Ketika Gorengan Pinggir Jalan Berbisik Digitalisasi 

Sophian Hadi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:14 WIB
Lapak gorengan di depan Bandara Juwata Tarakan.
Lapak gorengan di depan Bandara Juwata Tarakan.

 

Oleh:  

Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M

Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, dan Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI 

 

LOMPATAN digitalisasi ekonomi Indonesia sering kali diukur dari megahnya gedung-gedung finansial atau menjamurnya aplikasi belanja di kota-kota besar.

Padahal, wujud paling nyata dari inklusi keuangan justru kerap hadir secara bersahaja di sudut-sudut jalan yang tak terduga.

Di tepi jalan dekat kawasan Bandara Juwata, Tarakan, aroma harum pisang goreng dan gurihnya mendoan hangat menyapa setiap pelintas.

Namun, di antara etalase kaca yang menampung gorengan renyah dan bendera Merah Putih yang menaungi atap seng sederhana itu, tampak sebuah stiker QRIS berdiri tegak. Pemandangan kecil ini menjadi penanda penting bahwa arus modernisasi sistem pembayaran nasional telah merayap hingga ke garis terdepan ekonomi rakyat. 

Di sebuah lapak sederhana beratap seng di pinggir jalan kawasan Bandara Juwata, Tarakan, aroma pisang goreng dan tempe mendoan hangat menyapa siapa saja yang melintas.

Etalase kaca berisi jajaran gorengan renyah berdiri bersanding dengan sebutir kelapa muda yang siap dikupas.

Dan satu pemandangan menawan yang menarik perhatian: sebuah stiker QRIS berdiri tegak di atas etalase.

Fenomena ini bukan sekadar tentang kemudahan bertransaksi ribuan rupiah tanpa uang kembalian.

Kehadiran kode QR di warung kecil pinggir jalan adalah potret nyata tentang inklusi keuangan yang merayap hingga ke perbatasan negeri. 

 Inklusi Keuangan dari Bawah 

Selama ini, digitalisasi pembayaran sering kali dipersepsikan sebagai konsumsi masyarakat perkotaan besar atau pusat berbelanjaan modern.

Kehadiran QRIS di lapak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tingkat akar rumput membuktikan bahwa batas itu makin kabur.

Pelaku usaha kecil di Tarakan tidak lagi canggung mengadopsi teknologi keuangan modern untuk melayani pembeli yang kian cashless. 

Bagi penjual, langkah kecil ini memberikan banyak manfaat riil: Efisiensi Operasional: Bebas dari ketersediaan uang kembalian pecahan kecil. 

Keamanan Transaksi: Meminimalisir risiko uang palsu dan pencatatan transaksi yang tercecer. 

Akses Rekam Jejak Keuangan: Membuka peluang pencatatan riwayat transaksi tunai menjadi digital, yang menjadi modal penting untuk literasi perbankan usaha mikro ke depan. 

Menghubungkan Pinggiran ke Ekosistem Nasional 

Terlihatnya bendera Merah Putih yang menaungi warung tersebut menjadi simbol yang selaras. Di wilayah yang menjadi salah satu pintu gerbang Kalimantan Utara ini, digitalisasi ekonomi bukan sekadar tren teknologi, melainkan jembatan pemerataan ekonomi nasional. 

Ketika transaksi gorengan seharga dua ribuan dapat terintegrasi ke dalam ekosistem sistem pembayaran nasional, lompatan digitalisasi Indonesia sebenarnya sedang bekerja secara riil. 

Tentu, tantangan seperti stabilitas jaringan dan literasi digital yang berkelanjutan masih perlu terus didorong.

Namun, pemandangan sederhana di dekat Bandara Tarakan ini memberi sinyal optimistis: partisipasi ekonomi digital Indonesia kini tidak lagi hanya milik segelintir orang, melainkan sudah menjadi bagian dari denyut harian masyarakat paling bawah. 

Pada akhirnya, keberadaan QRIS di lapak penjual gorengan pinggir jalan Kota Tarakan bukan sekadar tentang transaksi ribuan rupiah tanpa repot mencari uang kembalian. 

Lebih dari itu, ia adalah simbol dari pergeseran budaya transaksi yang makin inklusif di wilayah perbatasan.

Meskipun tantangan seperti stabilitas jaringan dan pendampingan literasi digital masih perlu terus dikawal, semangat adaptasi dari para pelaku usaha mikro ini patut diapresiasi.

Dari sudut kecil di Kalimantan Utara ini, kita menyaksikan bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia tidak hanya dibangun oleh korporasi besar, melainkan juga dinyalakan oleh denyut usaha-usaha kecil di akar rumput.(*/ana)

 
Editor : Sophian Hadi
bi gorengan qris