Ventilasi Buruk Tingkatkan Risiko Penularan TB, Dokter Paru Ingatkan Pentingnya Sirkulasi Udara

Rahul • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Penyakit Tuberkolosis atau yang dikenal TBC menyerang seluruh tubuh terutama paru-paru.

Penyakit Tuberkolosis atau yang dikenal TBC menyerang seluruh tubuh terutama paru-paru.

Rumah dengan sirkulasi udara yang kurang baik berpotensi meningkatkan risiko penularan tuberkulosis (TB). Kondisi ruangan yang lembap dan minim paparan sinar matahari membuat bakteri penyebab TB dapat bertahan lebih lama di udara, sehingga peluang penularan menjadi lebih tinggi.

Dokter Spesialis Paru Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K) menjelaskan, bakteri TB menyebar melalui percikan udara (droplet) yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Apabila ruangan memiliki ventilasi yang buruk, droplet tersebut akan bertahan lebih lama dan meningkatkan risiko terhirup oleh orang lain.

"Ruangan yang lembap dan sirkulasi udaranya kurang baik menjadi tempat yang mendukung bakteri TB bertahan lebih lama. Karena itu, penularannya lebih mudah terjadi," ujarnya, Senin (3/8).

Menurut Prof. Erlina, kondisi tersebut kerap ditemukan di kawasan permukiman yang padat, di mana jarak antarbangunan sangat rapat sehingga cahaya matahari dan aliran udara sulit masuk ke dalam rumah. Situasi ini membuat kelembapan ruangan meningkat dan memperbesar peluang penyebaran bakteri.

Ia menegaskan, TB tidak menular melalui penggunaan alat makan atau minum secara bergantian. Penularan terjadi ketika seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi bakteri dari penderita TB.

"Yang perlu dipahami masyarakat, TB menyebar lewat udara yang dihirup, bukan melalui piring, gelas, atau peralatan makan," jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan rutin membuka pintu dan jendela setiap hari agar sirkulasi udara berjalan baik serta memanfaatkan sinar matahari untuk mengurangi kelembapan di dalam rumah.

Prof. Erlina juga mengingatkan agar masyarakat tidak lagi menganggap TB hanya menyerang kelompok ekonomi tertentu. Menurutnya, siapa saja berisiko terinfeksi, terutama mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau penyakit penyerta seperti diabetes.

"TB bisa menyerang siapa pun. Karena itu, penting untuk menjaga lingkungan tetap sehat, mengenali gejalanya sejak dini, dan segera berobat jika mengalami batuk berkepanjangan," pungkasnya.

 
 
Editor : Rahul
tarakan kaltara