Perkuat Pencegahan Karhutla, Upaya Balai TN Kayan Mentarang Menjaga Rumah Satwa dan Sumber Kehidupan

Asrullah RT • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 20:47 WIB
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Seno Pramudito
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Seno Pramudito

NUNUKAN - Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) terus berupaya mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki musim kemarau. Langkah ini bertujuan untuk menjaga hutan yang merupakan rumah bagi satwa liar sekaligus sumber kehidupan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam secara turun-temurun.
 
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito mengatakan, secara umum, kebakaran dalam kawasan TNKM, khususnya dalam skala besar, bukan merupakan kejadian yang umum. Kondisi hutan yang masih relatif baik dengan kelembapan cukup tinggi menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kawasan dari ancaman kebakaran.

Meski demikian, potensi risiko tetap perlu diwaspadai, berdasarkan pemantauan petugas, potensi kebakaran lebih banyak berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan di sekitar kawasan. Itu dibuktikan dengan temuan petugas atas dua titik kebakaran lahan di sekitar kawasan TNKM pada SPTN Wilayah I.

"Kebakaran tersebut diketahui berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan. Petugas kemudian segera melakukan penanganan di lapangan sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat agar penggunaan api dilakukan secara hati-hati dan terkendali," ucap Seno Pramudito, Jumat (11/9). 

Dijelaskan, langkah yang dilakukan menjadi bagian dari upaya pencegahan agar api tidak berkembang dan merembet menuju kawasan taman nasional.  Sebab, bagi Balai TNKM, menjaga kawasan dari karhutla berarti menjaga keberlangsungan ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.

"Apabila kebakaran meluas, tutupan hutan primer maupun sekunder dapat mengalami kerusakan. Dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, tetapi juga rusaknya tempat satwa berlindung, berkembang biak dan mencari makanan," bebernya. 

Ia menegaskan, kerusakan vegetasi juga dapat mengganggu rantai makanan yang selama ini berjalan secara alami di dalam ekosistem hutan. Dan satwa yang kehilangan habitat dan sumber makanan dapat terdorong berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam kondisi kebakaran yang lebih besar, satwa juga dapat menghadapi ancaman langsung. Pergerakan mereka bisa terganggu api, sementara kepungan asap pekat berpotensi mengganggu pernapasan.

Namun, jika kebakaran masih berskala kecil dan tidak masuk jauh ke kawasan TNKM, dampaknya terhadap habitat satwa relatif dapat dibatasi. Karena itu, mencegah api sejak awal menjadi langkah yang jauh lebih penting dibandingkan menunggu kebakaran membesar.

"Untuk mengantisipasi potensi karhutla, Balain TNKM terus melakukan pemantauan kondisi kawasan. Pemantauan titik panas dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi SiPongi dari Kementerian Kehutanan," ucapnya.

"Ketika ditemukan informasi mengenai titik panas, asap, atau indikasi kebakaran, petugas dapat melakukan pengecekan langsung ke lapangan atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya," tambahnya. 

Dan untuk memaksimalkan penanganan, posko-posko pengendalian dibentuk di tingkat resort untuk memperkuat pemantauan dan memudahkan respons apabila terjadi kebakaran. Pendekatan yang dilakukan Balaj TNKM tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi lebih mengutamakan pencegahan dan deteksi dini.

"Upaya menjaga TNKM tidak dapat dilakukan sendiri  petugas, masyarakat adat memiliki peran penting karena telah hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun dan memiliki pengetahuan lokal dalam mengelola lingkungan," pesannya. 

Dalam aktivitas perladangan, masyarakat juga mengenal berbagai cara untuk mengendalikan penggunaan api. Termasuk pembuatan sekat bakar alami agar api tidak mudah menjalar.

Upaya komunikasi dengan masyarakat desa penyangga terus diperkuat. Masyarakat yang tinggal paling dekat dengan kawasan sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika muncul asap atau api.

"Karena itu, masyarakat bukan hanya menjadi penerima himbauan, tetapi juga bagian penting dari sistem perlindungan kawasan. Untuk memperkuat peran tersebut, Balai TNKM telah membentuk Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di sejumlah lokasi. Kehadiran MMP diharapkan semakin memperkuat sinergi masyarakat dan petugas dalam menjaga kawasan konservasi" tutupnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla Taman Nasional Kayan Mentarang nunukan