SAMARINDA - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, tingkat kemiskinan Kaltim mengalami penurunan yang signifikan selama periode September 2022 hingga September 2024. Di mana pada September 2022 tercatat 6,44 persen, disusul pada Maret 2023 yakni 6,11 persen.
Kemudian Maret 2024 5,78 persen. Dan September 2024 berada di angka 5,51 persen. Konsisten turun. Penurunan ini mengindikasikan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kaltim.
"Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur pada September 2024 mencapai 211,88 ribu orang. Dibandingkan Maret 2024, jumlah penduduk miskin menurun 9,5 ribu orang.
Sementara jika dibandingkan dengan Maret 2023, jumlah penduduk miskin menurun 19,19 ribu orang," ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang mencapai 8,57 persen, angka kemiskinan di Kaltim berada di bawah rata-rata nasional.
Kaltim berada di posisi ke-9 sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia dan termasuk dalam 18 provinsi yang berhasil mencatatkan pengurangan kemiskinan di atas rata-rata nasional.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret–September 2024, jumlah penduduk miskin perkotaan turun sebesar 0,3 ribu orang sedangkan di perdesaan turun sebesar 9,2 ribu orang.
Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 4,47 persen menjadi 4,41 persen. Sementara di perdesaan turun dari 8,76 persen menjadi 8 persen.
"Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (GK). Garis Kemiskinan pada September 2024 adalah sebesar Rp 853.997 per kapita per bulan. Dibandingkan Maret 2024, GK naik sebesar 2,40 persen," beber Yusniar.
Meskipun tingkat kemiskinan menurun, garis kemiskinan pada September 2024 mengalami kenaikan sebesar 2,40 persen dibandingkan Maret 2024. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kebutuhan dasar masyarakat.
Komoditas makanan seperti beras, rokok, daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, dan gula pasir masih menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan. Sementara itu, untuk komoditas bukan makanan, perumahan, bensin, dan listrik menjadi penyumbang utama.
"Pada September 2024, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama. Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni 18,08 persen di perkotaan dan lebih besar di perdesaan sebesar 18,92 persen," kata dia.
Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (10,40 persen di perkotaan dan 14,60 persen di perdesaan).
Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin dan listrik.
Persentase komoditi bukan makanan perkotaan yaitu perumahan 10,48 persen, bensin 3,91 persen dan listrik 3,67 persen. Sedangkan komoditi bukan makanan di perdesaan adalah perumahan 12,92 persen, bensin 3,52 persen dan listrik 2,46 persen.
"GK per rumah tangga adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya agar tidak dikategorikan miskin. Secara rata-rata, GK per rumah tangga pada September 2024 adalah Rp 4.543.264/bulan, naik 6,20 persen dibanding kondisi Maret 2024 yang Rp 4.278.189/bulan," lanjutnya.
Meskipun terjadi penurunan tingkat kemiskinan, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti kesenjangan antara daerah perkotaan dan perdesaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. (kpg/jnr)
Editor : Azwar Halim