Sejak awal, pasangan Sugiharto Heryanto dan Syeli Sugianto sudah berniat memiliki usaha di bidang perikanan. Kepiting yang dipilih karena melihat potensinya. Belum banyak pesaing, namun di pasar permintaan tinggi. Pendekatan teknologi, kepiting dikembangkan lewat crab box.
RADEN RORO MIRA, Samarinda
MESKI baru memulai usaha pada awal tahun ini, permintaan kepiting terus meningkat. Syeli juga tak menyangka jika antusiasnya setinggi itu. Semua bermula sejak tahun lalu. Bersama sang suami, memikirkan ide usaha yang berpotensi besar.
“Potensi kepiting di Anggana, Kutai Kartanegara itu banyak. Awalnya mau udang, tapi sudah banyak yang usaha udang. Terus juga biasanya kepiting ini kan di tambak, tapi kendala itu di sifat kepiting yang kanibal. Jadi, coba cari-cari info dapat pengembangan kepiting lewat crab box namanya. Suami pergi pelatihan ke Surabaya sekitar Agustus tahun lalu,” paparnya.
Crab box merupakan sistem budi daya kepiting yang memanfaatkan wadah mirip seperti apartemen atau kamar. Untuk pembesaran dan penggemukan kepiting. Mampu mengurangi angka kematian dan sistem filtrasi hingga pengontrolan lebih mudah.
“Jadi mau coba aplikasikan di Samarinda, karena kayaknya belum ada di Samarinda. Jadi, satu boks itu ya satu kepiting, supaya mereka enggak saling makan. Ada filtrasinya juga enam tahap. Jadi, kami beli bibit di Anggana, ibaratnya kepiting yang kurus-kurus lalu kami gemukkan,” lanjut Syeli.
Bibit yang dibeli adalah kepiting STI atau kurus yang bobotnya di bawah 100 gram. Kemudian digemukkan dengan rentang waktu 2-3 minggu. Kini, usaha yang diberi nama Vresh Crab beralamat di Jalan Pelita 4, Samarinda itu sudah bisa panen setiap hari.
Mulanya, dia berkeliling menawarkan produknya, yakni kepiting soka dan bakau ke beberapa restoran seafood. Namun, diakui tak berjalan lancar. Restoran ternyata memiliki standardisasi sendiri. Kepiting yang sudah dikirim dikembalikan.
“Banyak yang mati, lemas. Jadi, sekarang mainnya lebih ke distributor untuk fresh seafood atau frozen. Dan tertinggi justru kepiting soka permintaannya, sekitar 80 persen dari total,” papar perempuan kelahiran 1987 itu.
Itu pun diakui para distributor masih harus antre untuk mendapatkan produk dari Vresh Crab. Saking tingginya permintaan. Oleh sebab itu, kini pihaknya sedang dalam proses untuk perluasan area budi daya. Sebab, antusias pasar semakin terlihat.
Berjalan kurang lebih lima bulan, pembeli mulai berdatangan dari berbagai daerah, tak hanya dalam kota. Sudah ada langganan yang juga distributor untuk pasarkan ke berbagai depot atau rumah makan di Bontang hingga Berau.
“Bisa dibilang kami ini kan pemain baru. Tapi, bersyukur bisa semakin berkembang. Ke depan juga visi kami penginnya bisa ekspor. Apalagi potensinya besar. Tapi, sekarang fokus main di lokal dulu. Kebetulan juga habis ikut pelatihan ekspor dan makin optimis ya, karena banyak dapat ilmu serta koneksi,” jelasnya.
Targetnya adalah pemenuhan kuota untuk kapasitas produksi. Hal itu berkaitan dengan ekspor yang tentu ada volume minimal yang mesti dicukupi. Saat ini, per hari baru produksi 5-7 kilogram masing-masing untuk kepiting soka dan kepiting bakau.
“Sedang proses juga lagi urus sertifikasi cara karantina ikan yang baik (CKIB) supaya bisa ke luar pulau. Karena ada beberapa yang minta pengiriman luar pulau, tapi kami belum bisa karena terkendala izin itu tadi. Ekspor juga kan potensi besar di kepiting size besar, sudah ada rekanan juga pengepul. Jadi, misal ada kesempatan untuk ekspor sudah siap. Untuk sekarang kapasitas baru ada 640 boks, makanya ini lagi proses penambahan crab box lagi,” bebernya,
Tentu bukan hal mudah untuk sampai di titik sekarang. Teori saat pelatihan dan implementasi praktik jauh berbeda. Kepiting mati sudah biasa.
“Kadar filtrasi, kemudian air di Jawa dan Kalimantan beda. Apalagi, kepiting betina itu juga kadar air beda-beda lagi. Berdarah-darah lah istilahnya,” sambung Syeli.
Namun, seiring waktu mereka sudah menemui celahnya. Semakin optimistis kembangkan perikanan lewat komoditas kepiting. Untuk kepiting soka grade A, ecer dijual Rp 120 ribu per kilogram. Sedangkan kepiting bakau grade yang sama dengan bobot 500 gram per ekor, dihargai Rp 190 ribu per kilogram. (ndu/k15/jnr)
Editor : Azwar Halim