Ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Dayak Lundayeh
PERBATASAN itu beranda negeri. Perbatasan itu wajah bangsa. Perbatasan itu harga diri. Di situlah kehormatan negara berdiri. Kita sering mengucapkannya dengan penuh semangat. Kita bangga menyebut perbatasan sebagai serambi depan NKRI.
Tetapi mari kita bertanya dengan jujur, sungguh-sungguh jujur: apakah kita sudah memperlakukan beranda itu sebagaimana mestinya?
Apakah kita benar-benar membangun Indonesia yang kita cintai ini sampai ke ujung-ujung batasnya? Atau kita hanya membangun Indonesia yang terlihat dari pusat?
Perbatasan Nunukan, Krayan dan Lumbis. Perbatasan Malinau, Apau Kayan, Kayan Hulu, Kayan Hilir, Bahau, Pujungan. Wilayah yang menjadi bagian dari Heart of Borneo, paru-paru dunia yang sering dibicarakan di forum internasional. Dunia memuji hutannya, memuji kekayaan alamnya. Tetapi bagaimana dengan manusianya? Bagaimana dengan masyarakat yang ratusan tahun hidup menjaga tanah itu?
Saya pernah mengabdi langsung di kawasan perbatasan lebih dari tiga puluh tahun lalu. Sampai hari ini saya masih melihat dan merasakan sendiri bagaimana wajah pembangunan di sana. Saya tidak ingin menyalahkan negara. Saya tidak ingin membangun narasi yang menyudutkan siapa pun. Tetapi sebagai anak bangsa yang mencintai negeri ini, saya tidak bisa diam.
Setiap kali ada musibah, pesawat jatuh, perahu karam di giram sungai, mobil masuk jurang di pegunungan, hati ini perih. Baru saja kita kehilangan seorang pilot yang mengangkut BBM ke Krayan. Ia gugur dalam tugas. Ia mempertaruhkan nyawanya agar masyarakat perbatasan bisa tetap hidup.
Ini bukan kejadian pertama.
Dan mungkin, kalau keadaan tidak berubah, bukan yang terakhir.
Setiap kali ada peristiwa seperti ini, kita berdiskusi. Kita bicara soal cuaca, soal teknis, soal human error. Kita seolah-olah pintar membedah kejadian. Tetapi jarang kita berani menyentuh akar persoalannya, keterisolasian yang tidak kunjung dituntaskan.
Jalan Malinau-Krayan sudah dirintis sejak 2011. Sudah berganti-ganti janji kapan akan fungsional. Sudah berulang kali disebut sebagai prioritas. Tetapi sampai hari ini belum benar-benar tuntas. Selama jalan itu belum fungsional, masyarakat akan terus bergantung pada pesawat. Dan setiap penerbangan selalu membawa risiko.
Sampai kapan?
Di tengah kondisi seperti ini, negara menggulirkan berbagai program besar dengan anggaran yang juga sangat besar. Salah satunya program makan bergizi gratis (MBG). Tujuannya tentu baik, meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Tidak ada yang menolak niat baik itu.
Tetapi izinkan saya bertanya dengan hati yang jernih, apakah program sebesar itu akan efektif di wilayah yang akses jalannya belum terbuka?
Bagaimana bahan makanan didistribusikan? Dengan apa diangkut? Berapa biayanya? Siapa yang menanggung mahalnya logistik itu? Jika semua masih bergantung pada transportasi udara atau jalur ekstrem, maka biaya tinggi tidak akan pernah hilang.
Di perbatasan, persoalan mendasar bukan hanya soal ada atau tidak ada makanan. Persoalannya adalah harga yang mahal karena akses yang sulit. Selama jalan belum terbuka, selama distribusi tidak lancar, maka program apa pun akan menghadapi hambatan yang sama.
Saya khawatir, anggaran yang sangat besar itu tidak akan mencapai hasil maksimal kalau fondasinya belum dibereskan. Infrastruktur dasar, jalan dan jembatan adalah kebutuhan utama. Itu pembuluh darah pembangunan. Kalau pembuluh darahnya tersumbat, bagaimana mungkin energi pembangunan bisa mengalir?
Saya setuju rakyat harus sehat. Saya setuju anak-anak harus bergizi baik. Tetapi apakah tidak lebih bijak jika akses dibuka dulu, isolasi dituntaskan dulu, sehingga harga pangan turun dengan sendirinya dan distribusi menjadi wajar?
Kalau jalan sudah terbuka, masyarakat bisa membawa hasil pertanian ke pasar. Harga barang tidak lagi setinggi langit. Ekonomi bergerak. Daya beli naik. Program sosial pun akan lebih mudah berjalan karena sistem dasarnya sudah kuat.
Masyarakat perbatasan bukan masyarakat yang lemah. Mereka kuat. Sejak Indonesia merdeka, Merah Putih tidak pernah berhenti berkibar di kampung-kampung mereka. Mereka merayakan kemerdekaan dengan bangga, bahkan sebulan penuh. Mereka menjaga negeri ini dengan hati, meskipun hidup dalam keterbatasan.
Mereka tidak banyak menuntut. Mereka hanya ingin diperhatikan secara adil.
Negara harus hadir nyata di Krayan, Apau Kayan, Lumbis, Bahau, dan Pujungan. Hadir dalam bentuk jalan yang bisa dilalui sepanjang tahun. Hadir dalam jembatan yang tidak hanyut setiap musim hujan. Hadir dalam kebijakan yang menempatkan kebutuhan paling mendasar sebagai prioritas.
Saya tetap yakin pemerintah mampu. Saya tetap percaya negara ini besar. Tetapi kebesaran itu harus terlihat sampai ke perbatasan, bukan hanya terasa di pusat.
Bangunlah jalan-jalan itu sampai tuntas. Fungsikan segera. Buka isolasi wilayah. Setelah itu, saya percaya rakyat akan bangkit sendiri. Mereka akan membangun hidupnya. Mereka akan menjaga negeri ini dengan lebih kuat lagi.
Sampai kapan kita menunggu?
Kalau tidak sekarang kita menata prioritas dengan benar, kapan lagi?
Kalau bukan kita yang berani mengambil keputusan yang tepat, siapa lagi?
Tulisan ini bukan keluhan. Ini suara hati. Suara dari perbatasan. Suara cinta untuk Indonesia.
Salam hormat untuk kita semua.
Dari YTP, untuk direnungkan demi keadilan pembangunan dan demi Indonesia yang benar-benar hadir sampai ke batas negeri. (***/lim)
Editor : Azward Halim