NUNUKAN - Kabut asap yang menyelimuti wilayah Nunukan beberapa hari terakhir dipastikan bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan kabut asap yang dirasakan masyarakat merupakan dampak dari sebaran asap dari wilayah provinsi tetangga.
Prakirawan Cuaca BMKG Nunukan, Rayhan mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan citra satelit selama tiga hari terakhir, wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) justru cenderung bersih dari sebaran titik panas (hotspot). Buktinya, pada 13 Oktober 2026, terdeteksi dua titik panas yang berada di wilayah Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan
"Dari pemantauan citra satelit dalam tiga hari terakhir, di wilayah Kaltara cenderung tidak terdeteksi adanya hotspot," ucap Rayhan, Kamis (15/10).
Dijelaskan, pergerakan asap lintas wilayah ini dipengaruhi dinamika pergerakan angin monsun Australia. Saat ini, angin monsun Australia bertiup dominan dari arah tenggara menuju selatan. Kondisi meteorologis ini memberikan dampak pada sebaran asap karhutla.
"Asap bergerak menuju wilayah-wilayah yang berada di sebelah utara titik kebakaran. Akibatnya, Provinsi Kaltara menjadi salah satu daerah yang menerima kiriman asap," jelasnya.
Dengan kondisi kabut asap yang terjadi di wilayah Nunukan, BMKG memastikan tingkat pencemaran udara di daerah ini masih tergolong aman dan belum masuk dalam kategori berbahaya. Itu berdasarkan data pemantauan parameter konsentrasi partikulat (PM2,5).
"Kualitas udara di Kabupaten Nunukan saat ini berada pada kisaran 15,5 hingga 55,4 mikrogram per meter kubik. Angka ini menunjukkan bahwa kualitas udara berada dalam skala sedang," bebernya.
Namun, pihaknya tetap mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, untuk tetap waspada dan mengurangi aktivitas luar ruangan jika paparan asap dirasa mulai mengganggu kesehatan.
"Kita terus mengimbau masyarakat juga diimbau untuk selalu memperbarui informasi cuaca dan kualitas udara resmi melalui saluran BMKG," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT