Oleh: Muhammad, S.Kom., M.Kom
Dosen STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati
Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi menjadi cerita tentang masa depan. Ia telah hadir dalam kehidupan kita hari ini. Mahasiswa menggunakannya untuk mencari referensi dan membantu memahami materi, dosen memanfaatkannya untuk mengembangkan pembelajaran, peneliti menggunakannya untuk mengolah data, sementara dunia usaha mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan mengambil keputusan. Pemerintah Indonesia pun telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tujuh menteri pada Maret 2026 sebagai pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI di dunia pendidikan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah kampus perlu menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa AI digunakan dan seberapa besar manfaatnya bagi manusia?
Sebagai dosen, saya melihat AI sebagai sebuah peluang besar sekaligus tanggung jawab besar. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, menganalisis data lebih luas, dan menemukan pola yang mungkin sulit dilihat dengan kemampuan manusia biasa. Namun, kampus tidak boleh terjebak pada kekaguman terhadap kecanggihan teknologi. Perguruan tinggi harus memastikan bahwa kecanggihan tersebut diterjemahkan menjadi pengetahuan, inovasi, karakter, dan solusi bagi masyarakat. Di sinilah saya melihat sebuah prinsip sederhana: AI berdampak, kampus harus berdampak.
Kalimantan Utara memiliki alasan kuat untuk menjadikan prinsip tersebut sebagai agenda bersama. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Kalimantan Utara pada 2025 tumbuh 4,56 persen, dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp.156,03 triliun. Sementara itu, ekonomi Kota Tarakan tumbuh 5,02 persen pada 2025, dengan PDRB mencapai Rp.59,83 triliun. Angka-angka tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi dan peluang pembangunan yang terus bergerak. Namun, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari angka. Kita perlu bertanya: seberapa jauh pertumbuhan tersebut meningkatkan kualitas manusia, menciptakan pekerjaan yang berkualitas, memperkuat UMKM, meningkatkan produktivitas nelayan dan petani, serta menyelesaikan persoalan masyarakat?
Di sinilah perguruan tinggi Kaltara memiliki ruang pengabdian yang sangat besar. Kaltara memiliki kekayaan lokal yang khas: laut dan perikanan (rumput laut, kepiting, udang, ikan), hutan, pertanian, energi, pariwisata, serta posisi strategis sebagai wilayah perbatasan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bahkan menegaskan bahwa potensi seperti perikanan bandeng, kepiting, rumput laut dan hutan dapat menjadi basis riset terapan berbasis kearifan lokal di Kalimantan Utara.
Bayangkan jika AI digunakan untuk membantu nelayan memprediksi lokasi penangkapan ikan, membantu pembudidaya rumput laut memantau kualitas lingkungan, membantu UMKM membaca perilaku pasar, membantu pemerintah memetakan risiko banjir dan kebakaran, atau membantu perguruan tinggi mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan karakter mahasiswa di daerah kepulauan dan perbatasan. Di situlah AI benar-benar berdampak. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, bahwa teknologi tidak boleh menghapus identitas lokal. Justru teknologi harus menjadi alat untuk memperkuatnya. Tarakan memiliki Iraw Tengkayu, tradisi masyarakat Tidung yang mengandung nilai syukur, kebersamaan, hubungan manusia dengan alam, dan penghormatan terhadap kehidupan. Nilai-nilai seperti itu dapat menjadi inspirasi bahwa kemajuan teknologi harus berjalan bersama nilai kemanusiaan dan kearifan lokal.
Kampus juga harus mengubah cara memandang penelitian. Penelitian jangan berhenti sebagai laporan, skripsi, tesis, disertasi, atau artikel jurnal. Penelitian harus bergerak menjadi prototipe, kebijakan, teknologi tepat guna, model bisnis, dan solusi yang dapat dirasakan masyarakat. Kemdiktisaintek sendiri mendorong perguruan tinggi di Kaltara agar memperkuat riset yang berdampak dan menjadikan potensi lokal sebagai basis inovasi. Data pembangunan manusia Kaltara juga memberikan pesan penting. IPM Kaltara 2025 mencapai 74,04, meningkat 0,63 poin dari tahun sebelumnya. Harapan Lama Sekolah mencapai 13,31 tahun, sedangkan Rata-rata Lama Sekolah mencapai 9,44 tahun. Angka tersebut merupakan kemajuan, tetapi sekaligus mengingatkan kita bahwa pembangunan manusia harus terus dilanjutkan. Karena itu, di tengah derasnya perkembangan AI, kampus tidak boleh hanya bertanya, “AI apa yang bisa kita gunakan?” Kampus harus bertanya lebih jauh: “Persoalan apa yang bisa kita selesaikan dengan AI?”
Bagi saya, inilah masa depan perguruan tinggi di Kalimantan Utara. Kampus harus menjadi tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan persoalan nyata masyarakat; tempat teknologi bertemu dengan kearifan lokal; dan tempat penelitian bertemu dengan kebutuhan pembangunan.
AI boleh semakin pintar. Tetapi kampus harus memastikan kepintaran itu menjadi kemanfaatan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan hanya seberapa banyak lulusan yang dihasilkan, berapa banyak publikasi yang diterbitkan, atau seberapa canggih teknologi yang digunakan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar keberadaan kampus mampu menghadirkan perubahan yang nyata bagi masyarakat. “AI berdampak. Kampus harus berdampak, dan Kaltara membutuhkan kampus yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi menghadirkan solusi.”
Kepada para mahasiswa, jadilah duta dari semangat “AI Berdampak, Kampus Harus Berdampak”. Jadilah generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi mampu menghadirkan manfaat melalui teknologi. Gunakan AI untuk belajar lebih baik, meneliti persoalan di sekitar, menciptakan inovasi, membantu masyarakat, dan membangun masa depan Kalimantan Utara. Jangan menjadi generasi yang hanya bertanya, “Apa yang bisa AI lakukan untuk saya?”, tetapi tumbuhkan keberanian untuk bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan dengan AI untuk orang lain?” Karena masa depan bukan hanya milik mereka yang paling menguasai teknologi, tetapi milik mereka yang mampu menjadikan teknologi sebagai jalan untuk menghadirkan kemanfaatan, menjaga nilai kemanusiaan, dan memberi dampak nyata bagi daerah dan bangsanya
Editor : Rahul