Jumlah Kunjungan Wisman ke Nunukan Meningkat, Potensi Pariwisata Perbatasan Perlu Dioptimalkan

Asrullah RT • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 21:32 WIB
PENINGKATAN : Berdasarkan data BPS Nunukan, kunjungan wisatawan wisman pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan Juli 2026 lalu.
PENINGKATAN : Berdasarkan data BPS Nunukan, kunjungan wisatawan wisman pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan Juli 2026 lalu. 

NUNUKAN - Pergerakan wisatawan mancanegara melalui pintu keimigrasian di Nunukan menunjukkan perkembangan positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat 1.418 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan Juli 2026 yang sebanyak 1.235 kunjungan.

Perkembangan ini memperlihatkan tingginya mobilitas lintas negara melalui Nunukan sekaligus menunjukkan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari posisi strategis Nunukan sebagai wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.

Di sisi lain, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel dan akomodasi lainnya di Kabupaten Nunukan pada Agustus 2026 tercatat sebesar 23,58 persen. Artinya, secara sederhana sekitar 24 dari setiap 100 kamar yang tersedia terisi pada periode tersebut.

Sementara itu, Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) tercatat 1,25 hari. Angka ini menunjukkan bahwa masa tinggal tamu di akomodasi Nunukan masih relatif singkat.

"Perkembangan tersebut menghadirkan dua sisi yang menarik. Arus kunjungan wisman meningkat, tetapi tingkat hunian dan lama tinggal masih menyisakan ruang yang cukup besar untuk ditingkatkan," Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, Jumat (2/10). 

Dengan RLMT wisman memberikan catatan untuk membuat orang tidak sekadar datang, tetapi tinggal lebih lama. Dan sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Nunukan memiliki karakter pariwisata yang berbeda dengan banyak daerah lain di Indonesia. 

Pergerakan orang tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas wisata, tetapi juga dipengaruhi hubungan keluarga, perdagangan, pekerjaan, perjalanan lintas batas dan berbagai kepentingan lainnya. Karena itu, meningkatnya jumlah kunjungan melalui pintu keimigrasian merupakan potensi yang perlu diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih luas di dalam daerah.

“Pada Agustus 2026 tercatat 1.418 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat sekitar 14,82 persen dibandingkan Juli. Namun, rata-rata lama menginap masih 1,25 hari. Data ini memberikan gambaran bahwa tantangan kita bukan hanya bagaimana meningkatkan jumlah orang yang datang, tetapi bagaimana aktivitas kunjungan tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Nunukan,” jelasnya. 

Ia menegaskan, semakin lama seorang pengunjung berada di suatu daerah, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi, mulai dari penggunaan hotel dan penginapan, konsumsi makanan dan minuman, transportasi lokal, perdagangan, jasa perjalanan, hingga pembelian produk UMKM.

Untuk TPK hotel dan akomodasi lainnya yang tercatat 23,58 persen juga memberikan gambaran bahwa kapasitas akomodasi yang tersedia masih memiliki ruang untuk dimanfaatkan lebih optimal.

Hal ini penting karena sektor pariwisata tidak berdiri sendiri. Aktivitas wisata mempunyai keterkaitan dengan hotel dan penginapan, restoran dan kuliner, transportasi, perdagangan, ekonomi kreatif, serta UMKM.

Peningkatan jumlah kunjungan yang diikuti peningkatan lama menginap dan belanja pengunjung berpotensi menciptakan efek ekonomi yang lebih luas. "Karena itu, indikator keberhasilan pengembangan pariwisata Nunukan ke depan sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga berapa lama mereka tinggal dan seberapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Nunukan," bebernya. 

Sebatik dan Pariwisata Perbatasan Bisa Menjadi Kekuatan

Posisi Nunukan sebagai beranda Indonesia di perbatasan merupakan karakter yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan tersendiri. Pulau Sebatik, wisata alam, wisata bahari, kuliner lokal, budaya masyarakat perbatasan, produk UMKM hingga pengalaman berada di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia dapat dikemas menjadi daya tarik yang lebih terintegrasi.

Tantangannya adalah menghubungkan mobilitas orang yang sudah ada dengan produk wisata yang dapat dinikmati. Pengunjung yang awalnya datang untuk urusan keluarga, pekerjaan atau aktivitas lintas batas dapat memperoleh pilihan untuk menikmati kuliner, berbelanja produk lokal, mengunjungi destinasi, atau memperpanjang masa tinggal.

Dengan demikian, arus manusia yang melewati Nunukan dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian lokal. Perkembangan Agustus 2026 memberikan sejumlah hal yang dapat menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.

Pertama, diperlukan upaya untuk meningkatkan lama tinggal pengunjung. Dengan RLMT 1,25 hari, penyusunan paket perjalanan dua atau tiga hari yang menghubungkan Nunukan, Sebatik, wisata kuliner, wisata perbatasan dan destinasi lainnya dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan.

Kedua, konektivitas antardestinasi perlu terus diperkuat. Kemudahan transportasi, informasi perjalanan, kalender kegiatan, serta informasi destinasi akan menentukan kemudahan pengunjung menikmati Nunukan.

Ketiga, diperlukan penguatan event dan atraksi yang mempunyai daya tarik khas perbatasan. Agenda budaya, kuliner, olahraga, ekonomi kreatif maupun festival perbatasan dapat menjadi instrumen untuk mendorong kunjungan sekaligus memperpanjang masa tinggal.

Keempat, hotel, restoran, pelaku perjalanan dan UMKM perlu semakin terhubung dalam satu ekosistem. Peningkatan kunjungan akan memberikan dampak yang lebih besar apabila belanja pengunjung masuk dan berputar pada pelaku ekonomi lokal.

Kelima, promosi digital perlu diperkuat. Destinasi dan pengalaman wisata Nunukan harus semakin mudah ditemukan sebelum calon pengunjung tiba. Informasi mengenai transportasi, hotel, kuliner, destinasi, agenda kegiatan dan produk lokal perlu tersedia secara sederhana dan mudah diakses.

Kemudian, data statistik pada akhirnya tidak hanya diperlukan untuk melihat apa yang telah terjadi, tetapi juga menjadi bahan dalam menentukan arah pembangunan. Peningkatan kunjungan wisman pada Agustus menjadi momentum untuk melihat kembali peluang pariwisata Kabupaten Nunukan. 

Tantangan besarnya adalah bagaimana Nunukan secara bertahap dapat meningkatkan nilai ekonomi dari setiap kunjungan.

“Kita mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu posisi geografis sebagai wilayah perbatasan negara. Tantangannya adalah bagaimana mobilitas yang sudah tinggi dapat dikonversi menjadi aktivitas ekonomi lokal. Orang datang, tinggal lebih lama, makan di Nunukan, menggunakan jasa lokal, berbelanja produk UMKM dan mengunjungi destinasi kita. Di situlah data pariwisata dapat diterjemahkan menjadi peluang pembangunan ekonomi,” katanya. 

BPS Kabupaten Nunukan akan terus menyediakan data pariwisata secara objektif dan berkelanjutan sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

Data Agustus 2026 memberikan pesan yang cukup jelas: jumlah kunjungan meningkat, tetapi peluang untuk meningkatkan lama tinggal dan pemanfaatan akomodasi masih terbuka lebar.

"Ke depan, kolaborasi pemerintah daerah, pelaku pariwisata, hotel, restoran, transportasi, UMKM dan masyarakat menjadi penting agar peningkatan mobilitas melalui wilayah perbatasan dapat memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat Kabupaten Nunukan," pungkasnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
perbatasan wisman nunukan bps pariwisata