NUNUKAN - Tiga jembatan di wilayah Kecamatan Krayan Timur yang merupakan jalur Krayan–Malinau dalam kondisi memprihatinkan. Kondisi jembatan dinilai tak lagi mampu menopang aktivitas kendaraan roda empat terancam sulit melintas. Sebab, sebagian lantai dan kayu log penyangga telah lapuk.
Kondisi tersebut disampaikan Camat Krayan Timur, Marjuni. Di mana, warga bersama Pemerintah Kecamatan Krayan Timur memilih tidak menunggu. Itu dibuktikan dengan turun langsung memperbaiki jembatan melalui kerja bakti. Tujuannya, agar akses masyarakat tetap terbuka dan risiko kecelakaan dapat ditekan.
"Perbaikan jembatan ini merupakan inisiatif pemerintah kecamatan setelah melihat kondisi tiga jembatan yang sudah tidak layak dilalui kendaraan roda empat," ucap Marjuni.
Dijelaskan, tiga jembatan yang diperbaiki berada di jalur Krayan–Malinau. Diantao, Jembatan Sungai Pa Feriwen atau Paru Balang berukuran 4 x 6 meter. Kemudian, jembatan anak Sungai Simoang di ruas menuju Kantor Kecamatan Krayan Timur berukuran 4x3 meter. Serta jembatan anak sungai di simpang menuju Kantor Desa Pa Rangeb berukuran 4x4 meter.
Ia mengungkapkan, kondisi jembatan sebelumnya telah dilaporkan kepada pihak pelaksana pekerjaan perawatan Jalan Nasional Malinau–Krayan, khususnya jalur Long Umung. Hanya saja, penanganan belum dilakukan.
Sedangkan, di sisi lain, kondisi jembatan terus memburuk dan berpotensi membahayakan pengguna jalan. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan, terutama ketika kendaraan roda empat melintas.
Dan pemerintah kecamatan berkoordinasi dengan pelaksana perawatan jalan untuk mencari solusi. Dan salah satu kendala yang dihadapi adalah belum adanya pihak yang siap mengambil material kayu untuk kebutuhan perbaikan.
"Pemerintah kecamatan mengusulkan agar perbaikan dilakukan melalui kerja bakti dengan melibatkan masyarakat. Setelah mendapat izin dari pihak pelaksana pekerjaan perawatan jalan, kerja bakti dilakukan pada Selasa (15/9) dan dilanjutkan Jumat (18/9) lalu," bebernya.
Baginya, kerja bakti yang dilaksanakan sebagai langkah percepatan untuk mengantisipasi risiko kecelakaan. Serta, memastikan akses masyarakat tetap dapat digunakan sambil menunggu penanganan selanjutnya.
“Yang paling penting adalah keselamatan masyarakat. Karena kondisi jembatan sudah tidak layak, kami berupaya agar segera tertangani,” tutupnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT