Lahan 10 Hektare Disulap Jadi Ruang Edukasi dan Wisata, Lapas Nunukan Tarik Perhatian Balai TNKM

Asrullah RT • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 18:53 WIB
SARANA : Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, bersama Kalapas Nunukan Donny Setiawan didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Gusta Fitriadi Adi dan Kepala SPTN Wilayah I- Balai TNKM, Hery Gunawan saat berada di depan tugu mandau, SAE Lanuka.
SARANA : Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, bersama Kalapas Nunukan Donny Setiawan didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Gusta Fitriadi Adi dan Kepala SPTN Wilayah I- Balai TNKM, Hery Gunawan saat berada di depan tugu mandau, SAE Lanuka. 

NUNUKAN - Pemanfaatan lahan yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nunukan mendapatkan perhatian Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Seno Pramudito. Bagaimana tidak lahan yang sebelumnya dipandang biasa dapat berkembang menjadi ruang produktif sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Kalapas Kelas IIB Nunukan Donny Setiawan mengatakan, kawasan yang dimanfaatkan untuk kegiatan sarana asimilasi dan edukasi (SAE) Lapas Nunukan memiliki luasan sekitar 10 hektare.  Lahan itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan sarana pembinaan sekaligus ruang yang memiliki nilai manfaat.

Karena itu, keberadaan SEA Lanuka diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan aspek pembinaan, edukasi dan pemanfaatan lingkungan secara produktif. “Lahan ini digunakan untuk kegiatan sosialisasi dan edukasi, baik untuk kegiatan pembinaan warga binaan maupun kegiatan wisata masyarakat,” ucap Donny Setiawan, Rabu (16/9).

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Seno Pramudito, bersama Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Gusta Fitriadi Adi dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I- Balai TNKM, Hery Gunawan, saat mengunjungi SEA Lanuka mengaku menarik perhatiannya.

Ia menilai apa yang dilakukan Lapas Nunukan menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya mungkin belum terlihat memiliki nilai wisata dapat dikembangkan menjadi kawasan yang memberikan manfaat lebih luas.

"Kami melihat langsung pemanfaatan kawasan Lapas Nunukan yang dikembangkan tidak hanya untuk mendukung kegiatan pembinaan warga binaan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang edukasi, rekreasi dan wisata yang dapat dinikmati masyarakat," jelasnya. 

Baginya, di SAE Lanuka selain aktivitas yang berkaitan dengan pembinaan, kawasan tersebut juga memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan. Mulai dari perikanan, akuakultur hingga peternakan, pengelolaan berbagai sektor tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana lahan dapat dimanfaatkan secara terpadu.

“Di sini kita bisa belajar banyak, lahan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu produktif, sekarang bisa menjadi produktif dan bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar,” kata Seno.

Kemudian, dari sisi lingkungan, kawasan SEA Lanuka juga menawarkan pemandangan yang menjadi nilai tambah. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama laut serta melihat sejumlah wilayah kepulauan di sekitar Nunukan dan Sebatik.

Baginya, pengalaman Lapas Nunukan dalam mengembangkan kawasan tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam melihat potensi sebuah lahan dari perspektif yang lebih luas.

“Ini juga menjadi panduan bagi kami dalam mengimplementasikan pemanfaatan lahan untuk kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai wisata dan edukasi, kadang kita melihat suatu kawasan tidak berpotensi, tetapi ternyata masih bisa berkembang menjadi potensi,” tuturnya.

Ia menegaskan, kedatangannya di SAE Lanuka membuka ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana sebuah kawasan dapat dikembangkan secara bertahap dengan mengoptimalkan potensi yang tersedia. 

"Bagi TNKM, pembelajaran menjadi bagian penting dalam melihat pengelolaan kawasan tidak hanya dari sisi konservasi, tetapi juga dari sisi edukasi dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat," pungkasnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
ruang edukasi nunukan wisata lapas