SAMARINDA – Momen yang dinantikan petani kelapa sawit di Kaltim tiba juga. Pada periode 1-15 September 2024, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit berada di level Rp 2.817 per kilogram. Harga ini melanjutkan tren kenaikan dari bulan sebelumnya.
Kepala Dinas Perkebunan Ence Achmad Rafiddin Rizal mengatakan, harga Rp 2.817 per kilogram ini ditujukan pada buah yang dipanen dari umur 10 tahun ke atas.
Sedangkan untuk umur tanam di bawahnya, harganya sedikit lebih rendah. Namun para petani patut bersyukur. Karena trennya cukup baik.
Tercatat pada periode 1-15 Agustus harga TBS berada di angka Rp 2.693,69 per kilogram. Lalu periode 16-31 Agustus kembali naik jadi Rp 2.752,49 per kilogram.
Rafiddin merinci harga panen berdasarkan umur tanam. Yakni untuk usia 3 tahun ditetapkan senilai Rp 2.480,71 per kilogram, harga tersebut juga naik ketimbang periode sebelumnya di level Rp 2.425,38 per kilogram.
Lalu TBS yang dipanen pada umur tanam 4 tahun, seharga Rp 2.647,45 per kilogram yang sebelumnya Rp 2.588,52 per kilogram. Disusul TBS usia 5 tahun Rp 2.661,76 per kilogram, lalu 6 tahun Rp 2.690,02 per kilogram.
"Umur 7 tahun Rp 2.706 per kilogram, umur 8 tahun Rp 2.726,51 per kilogram dan TBS yang dipanen pada pohon umur 9 tahun naik menjadi Rp 2.782,58 per kilogram," lanjut dia.
Disampaikan pula harga crude palm oil (CPO) tertimbang sebesar Rp 12.612,29 per kilogram. Terjadi kenaikan tipis dibanding periode sebelumnya yakni Rp 12.561,45 per kilogram.
Untuk harga kernel atau inti sawit rata-rata tertimbang ditetapkan sebesar Rp 8.212,37 per kilogram. Harga itu alami kenaikan dari periode sebelumnya yakni rp 8.089,24 per kilogram.
Rafiddin yang juga Ketua Penetapan Harga TBS mengatakan, harga sebesar itu hanya berlaku bagi kebun plasma atau kebun kemitraan.
Termasuk kebun swadaya masyarakat yang bermitra dengan pabrik, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01/Permentan120/2018.
Agar petani mendapatkan harga maksimal, dia mengimbau untuk segera membentuk kelompok tani dan bermitra dengan pabrik pengelolaan minyak sawit.
“Agar harga penjualan TBS tidak dipermainkan oleh tengkulak, karena jika petani berorganisasi maka akan kuat secara kelembagaan," tuturnya.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menjelaskan, kontribusi kelapa sawit terhadap pendapatan negara terus meningkat.
Data Gapki mencatat, pada 2020, kontribusi sawit pada neraca perdagangan mencapai USD 22,7 miliar. Jumlah itu naik pada 2021 menjadi USD 34,9 miliar dan puncaknya pada 2022 mencapai USD 37,7 miliar.
Namun, penurunan kontribusi terjadi pada 2023 menjadi USD 29,5 miliar. “Ini akibat dari harga sawit di dunia sedang turun.
Hingga Mei 2024, kontribusi sawit ke devisa negara mencapai USD 9,78 miliar,” ujar Eddy baru-baru ini. Dia menyebut, tren dalam lima tahun terakhir menunjukkan adanya produksi yang stagnan. Produktivitas pada 2022 juga sempat terkendala larangan ekspor.
Penurunan produksi sawit juga dipicu keterlambatan peremajaan sawit rakyat (PSR). “Produksi kurang menggembirakan, karena seharusnya kita sudah melakukan replanting untuk sawit rakyat, tapi kita agak terlambat di sini. Sehingga produktivitas justru turun,” imbuh Eddy.
Dari sisi volume ekspor kelapa sawit juga cenderung menurun. Ekspor produk sawit didominasi oleh produk hilir (intermediate products).
Empat besar negara mitra dagang terbesar yang merupakan importir RI yakni Tiongkok, India, Uni Eropa, dan Pakistan. “CPO yang kita ekspor hanya sekitar 10,12 persen dari ekspor total produk sawit Indonesia. Mayoritas dalam bentuk sudah olahan atau RPO (refined palm oil),” tambah dia.
Saat ini, lanjut Eddy, yang menjadi perhatian adalah terus menurunnya volume ekspor kelapa sawit. Hal itu dipicu oleh munculnya pesaing kelapa sawit, yakni minyak bunga matahari.
Baca Juga: Kritik Penggunaan Pawang Hujan di Proyek Pembangunan IKN
“Minyak sawit ini harganya lebih mahal daripada minyak bunga matahari, sehingga mereka (mitra dagang) melakukan pembelian dalam jumlah banyak, alhasil jumlah impor mereka ke kita jadi turun,” jelasnya. (ndu/jnr)
Editor : Azwar Halim