk mengurangi sampah, khususnya plastic. Diketahui butuh lebih 400 tahun plastik bisa hancur,” pungkasnya.
TELAN BIAYA RP 1,1 MILIAR
Terkait teknis pembangunan Tugu Pesut, Manager Proyek pelaksana Ali Rossit menjelaskan, pembangunan tugu melibatkan tantangan teknis yang cukup tinggi.
Bentuk tugu yang unik dan ukurannya yang besar, membutuhkan perhitungan struktur yang sangat cermat.
"Kami menggunakan material berkualitas tinggi dan teknik konstruksi yang canggih untuk memastikan tugu itu kokoh dan tahan lama," ujarnya.
Termasuk sisi anggaran Rp 1,1 miliar, disebut tidak hanya untuk fisik, termasuk pajak yang dibebankan.
Di samping itu, pemasangan juga memerlukan beberapa alat berat.
“Metode yang kami gunakan di lapangan adalah untuk memastikan pekerjaan di lokasi tidak terlalu lama menutup sebagian jalan. Kami dibantu teman-teman teori dari berbagai bidang untuk mencoba menerapkan tugu itu bisa kokoh berdiri,” terangnya.
Ali menjelaskan, anggaran yang cukup besar yang dialokasikan untuk proyek sebanding dengan kompleksitas pekerjaan dan kualitas material yang digunakan.
"Itu bukan sekadar mendirikan patung tapi membangun sebuah landmark yang memiliki nilai estetika dan fungsional yang tinggi," tegasnya.
Dia memerinci, fondasi yang ada sekarang baru, dan ahli struktur bisa membayangkan bahwa ada bangunan tunggal dengan beban hampir 3 ton lebih, sehingga penting memiliki pondasi yang kuat.
Dari sisi material, proyek oti menggunakan pipa 4 inch schedule 40 yang termasuk kualitas tinggi, serta kawat las setara dengan yang digunakan dalam pengelasan kapal, 52 LB.
“Untuk material daur ulang dibutuhkan sekitar 330 kg material plastik, setara dengan 16.500 botol plastik air mineral atau 165 ribu sedotan plastik menjadi HDPE. Bekerja sama dengan phoenix ecotech yang merupakan seniman Rusia yang berdomisili di Bali,” terangnya. (dra/jnr)
Editor : Azwar Halim