Menhan Sjafrie Tekankan Peran Ganda Yonif TP 881 di Perbatasan

Fijai RT • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 14:40 WIB
MENYAPA : Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyapa personel dalam kunjungan ke Yonif TP 881/Baratama Dharma, Jumat (2/10).
MENYAPA : Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyapa personel dalam kunjungan ke Yonif TP 881/Baratama Dharma, Jumat (2/10).

NUNUKAN – Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan pentingnya kesiapan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 881/Baratama Dharma dalam menjaga kedaulatan negara sekaligus membantu pembangunan masyarakat di kawasan perbatasan. Penegasan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Marshalling Area Yonif TP 881/Baratama Dharma di Kecamatan Sebuku, Nunukan, Jumat (2/10).

Kunjungan tersebut diawali dengan silaturahmi Menhan Sjafrie bersama Bupati Nunukan Irwan Sabri. Selanjutnya, Menhan menerima paparan dari Danyonif TP 881/Baratama Dharma mengenai kesiapan operasional satuan dan perkembangan situasi wilayah perbatasan. “Kalian adalah batalyon yang ada di perbatasan. Tentara Nasional Indonesia harus siap menghadapi ancaman di manapun untuk mengamankan dan mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Sjafrie dalam arahannya kepada prajurit.

Menhan menyebut keberadaan Yonif TP 881/Baratama Dharma memiliki tanggung jawab strategis karena menjadi salah satu satuan yang berada secara permanen di garis depan perbatasan darat negara. Karena itu, setiap prajurit dituntut memiliki kesiapan menghadapi berbagai dinamika dan potensi ancaman yang dapat mengganggu keamanan wilayah.

“Kalian harus siap menghadapi tantangan dan ancaman,” ujarnya.

Selain kemampuan tempur, Sjafrie menekankan Yonif TP juga memiliki fungsi teritorial pembangunan. Prajurit tidak hanya dituntut mampu menjalankan tugas pertahanan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat membantu masyarakat di sekitar satuan. “Sebagai batalyon teritorial pembangunan, prajurit dilengkapi peralatan dan keterampilan. Tujuannya agar rakyat di sekelilingmu merasa aman dan merasa nyaman atas kehadiran prajurit,” katanya.

Untuk menjalankan fungsi tempur, setiap prajurit diwajibkan menguasai tiga kemampuan dasar. Yakni menembak, patroli taktis, dan bela diri. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapan personel menghadapi berbagai situasi di wilayah perbatasan. “Sebagai prajurit tempur, setiap personel diwajibkan menguasai tiga kemampuan dasar utama: menembak, patroli taktis, dan bela diri,” jelas Sjafrie.

Di sisi lain, prajurit juga diarahkan menguasai kemampuan produksi seperti pertanian dan peternakan, termasuk keterampilan konstruksi dan pelayanan kesehatan. Kemampuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat ketika menghadapi berbagai kesulitan. “Menguasai keterampilan pertanian, peternakan, dan kesehatan adalah untuk membalas jasa rakyat di sekelilingmu,” tuturnya.

Dalam pengarahan itu, Menhan juga mengingatkan seluruh prajurit untuk memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI. Disiplin juga harus menjadi landasan dalam menjalankan setiap tugas, termasuk menjauhi berbagai bentuk pelanggaran yang dapat merusak nama baik institusi. “Jaga disiplin dan jauhi segala bentuk pelanggaran seperti judi online, minuman keras, maupun narkoba,” pesannya.

Sjafrie menegaskan bahwa pengabdian prajurit pada akhirnya harus bermuara pada terjaganya kedaulatan negara sekaligus terciptanya rasa aman bagi masyarakat. Kehadiran Yonif TP 881/Baratama Dharma di kawasan perbatasan diharapkan tidak hanya menjadi kekuatan pertahanan, tetapi juga bagian dari upaya membantu meningkatkan ketahanan masyarakat.

“Orang tua kalian adalah rakyat Indonesia. Orang tua kalian sudah mewakafkan kalian untuk menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia. Tugas prajurit hanya satu: menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membuat rakyat Indonesia aman dan nyaman,” pungkasnya. (jai)

 

Editor : Azward Halim
Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin Yonif TP 881/Baratama Dharma