Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Akhlak

Azwar Halim • Rabu, 19 April 2023 - 10:27 WIB
Bimas Islam Kantor Kemenag Tarakan, Herman Aisa Pabittei, S.Ag
Bimas Islam Kantor Kemenag Tarakan, Herman Aisa Pabittei, S.Ag
Oleh: Herman Aisa Pabittei, S.Ag

SEGALA puji marilah kita haturkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai nikmat-Nya kepada kita sehingga sampai saat ini kita masih bisa beraktivitas kembali seperti hari-hari sebelumnya.

Salawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beliaulah sang penutup para nabi dan imamnya orang-orang yang bertaqwa serta suri tauladan bagi seluruh umat manusia.

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’id Radhiallahu ‘anhuma bahwasannya Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam kemudian berkata yang artinya “Ya Muhammad hiduplah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan mati, dan cintailah siapapun yang engkau mau tapi engkau akan berpisah dengannya, dan bekerjalah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan dibalas dengannya”

Hadits di atas mengandung tiga nasihat agung, pertama adalah (hiduplah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan mati) sebagian ulama’ berkata bahwasannya kalimat ini merupakan ancaman, penakut-nakutan, serta peringatan bahwasannya kita semua akan mati, hal ini sudah ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam firman-Nya yang artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati” (QS. Al-Ankabut: 57)

Sekarang setelah kita tahu bahwasannya setiap kita pasti akan mati, maka yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sudah siapkah kita untuk menghadap Dzat yang Maha Kuasa? Bekal apakah yang telah kita persiapkan untuk menghadapi persidangan-Nya? Apakah harta, pangkat dan kekuasaan, anak-anak kita yang sukses, istri kita yang cantik, atau gelar kesarjanaan yang menempel di nama kita? Apakah itu yang kita persiapkan untuk menghadapi persidangan Dzat Yang Maha Adil? Sungguh kita akan rugi besar jika hanya itu yang kita persiapkan untuk menghadapi pengadilan-Nya, bahkan kita akan celaka karenanya. Karena di akhirat kelak manusia akan ditanyai tentang empat perkara, tentang umurnya, untuk apa dia habiskan? Tentang hartanya, dari mana dia dapatkan serta di mana dia belanjakan? Tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan? Tentang ilmunya, untuk apa dia amalkan?

Itulah pertanyaan-prtanyaan yang akan dilontarkan kepada kita kelak, bukan berapa kekayaanmu? Bukan apa pangkatmu di tempat kerja atau organisasimu? Apakah kamu seorang sarjana, master, doktor, ataukah profesor?

Oleh karena itu mumpung kita masih hidup di dunia ini dan masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri marilah kita mempersiapkan bekal yang terbaik untuk bekal kita di akhirat kelak. Apa bekal yang terbaik itu? Bekal terbaik bagi manusia untuk menghadapi persidangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ialah hanya taqwa. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam surat Al-Baqarah ayat 197 yang artinya: “Berbekallah kamu karena sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Pesan yang kedua adalah (dan cintailah siapapun yang engkau mau karena sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya) di sini kita diperbolehkan mencintai siapapun yang kita mau namun perlu kita ingat juga bahwasannya kita akan berpisah dengannya. Baik itu perpisahan yang bersifat selamanya yang berupa kematian atau yang bersifat sementara seperti perpisahan kita dengan rekan kerja kita yang mendapat tugas untuk bekerja di tempat lain.

Oleh karena itu hendaknya kita di dalam mencintai seseorang itu sewajarnya saja jangan sampai kecintaan kita kepada seseorang itu melebihi kecintaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena salah satu ciri orang yang beriman adalah dia sangat mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala melebihi kecintaan dia kepada istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, dan yang lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala” (QS. Al-Baqarah: 165)

Karena dengan mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala melebihi selain-Nya kita akan merasakan nikmatnya iman sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda yang artinya “Tiga hal yang apabila seseorang itu memilikinya maka dia akan merasakan nikmatnya iman : hendaknya dia mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasul-Nya melebihi kecintaan dia kepada selain keduanya, hendaknya dia tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hendaknya dia tidak kembali kepada kekufuran (setelah dia beriman) seperti dia benci dilemparkan ke neraka”.

Dan nasihat Jibril yang ketiga adalah (dan bekerjalah sesukamu tapi sesungguhnya engkau akan dibalas dengannya) ini merupakan sebuah peringatan yang besar bagi kita bahwasannya kita semua sebagai manusia pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala apa yang telah kita lakukan di dunia ini.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga manusia diberi kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lain, karena manusia dianugerahi otak yang mampu berfikir sehingga manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Karena manusia adalah makhluk yang berakal sehingga manusia dituntut untuk berfikir dahulu sebelum dia melakukan suatu amalan atau perbuatan, apakah amalan ini bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau tidak?

Atau bahkan amalan tersebut termasuk amalan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa untuk mengerjakan amal sholeh agar kita tidak dikembalikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada tempat yang paling rendah yaitu neraka jahannam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam surat At-Tin ayat 4-6 yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin : 4-6). Wallahu A’lam Bish Shawab. (*/Pelaksana Penyusun Bahan Penerbitan Dakwah Seksi Bimas Islam Kemenag Tarakan)


Baca berita selengkapnya di Koran Radar Tarakan atau berlangganan melalui Aplikasi Radar Tarakan yang bisa di download di :

Photo
Photo




 

 

  Editor : Azwar Halim
#tausiah #ramadan