FKUB Nunukan Dorong Kerukunan Lintas Agama dan Suku dari Sebuku

Asrullah RT • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 06:36 WIB
KEKELUARGAAN : Wakil Bupati Nunukan, Hermanus saat membuka dialog kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Nunukan di Balai Kesenian Rakyat (BKR) Desa Kunyit, Kecamatan Sebuku. 
KEKELUARGAAN : Wakil Bupati Nunukan, Hermanus saat membuka dialog kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Nunukan di Balai Kesenian Rakyat (BKR) Desa Kunyit, Kecamatan Sebuku. 

NUNUKAN - Kerukunan antarumat beragama tidak cukup dibangun melalui slogan, tetapi membutuhkan komunikasi yang terus dijaga serta kemauan untuk saling mendengar ketika perbedaan muncul. Pesan itu disampaikan dalam Dialog Kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Nunukan di Balai Kesenian Rakyat (BKR) Desa Kunyit, Kecamatan Sebuku, Selasa (8/9).

Mengangkat tema 'Membangun Persaudaraan Tanpa Batas Perbedaan Agama dan Suku', pertemuan ini menjadi ruang bagi pemuka agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda dan unsur pemerintahan untuk membicarakan pentingnya menjaga hubungan sosial di tengah keberagaman masyarakat.

Wakil Bupati Nunukan, Hermanus menilai pertemuan yang berlangsung di Desa Kunyit penting, karena masyarakat tidak hanya berkumpul dalam sebuah acara, tetapi memiliki kesempatan untuk saling mendengar dan memahami.

“Kalau ada perbedaan, mari kita bicarakan dari hati ke hati. Kalau ada persoalan, mari kita selesaikan dengan suasana kekeluargaan dan penuh kasih,” ucap Hermanus.

Ia menilai keberagaman justru dapat menjadi modal sosial dalam pembangunan daerah apabila dikelola dengan komunikasi dan sikap saling menghargai.
Bagi pemerintah daerah, kerukunan bukan semata-mata tugas pemerintah maupun FKUB. 

"Masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menjaga suasana kehidupan sosial agar tetap harmonis. Kerukunan bukan hanya tugas pemerintah atau FKUB, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.

Ia berharap dialog tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan sehari. Tetapi menghasilkan kebiasaan untuk terus membangun komunikasi antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat, khususnya di Kecamatan Sebuku dan Kabupaten Nunukan secara umum.

Sementara, Ketua FKUB Kabupaten Nunukan, H. Hermansyah, menegaskan bahwa keberagaman agama bukan alasan untuk membangun jarak. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan menjaga daerah tetap aman serta kondusif.

Menurutnya, FKUB merupakan wadah yang mempertemukan tokoh-tokoh dari berbagai agama yang hidup di Kabupaten Nunukan. Di dalamnya terdapat unsur pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha hingga Konghucu yang memiliki peran menyampaikan pesan-pesan perdamaian sekaligus memperkuat komunikasi di tengah masyarakat.

"Kerukunan itu tidak akan bisa terwujud kalau tidak ada dukungan dari pemerintah daerah," ucap Ketua FKUB Nunukan, Hermansyah.

Karena itu, FKUB terus melakukan kunjungan dan dialog ke berbagai wilayah untuk membangun pemahaman bersama bahwa menjaga kerukunan bukan hanya pekerjaan satu kelompok atau lembaga tertentu.

"Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama mempertahankan Nunukan sebagai daerah yang aman, rukun dan damai. Komunikasi lintas agama menjadi penting agar setiap persoalan yang berpotensi mengganggu hubungan sosial dapat dibicarakan sebelum berkembang menjadi konflik," tutupnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kerukunan lintas agama nunukan kerukunan antar etnis fkub