Tak Bisa Keluar Rumah Sakit, Anak-anak di Jepang Diajak Jalan-jalan Virtual ke Kebun Binatang

Rahul • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 12:22 WIB
Foto kiri: Joe Hasei, profesor bedah ortopedi di Universitas Okayama. Kanan: Foto yang diambil di Okayama pada 13 Juli 2026 memperlihatkan anak-anak mengenakan headset realitas virtual di ruang bermain di bangsal anak Rumah Sakit Universitas Okayama. (Kyodo)
Foto kiri: Joe Hasei, profesor bedah ortopedi di Universitas Okayama. Kanan: Foto yang diambil di Okayama pada 13 Juli 2026 memperlihatkan anak-anak mengenakan headset realitas virtual di ruang bermain di bangsal anak Rumah Sakit Universitas Okayama. (Kyodo)

JEPANG – Menjalani perawatan panjang di rumah sakit bukan perkara mudah bagi anak-anak, terlebih ketika mereka harus membatasi aktivitas dan tidak bisa bebas berinteraksi dengan lingkungan luar.

Namun, teknologi virtual reality (VR) menghadirkan pengalaman berbeda bagi sejumlah pasien di Jepang. Melalui perangkat tersebut, anak-anak yang tengah menjalani pengobatan dapat merasakan sensasi berkunjung ke kebun binatang tanpa harus meninggalkan bangsal rumah sakit.

Program ini menjadi ruang hiburan sekaligus sarana interaksi bagi pasien anak, remaja, dan dewasa muda yang menjalani perawatan kanker maupun penyakit serius lainnya.

Dilansir dari Kyodo, Senin (14/9), kegiatan tersebut telah melibatkan lebih dari 30 rumah sakit di Jepang, termasuk Okayama University Hospital.

Penyelenggara berharap pengalaman virtual itu dapat membantu pasien mengurangi rasa terisolasi selama menjalani pengobatan. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan memberi mereka sesuatu yang menyenangkan untuk dinantikan, baik selama berada di rumah sakit maupun setelah diperbolehkan pulang.

Menjelajah Sabana Afrika dari Bangsal Rumah Sakit

Pada pertengahan Juli, sebanyak 15 anak berusia 4 hingga 16 tahun mengikuti tur virtual di ruang bermain bangsal anak Okayama University Hospital.

Mereka mengenakan headset VR dan diajak mengunjungi Tennoji Zoo yang berada di Osaka. Dengan bantuan teknologi metaverse, para peserta seolah-olah berpindah ke kawasan sabana Afrika.

Di dunia virtual itu, jerapah dan zebra terlihat berjalan di antara lanskap kebun binatang. Pemandangan tersebut dilengkapi latar gedung pencakar langit Abeno Harukas yang menjadi salah satu ikon Osaka.

Lingkungan digital tersebut dikembangkan melalui kerja sama Kintetsu Real Estate Co. yang berbasis di Osaka dan perusahaan pengembang metaverse asal Tokyo, Cluster Inc.

Para peserta dapat mengikuti penjelasan penjaga kebun binatang sambil menyaksikan berbagai satwa. Mulai dari kuda nil yang berenang bersama ikan di dalam tangki besar hingga singa yang mengaum dari atas batu.

Anak-anak juga diberi kesempatan mengendalikan avatar menggunakan pengontrol. Mereka dapat bergerak mengelilingi kebun binatang virtual dan menunjukkan berbagai hal menarik yang ditemukan sepanjang perjalanan.

Meski komunikasi suara belum tersedia dalam ruang metaverse tersebut, para peserta tetap dapat berinteraksi melalui pesan obrolan dan reaksi digital seperti tanda suka.

Pasien Merasa Lebih Nyaman Bertemu Hewan secara Virtual

Salah satu peserta, Takeru Kuwahara, 10, merupakan siswa kelas empat sekolah dasar yang telah menjalani perawatan di rumah sakit sejak Maret.

Ia mengaku pada awalnya merasa tidak nyaman berada di dekat hewan. Namun, pengalaman melihat satwa melalui VR justru membuatnya lebih tenang.

"Saya bisa melihat mereka tanpa khawatir karena ini VR," kata Takeru.

Pengalaman itu bahkan membuatnya ingin mengunjungi lebih banyak tempat di kemudian hari.

"Saya jadi ingin mengunjungi berbagai tempat, seperti taman hiburan," lanjutnya.

Yuka Kawaguchi, pekerja penitipan anak di bangsal anak, mengatakan kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari para pasien.

Menurutnya, beberapa anak yang biasanya tidak memiliki cukup tenaga untuk meninggalkan kamar akhirnya bersedia datang ke acara tersebut. Mereka bahkan telah menantikannya sejak pagi.

"Bagi anak-anak ini, waktu seperti ini tidak tergantikan," ujar Kawaguchi.

Diikuti Ratusan Pasien dari Berbagai Rumah Sakit

Program tur virtual ini tidak hanya diperuntukkan bagi pasien kanker. Sekitar 100 pasien dari berbagai institusi medis di Jepang telah mengikuti kegiatan tersebut.

Pesertanya mencakup pasien yang menjalani perawatan kanker, penyakit jantung, hingga penyakit Crohn atau peradangan kronis pada saluran pencernaan.

Profesor bedah ortopedi Okayama University, Joe Hasei, yang memimpin program tersebut, menjelaskan bahwa pasien kanker anak, remaja, dan dewasa muda kerap menghadapi tantangan tersendiri.

Sebagian dari mereka menderita jenis kanker langka sehingga kesempatan bertemu dengan pasien lain yang mengalami kondisi serupa cukup terbatas.

Hasei menilai interaksi melalui avatar dapat membantu mengurangi perasaan sendirian. Walaupun tidak bertemu secara langsung, pasien tetap bisa berbagi ruang virtual dan merasakan pengalaman bersama.

"Saya berharap ini membantu mereka menjalani pengobatan dengan pandangan positif dan berpikir, 'Setelah keluar dari rumah sakit, saya akan mengunjungi Tennoji Zoo yang sebenarnya,'" kata Hasei.

Siapkan Destinasi Virtual Baru

Melihat respons positif dari para peserta, penyelenggara berencana memperluas pilihan destinasi dalam program tersebut.

Kebun binatang bukan satu-satunya tempat yang ingin dihadirkan. Berbagai lokasi lain diharapkan dapat menjadi tujuan wisata virtual bagi pasien yang masih harus menjalani perawatan.

"Saya ingin menciptakan lingkungan tempat pasien bisa pergi ke tempat yang ingin mereka kunjungi meskipun sedang berada di rumah sakit," ujar Hasei.

Melalui teknologi VR, pengalaman menjelajah dunia luar kini bisa dihadirkan ke dalam ruang perawatan. Bagi anak-anak yang tengah menghadapi masa pengobatan panjang, kesempatan untuk bermain, berinteraksi, dan bermimpi tentang tempat yang ingin dikunjungi menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.

Editor : Rahul
tarakan kaltara